Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

21 November 2014

Resensi Buku : Seri Lima Sekawan : Karang Setan by Enid Blyton


Judul Buku : Lima Sekawan : Karang Setan
Judul Asli : Five go to Demon’s Rock
Pengarang : Enid Blyton
Penerjemah : Agus Setiadi
Terbit : Cetakan ke 16, September 2012
ISBN : 978-979-22-7791-3

Anne, Dick, Julian, George, dan Timmy - si anjing, berlibur di karang setan karena Paman Kirrin dan temannya yang seorang profesor harus mengerjakan penelitian. Bagi kedua orang itu, anak-anak hanya akan membuat keributan di rumah. Maka lima sekawan menjatuhkan pilihan ke Karang Setan. Di sana ada mercusuar yang sudah tak terpakai milik Si Utik, anak profesor Hawling.
Paman Kirrin dan Profesor Hawling tak keberatan anak-anak menginap di tempat sepi itu. Tapi ibu George tak ingin mereka menantang bahaya, maka disuruhnya anak-anak mengirimkan kartu pos setiap hari untuk memberikan kabar.

Awalnya tak terjadi apa-apa. Mercusuar itu sepi dan bila air pasang perahu harus dinaikkan agar tidak hilang tersapu ombak. Namun, kejadian aneh mulai terjadi saat anak-anak tahu ada seseorang yang mencuri kunci pintu mercusuar bersamaan dengan hilangnya dompet dan barang-barang lainnya. Mereka merasa harus berjaga, saling bergantian agar tak ada orang jahat yang masuk.
 
Dari cerita seorang tua bernama Jeremiah Boogle, ada dua orang keturunan pencoleng yang masih tinggal di daerah sekitar mercusuar. Keduanya bernama Ebenezzer dan Jacob yang merupakan keturunan pencoleng bernama One-Ear-Bill. Mercusuar lama yang digunakan lima sekawan dulunya adalah mercusuar utama. Tapi sejak ada kejadian perampokan yang dilakukan para pencoleng dengan menggunakan karang setan sebagai modus, banyak kapal menabrak karang dan harta kapal hilang entah ke mana. Keberadaan harta itu menghilang bersama meninggalnya One-Ear-Bill. Tapi ebenezzer dan Jacob masih sering penasaran mencari harta itu, meski mercusuar baru telah lama didirikan.

Bell dalam mercusuar yang tak pernah dibunyikan itu kini jadi lonceng yang menderu terterpa angin  laut. Suaranya melengking. Lampu suar yang tak pernah terpakai lagi akhirnya digunakan dalam keadaan darurat. Sebenarnya apa yang terjadi di mercusuar itu? Dapatkah mereka menemukan harta karun yang terpendam di sana?

***
Kisah Lima Sekawan kali ini bertema tentang perburuan harta karun, seperti yang sering ada di seri buku ini. Namun bedanya, setting lokasi yang berada di mercusuar membuat pembaca dimanjakan dengan detailnya yang lengkap. Meski bisa dibilang endingnya kurang greget, tapi saya suka detail settingnya juga cara Anne mengelola keuangan agar anak-anak bisa tetap makan dan minum meski perbekalan mereka habis. Kalau ada mercusuar seperti yang dimiliki si Utik, mungkin kita bisa bermain di sana. Seru kan menikmati deru angin di menara paling tinggi. Overall, 4 bintang untuk buku ini. ;)

1 comment:

  1. sudah baca, tapi belum selesai, menurut saya alur ceritanya menarik dan membuat penasaran, hanya saja cara penyampaiannya kurang membumi menurut saya, nuansa "bahasa translate"-nya masih kuat, apalagi nama karakter tamunya... utik... :)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^