Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

8 January 2017

[Resensi Buku] Dua Kodi Kartika - Rendy Saputra


Judul Buku : Dua Kodi Kartika
Penulis : Rendy Saputra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2015
Tebal : 280 hlm.
ISBN : 978-602-03-1444-0
Baca via Scoop Premium


Dua Kodi Kartika ditulis oleh Rendy Saputra, CEO KeKe Busana. KeKe Busana merupakan merk produk baju anak muslim. Dua Kodi Kartika bertutur tentang bagaimana KeKe Busana berkembang dari nol sampai kini memiliki jaringan pemasaran di seluruh Indonesia. Dimulai dari dua kodi baju yang dibeli oleh Bunda, sebutan bagi perempuan bernama Ika Kartika yang merintis usaha ini dari tahun 1998.

Saat tahun 1998, krisis moneter melanda. Keuangan pemerintah dan masyarakat menipis. Banyak perusahaan gulung tikar, termasuk teman bunda yang menawari bunda untuk order baju di usaha konveksinya agar usahanya tetap bertahan di tengah terpaan badai. Inilah yang bunda lakukan. Ia memesan dua kodi baju lalu dipasarkan di tanah abang, dititipkan pada para penjual yang mau menerima konsinyasi Tak disangka dari situlah awal mula bisnis yang dibangun bunda. Sejak itu, KeKe Busana berkembang pesat dan mengalami pasang surut seiring tahun berganti.

KeKe Busana melahirkan banyak inspirasi yang dituangkan oleh Rendy Saputra, CEO KeKe Busana di buku ini. Awalnya Rendy hanya magang di KeKe Busana sebagai konsultan marketing. Kemudian, ia diamanahi membawahi bagian marketing secara langsung. Bahkan ditunjuk sebagai CEO. Rendy bertumbuh dengan nasihat-nasihat bunda tentang bagaimana bisnis, budaya perusahaan, nilai-nilai yang dianut KeKe hingga bisa ditularkan pada seluruh jaringan baik pemasaran maupun produksi.

Ada 40 kisah pelajaran hidup bunda yang dituangkan di buku ini. Apa saja itu?


Dalam bab “Kepakan Sayap”, Rendy mengisahkan bagaimana Bunda dan Ayah, pemilik KeKe Busana berjuang saling bahu membahu untuk menyelesaikan tugas di KeKe. Keduanya bersinergi setelah KeKe dirasa sudah membutuhkan bantuan ayah lebih jauh. Padahal dulunya ayah bekerja sebagai peneliti. Sebelumnya ayah dipesani oleh seorang pedagang china yang da temui di tanah abang. Pedagang itu mengatakan bahwa “Dik, kalau mau maju, harus kerja bareng istri.” Maksudnya keduanya harus serius untuk mendalami bisnis KeKe Busana lebih jauh. Karena itu ayah dan bunda pun resign dari pekerjaan sebelumnya. Bunda dulu bekerja jadi sekretaris direksidi Tiga Raksa dan ayah di penelitian geologi.

Dalam bab “Kekuatan Alasan”, ada dua daya yang berpengaruh pada kuat tidaknya seseorang melakukan sesuatu. Pertama karena visi, kedua karena alasan. Alasan yang kuatlah yang Rendy lihat dalam diri Bunda. Bunda dengan segala keinginan kuatnya untuk menyekolahkan anaknya hingga bisa kuliah semuanya di luar negeri membuat ia mau berjibaku menyelesaikan semua pekerjaan di KeKe Busana. Padahal saat itu Bunda masih melakukan bisnis sendiri. Seiring waktu mulai memperbanyak karyawan dan menambah rumah produksi. Hingga bisa membeli rumah di kanan kiri rumah bunda yang dulu dijadikan rumah produksi utama.

Alasan pula yang membuat bunda melakukan efisiensi di banyak hal. Misal pekerjaan luar kota bisa diselesaikan 1 orang, tak perlu 4 karyawan yang datang. Wew, buat saya ini amazing. Bener-bener kerja keras banget. :)) Bahkan Redy sampai harus ekstra kerja keras. 3 hari muker, 5 hari di Jepang, setelah dari Jepang, baru turun dari pesawat langsung lanjut perjalanan ke Bogor tengah malam untuk bahas evaluasi hasil muker. Amazing banget kan? :p


“Terjawab sudah, ketika Anda merasa cepat lelah atau bahkan kehilangan energi, mungkin Anda tidak memiliki alasan untuk melakukannya. Jika Anda tak bersemangat bekerja atau masuk kantor, mungkin Anda memang tidak memiliki alasan untuk bekerja di tempat itu. Makin kuat alasan Anda dalam melakukan suatu hal, makin besar energi yang akan menyeruak untuk melakukannya. Makin dalam alasan Anda untuk melakukan sesuatu, makin hebat aksi Anda dalam melakukannya.” (hlm. 52) 
“Tanpa alasan yang kuat, kerja kita tak akan hebat” (hlm. 53)

Dalam bab “Ayam kampung, bukan ayam potong” Bunda mengatakan “Naik pelan-pelan, terukur terencana. Nggak perlu bombastis, yang penting terus lebih baik. Lama nggak papa, asal kokoh dan kuat.” (hlm. 144) Bunda lebih mementingkan kekokohan bisnis ketimbang persepsi orang lain. Untuk apa besar dalam persepsi, padahal sulit uang tunai setiap hari. Itu sebabnya Bunda lebih suka KeKe Busana bergerak perlahan tanpa target yang terlalu besar.

Revisi target pun dibuat oleh Rendy mengingat bahwa sebenarnya ia membuat target kelewat tinggi di awal tahun sebelumnya. Saat ia merevisi bunda justru suka karena berarti ia berhasil menunjukkan bagaimana sebenarnya KeKe bertumbuh. Bukan langsung jadi besar, tapi ia bergerak perlahan agar tidak segera tumbang jika diterpa badai. “Bunda tidak pernah memaksa KeKe yang masih usia SD ini mengemudikan pesawat.” (hlm. 145)

“Sejumlah bisnis yang rentan ditengarai dikarbit dengan utang yang tak terkendali. Dibesarkan sedemikian rupa, tanpa memperhatikan basis pasar yang siap menyerap produknya. Grow fast, die fast.” (hlm. 146) 
“Jangan jadi ayam potong, ada petir dikit langsung koit”(hlm 149)

Dalam bab “Mimpi yang Tertunda”, bunda mengatakan bahwa ia berani menunda kesenangan(delay gratification) yaitu membeli rumah saat ia telah siap dengan keuangan yang ada. Membeli dengan uang cash, bukan dengan kredit. Selama ini bunda lebih suka menekan kesenangan pribadi agar uang bisa berputar di bisnis, untuk membesarkan KeKe Busana sehingga bisa bertumbuh seperti saat ini. Meski sebenarnya cashflow keuangan bunda sudah stabil di tahun 2002, namun bunda tidak ingin membuat keinginan yang bersifat konsumtif seperti membeli rumah seperti yang ia impikan dulu agar segera terwujud. Ia membeli rumah di tahun 2010.



“Menunda kesenangan itu seperti menabung kesenangan untuk dinikmati di kemudian hari.” (hlm. 167)

Di bab “Menabung Pekerjaan”, bunda meminta Rendy untuk lebih cepat menyelesaikan pekerjaan, agar tidak mentok deadline. Begitulah yang diajarkan di KeKe Busana.

“Hari-hari harus produktif, tidak ada kata santai. Didikan bunda yang sangat keras membentuk kepribadian saya untuk terlalu produktif setiap hari. Setiap hari harus ada pencapaian, setiap hari harus ada yang dikerjakan, setiap hari harus ada jejaring yang terhubung. Itulah nilai budaya kami.” (hlm. 172)

Dalam bab “Pikirkan Orang Bojong”, bunda berfokus pada cara untuk membesarkan KeKe Busana tanpa membuat gebrakan yang terlalu emosional dan agresif. Semua dihitung dengan terencana dan terpenting, apakah ini berguna, bagaimana pengaruhnya untuk karyawan yang bekerja? Pasalnya sebagian besar karyawan Bunda adalah orang-orang sekitar rumahnya yang ia berdayakan. Jadi jika bisnisnya colaps karena kesalahan pengambilan keputusan ekspansi bisnis, maka semuanya akan terkena dampaknya. Itulah yang selalu Bunda tekankan. “Pikirkan orang Bojong”.



***

Anyway, banyak bab lainnya yang menarik perhatian saya. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, banyak inspirasi yang datang dari percakapan dengan bunda. Lewat buku ini, Rendy ingin agar inspirasi tersebut bisa tersalurkan pada orang lain yang mungkin saja mengalami hal yang sama, ingin memula bisnis atau sedang menjalani bisnis dengan segala problematikanya. Semua inspirasi tersebut bisa lebih detail dibaca di buku ini.

Buat saya buku ini detail sekali, bagi seorang pebisnis, Bunda sudah menyesap pahit manis kehidupan sehingga tinggal menjalani da running bisnis di jalan yang sudah dibuat. Sistem sudah dibangun, tinggal duplikasi pada karyawan. Di buku ini juga dibahas  tentang pentingnya memiliki sistem bisnis, dan kapan bisa merunning bisnis sehingga bisa berkembang lebih baik.

Bahasa yang digunakan Rendy mudah dipahami, seperti layaknya saya berbicara face to face dengan sang penulis. Point penting yang dibahas di tiap bab juga dituliskan dalam satu halaman khusus setelah bab tersebut selesai dibahas. Jadi bisa lebih ngena bahasannya lewat quote.

Untuk kekurangan bukunya, saya kurang suka dengan layoutnya, karena serasa terburu-buru dibuat, belum rapi rata kanan kiri. Hiks. Trus pengin juga sebenarnya ada tambahan foto, sayang di sini nggak ada sama sekali. Jadi pembaca hanya mengandalkan tulisan untuk mencerna kisahnya. Overall, 4 bintang untuk buku ini. Para pebisnis wajib baca deh, biar ilmunya nambah. ;)


7 comments:

  1. Jadi ini isah perjalanan usahanya ya mbak? Buku2 kyk gini biasanya memotivasi ya :D
    TFS

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba April. Perjalanan dari awal bikin usaha sampai punya jaringan pemasaran di seluruh indonesia.

      Delete
  2. Hallo mba Ila. Aku belum baca buku ini nih. Jadi tahu setelah membaca resensi mba Ila

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah baca resensinya, mba Alida. :)

      Delete
  3. Baca resensi ini seperti khatam membaca bukunya. Isinya sangat bermakna buat saya yang baru mulai berbisnis.

    Quote yang ini tepat, motivasi harus kuat.
    “Tanpa alasan yang kuat, kerja kita tak akan hebat” (hlm. 53)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba. Masih banyak yang bisa didapat di bukunya, mba Helena. Ini hanya sebagian kecil dari 40 kisah inspirasi pemilik Keke Busana. :)

      Delete
  4. Wah Keke Busana ada dekat rumahku nih, selalu kagum dengan laris manisnya usaha ini, staf dan cabangnya banyak, bahkan sampai ditulis juga ceritanya di buku ya

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^