Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

24 January 2017

[Resensi Buku] Cinta 4 Sisi by Indah Hanaco


Judul Buku : Cinta 4 Sisi
Pengarang : Indah Hanaco
Penerbit : Grasindo
Terbit : Cetakan ketiga, Februari 2015
Tebal : 264 hlm.
ISBN : 978-602-251-896-9

Baca di Scoop Premium

Resensi Buku :

Violet dan Queen menjadi dua orang yang patah hati saat pasangan mereka justru saling jatuh cinta dan menunjukkan sikap simpati. Bukan sebagai sahabat lama yang bertemu kembali, tapi ada nada kekaguman yang muncul di wajah Jeffry, kekasih Violet setiap ia menyebutkan nama Eirene di hadapan Violet. Mata Jeff memang sering tak fokus saat berhadapan dengan perempuan cantik. Tapi baru kali ini Violet merasakan kejanggalan yang sangat dalam. Ada apa dengan kekasihnya sehingga ia merasa aroma cemburu yang teramat sangat pada perempuan itu? Tak ada inisiatif dari Jeffry dan Eirene untuk memperbaiki situasi, yang ada justru mereka semakin sering bertatap muka setelah bertemu di resepsi pernikahan sahabat SMA-nya.

Violet tak tinggal diam. Ia merasa perlu berbicara serius mengenai kedekatan Jeff dengan Eirene. Namun Jeff menyanggah bahwa mereka hanya bersahabat sejak SMA. Sebuah pertemuan tak sengaja terjadi antara Violet dan Queen. Violet yang ingat bahwa Queen adalah kekasih Eirene mendadak heran kenapa Queen ingin sekali mereka bertemu lagi untuk membicarakan suatu rencana. Recana yang sungguh janggal namun berpotensi membuat kekasih mereka kembali ke pelukan masing-masing. Eirene akan kembali pada Queen, dan Jeff akan fokus pada Violet.

Pertemuan demi pertemuan terjadi. Violet menyanggupi rencana yang dibuat Queen. Mereka akan berpura-pura saling jatuh cinta dan menunjukkannya di kedua orang tersebut. Tak disangka, permainan iseng ini justru membuat Violet dan Queen semakin jauh ke dalam pusaran permainan. Siapa yang akan menang? Siasat Violet dan Queen atau mereka justru membuat percikan api cinta semakin membara?

***

Ini kali ke sekian saya baca novel mba Indah Hanaco. Novel yang terakhir saya baca sebelum ini adalah Love in Pompeii. Cinta 4 Sisi yang saya baca ini sudah cetak ulang sebanyak 3 kali. Wow banget ya? Karena label best seller di depan cover inilah yang membuat saya penasaran dan ingin tahu bagaimana ceritanya. Surprise, buat saya kisah ini manis sekali. Beberapa kali baca karya Indah Hanaco jadi tahu bahwa ia memang selalu menyajikan cerita dengan ending yang bahagia. Jadi saya nggak kaget juga kalau ceritanya akan membekas seperti ini.

Saya penasaran pada jalan cerita novel Indah Hanaco yang saya baca kali ini. Bagaimana Indah Hanaco mengemas cerita cinta 4 orang manusia yang saling jatuh cinta menjadi sebuah kisah yang tak jatuh ke dalam label picisan. Namun penuh dengan sweet things yang berbeda dibanding di novel penulis lainnya. Meskipun sikap Queen kadang terkesan lebay dan Violet terlihat labil. :D 

Ada satu cerita tentang sahabat Violet yang terkena kekerasan fisik oleh kekasihnya dan Violet membantu untuk memberi nasihat. Di dunia nyata ada banyak kekasih yang justru merasakan kekejaman lelaki yang dicintai. Dan mereka tak segan untuk menutup kasus tersebut, tidak mengadukan ke polisi hanya karena kasihan atau masih cinta. Kekerasan fisik tak bisa didiamkan. Indah Hanaco menyisipkan kisah itu dalam novel Cinta 4 Sisi untuk menunjukkan bahwa perempuan seharusnya tahu bagaimana cara untuk bahagia. Bahagia dengan cara yang normal. Jatuh cinta tanpa terkena kekerasan fisik, maupun verbal.

Karakter tokohnya sangat manis, misalnya Queen yang sering mengajak jalan ke luar untuk menghabiskan waktu bersama Violet. Juga saat Queen dan Violet saling bertukar data tentang diri mereka. Mereka jadi tahu apa kesukaan masing-masing, apa yang tidak disukai. Selama ini Jeff dan Violet hampir tak pernah melakukan hal itu, mendiskusikan tentang sifat yang disukai dan tidak disukai dari pasangan sehingga hanya Violet yang merasa Jeff perlu berubah, tapi Jeff tak kunjung menunjukkan reaksi yang sesuai dengan keinginan Violet. Jeff yang membiarkan cinta bertumbuh tanpa perlu dipupuk agar subur, namun justru sering menunjukkan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan Violet.

Saya nggak bisa bayangin kalau Violet tetap bertahan dengan lelaki playboy begitu, yang tiap kemana-mana matanya selalu melirik perempuan lain. Haha. Kalau saya jadi Violet juga bakalan mending udah nggak usah komunikasi lagi. Bye! :P Ya gimana nggak kesel ya, lha sudah komitmen dengan satu cinta tapi kok ada perempuan lain tetep aja perhatiannya mudah berpaling. Komitmen, kesetiaan, adalah harga yang mahal untuk sebuah hubungan jangka panjang. Jika keduanya tak ada, apalah arti cinta jika tidak saling mengimbangi satu sama lain. Dalihnya sih cuma sahabatan, nggak tahunya... ;))

Violet meski awalnya terkesan seperti perempuan yang tak setia karena menerima rencana Queen untuk saling terlihat jatuh cinta, tapi lucunya hal itu tak tampak di wajahnya. Masih terasa kaku meski kemudian situasi mulai mencair. Bagian paling cute, waktu Violet dan Queen bertemu setelah sekian lama. Bener-bener gokil, penampilan Violet pagi itu seperti apa ya. Hihi. :D Trus, sahabat Violet juga lucu banget waktu Queen dateng. Reaksi mereka emejing. Haha. Lagu-lagu jadul zaman tahun 90’an juga menemani pembaca membuat suasana romantis kian terasa di setiap perpindahan bab. Overall, 3,5 bintang untuk kisah ini. 

2 comments:

  1. kayaknya bagus dech ceritanya..finally paling ga suka juga kalau ada cowo yang belum apap udah kasarin cewenya apalagi udah nikah jadi samsak kali..

    ReplyDelete
  2. Aku juga penggemar karya-karyanya ka Indah Hanaco, sangat, meski ga banyak koleksiku. Pernah disatu kesempatan aku tanya-tanya ke ka Indahdi twitter tentang ending yang diambil. Dan sebenernya ka Indah pernah buat novel yang endingnya sad, judulnya Love Letter. Aku nyari udah susah juga, dan udah ga terbit lagi. Kata ka Indah perlu mikir-mikir lagi (enggak dulu deh) buat ambil sad ending, soalnya sedihnya kebawa terus-terusan kata ka Indah, dan aku jadi penasaran.

    Label persahabatan beda gender itu emang ya, bikin iri pasangan masing-masing. Rasanya agak aneh juga kalo diantara persahabatan seperti ini ga ada perasaan yang timbul.

    Buat Violet, cowok kayak Jeffry itu ga pantes buat diperjuangin, harusnya diuwel-uwel terus lempar ke tong sampah, playboy cuma manis di mulut. Hehehe, mangap kok jadi kebawa esmosi gini :D :D

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^