Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

6 January 2017

[Resensi Buku] Daisuki Da Yo Fani-chan by Winda Krisnadefa


Judul Buku : Daisuki Da Yo, Fani-chan
Pengarang : Winda Krisnadefa
Penerbit : Qanita
Terbit : Juni 2014
Tebal : 300 halaman
ISBN: 978-602-1637-36-4

Fani
Aku sama sekali tak punya keinginan untuk kembali bekerja di hotel, sejak job training-ku di masa kuliah dulu. Ada sesuatu yang membuatku tak pernah ingin kembali ke hotel, sebagai tamu, apalagi sebagai pekerjanya. Terlalu sakit untuk mengingatnya kembali. Nama Lana dan Ogi kembali mengangguku. Kupikir aku sudah bisa melupakan kejadian itu. Yang jelas, untuk sekarang ini dan entah sampai kapan, aku tidak mau terlibat hubungan cinta, whatsoever! Lho? Kok jadi ngomongin cinta? Argh! Lupakan!

Tanabe
Saya suka Fani-chan. Dia cantik dan pintar. Tapi entah kenapa, sulit sekali membuatnya terbuka tentang perasaannya pada saya. Dia seperti menahan sesuatu dalam hatinya. Saya tahu dia juga menyukai saya, tapi mengapa begitu berat mengungkapkan itu pada saya? Padahal saya sudah begitu jujur dan terbuka. Ini membuat saya terus bertanya-tanya. Ada apa dengan kamu, Fani-chan?

Resensi Buku :


Dilema masa lalu menghantui gadis bernama Fani, perempuan yang kini bekerja sebagai resepsionis di sebuah perusahaan Jepang yang berada di Indonesia, Misako and Co., Ltd. Fani tak menyangka akan mendapatkan teman sebawel Anis alias Onis yang rame, mata duitan dan suka mengencani atasannya yang orang Jepang.

Sejak bekerja bersama dengan Onis, Fani mendapatkan pengalaman baru tentang bagaimana bekerja di perusahaan yang notabene memiliki nilai budaya perusahaan seperti yang biasa orang jepang lakukan. Budaya bergegas, detail dan cermat saat menjadi resepsionis yang harus mengantarkan tamu ke meeting room, mengecek email, menerima paket dari kurir, dan memilah semua surat yang datang.

Pekerjaan menjadi resepsionis menjadi pekerjaan pertama Fani, padahal dulu ia lulusan sekolah perhotelan. Sangat berbeda jauh dari pekerjaan ia sekarang. Namun, semua itu bisa diambil celahnya oleh Fani dan Onis. Fani membantu Onis keluar dari jam kantor ketika Onis ada janji kencan dengan pacar-pacarnya yang orang bule dan tajir, padhal Onis sudah punya pacar, Deni. Fani menutupi kelakukan Onis yang di mata banyak orang kantor sangat tidak baik. Bagi Fani, Onis sahabat yang baik.

Dulu Fani sempat memiliki sahabat dan cinta pun hadir di antaranya. Saat ia sedang job training di sebuah hotel di Singapura. Namun, sebuah kejadian membuatnya menghindari Ogi dan ingin melupakan trauma yang melibatkan sahabatnya, Lana. Fani tak mau jatuh cinta, apalagi punya sahabat. Baginya kedua hal itu menorehkan luka yang dalam di hatinya. Fani sangat menjaga jarak pada teman-temannya, pendiam dan lebih suka menjadikan mereka sebagai parter kerja. Tak terkecuali pada Tanabe-san.

Tanabe-san, atasan Fani di kantor sangat respek dengan Fani sejak menandatangani kontrak kerja. Namun Fani memilih menghindarinya. Tak disanga Tanabe-san justru semakin penasaran apakah Fani suka padanya, apakah Fani sudah punya pacar?

Sebuah insiden yang dibuat Onis membuat Fani memilih mundur dari jabatannya sebagai resepsionis saat ia sudah mulai merasa nyaman dengan Tanabe-san. Apakah Fani akan menghindari lelaki Jepang yang jatuh cita padanya itu?

***

Kisah hidup Fani jungkir balik di perusahaan Jepang menarik untuk diikuti, dimulai dari ia kenalan dengan Tanabe dan memiliki rival sekretarisnya, Dian. Juga partner kerja yang ajaib Onis. Persahabatan yang aneh antara Onis dan Fani membuat saya sering tertawa mendengar kisah mereka menjalani hidup sebagai resepsionis.

Tak banyak kisah romantis di buku ini, jadi porsi Tanabe-san dan Fani memang sedikit. Lebih banyak cerita seputar pekerjaan dan tingkah Fani-Onis menghapi para rekan dan bosnya. Ada juga kisah lainnya yaitu masa lalu Fani saat ia masih on job training di Singapura.

Paling suka sama partnya Ogi, Lana dan Fani waktu mendapatkan pengalaman seru mereka selama bekerja magang di hotel Singapura. Kejadian pas pertama kali mereka datang itu, lucu banget. Pas mereka malah nggak bawa paspor ke hotel, tapi malah ditinggal di kamar apartemen. Haha. Bener-bener polos deh. :p

clarke quay, singapura tempat Ogi dan Fani suka keluyuran :)) (doc : https://id.pinterest.com/pin/463730092853468029/)

Trus inget Miss May yang bawelnya minta ampun, sampai bikin saya ikutan ngerasa deg-degan sambil mikir apa lagi ya yang bakalan diomelin sama si miss ini? ;)) Abis dia bawel banget sama anak kemarin sore. Mungkin karena traumanya ngurusin anak-anak Indonesia yang bikin riweuh dengan kabur liburan ke Malaysia dan pulang ke Indonesia.

Cerita Fani di masa depan dan masa lalu dikisahka secara bergantian dengan alur maju mundur sehingga membuat pembaca seperti saya awal membacanya bingung. Eh, ini kok lanjutannya ini? Ternyata memang beda bab beda cerita. Flashback ke masa lalu, maju ke masa depan. Begitu seterusnya. 

Chemistry dua tokoh utamanya masih terasa kurang, jadi porsi romancenya sedikit. Meski memang benar sih, lelaki Jepang sulit memberikan sikap romantis bagi pasangannya, terasa kaku dan sangat workaholic. Novel ini lebih mendetailkan tentang bagaimana cara Fani berdamai dengan masa lalunya, menerima orang yang berbeda pandangan dalam hidupnya dan menjalani hidup sebagai resepsionis. Overall, 2,5 bintang untuk buku ini.



No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^