Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

5 January 2017

[Resensi Buku] Macaroon Love - Winda Krisnadefa


Judul Buku : Macaroon Love
Pengarang : Winda Krisnadefa
Penerbit : Qanita
Terbit : 2013
Tebal : 264 hlm.
ISBN : 978-602-9225-83-9

Sinopsis :


Kalau ada satu hal yang paling aku benci di dunia ini, itu adalah namaku, Magali. Kalau ada satu hal yang paling kusuka di dunia ini, itu adalah makanan. Padu padan makanan menjadi passion-ku. Sebagai seorang food writer, aku selalu mencari cara untuk memadukan resep. Harus berbeda, jangan mainstream.

Jadi, betapa kagetnya aku saat ketemu Ammar. Bukan saja dia berprofesi sebagai koki seperti ayahku, melainkan dia juga memberikan suguhan yang berbeda. Di Suguhan Magali, resto yang namanya sama persis dengan namaku.

Dan saat Ammar menyajikan Macaroon Tower warna-warni, dia seakan mempersembahkan nuansa warna hatia padaku. Mampukah aku menerimanya? Maukah aku?

Resensi Buku :


Magali selalu mempertanyakan mengapa ia harus memiliki nama yang aneh pemberian Jodhi, ayahnya. Nama yang membuatnya selalu ditatap dengan beribu pertanyaan oleh orang yang ditemuinya. Itu sebabnya ia selalu mengucapkan make a wish setiap perayaan ulang tahun, “Andai namaku bukan Magali”. Tapi pikirannya berubah drastis saat ia bertemu dengan lelaki bernama Ammar yang mirip Adriano Zumbo di sebuah restoran cepat saji.

Ammar yang memiliki selera makan yang aneh, sama sepertinya menawarinya dan Beau, sepupu Magali untuk singgah di restorannya. Bukan sebuah kesengajaan saat Magali justru datang ke restoran Ammar saat ia datang bersama dengan teman SMA-nya, Flora yang ia temui di metro mini. Flora mengajak makan dan di dekat pemberhentian Flora melihat sebuah restoran yang ternyata namaya sama dengan Magali, Suguhan Magali.

Nasib mempertautkan keduanya dengan makin intens ketika Magali akhirnya menawarkan pada Ammar untuk mewawancarainya seputar restorannya untuk rubrik wisata kuliner. Tak disangka liputannya justru diterbitkan oleh Glamz, majalah lifestyle yang beroplah tinggi. Magali diminta membuat konsep untuk rubrik baru di majalah itu dan jika idenya diterima ia akan menjadi pegawai tetap. Magali meyakinkan ayahnya bahwa ia sangat bahagia menjalani pekerjaan sebagai freelance writer meski dengan gaji pas-pasan.

Hidup Magali berubah saat beragam peristiwa terjadi dalam waktu singkat, sepupunya yang menjauh, ayahnya yang mengalami kejadian buruk, karir Magali yang stagnan sebagai freelance writer di majalah gratisan, dan sikap Ammar yang membuat Magali merasa menjadi orang yang berbeda. Dapatkah Magali menghadapi semuanya?

***

Novel Macaroon Love karya Winda Krisnadefa merupakan karya yang diterbitkan dari naskah unggulan lomba penulisan romance qanita. Novel yang bernuansa kuliner ini menyajikan konsep yang anti mainstream, seperti pemilihan nama tokoh yang beda, pengetahuan tentang kuliner yang unik, juga jalinan kisah antar tokohnya. Seperti bagaimana hubungan antara Nene (nenek Magali), Jodhi (ayah Magali), Beau (sepupu Magali) dan Magali, juga antara Magali dan atasannya juga Ammar.

Magali justru terbiasa memanggil nama ayahnya dengan menyebutkan namanya saja, Jodhi, tanpa embel-embel ayah/papa/bapak/abah. Terlihat aneh sih, tapi waktu penulisnya menyebutkan bahwa ini karena Magali dididik oleh Nene saja yang sudah tua, dan Nene tidak mengoreksi ketika cucunya memanggil nama ayahnya dengan nama panggilan saja.

Lalu banyak  kebiasaan unik Magali yang membuat saya tercengang, eh emang ada yang kayak dia ya. :D Di dunia nyata, sepertinya memang ada, tapi 1 dari seribu orang sepertinya. Hehe. Kebiasaan Magali yang nggak mau disamakan dengan perempuan lain yang seumuran dengannya, bahkan termasuk soal selera makannya yang aneh. Suka memadukan makanan yang satu dengan lainnya tapi bukan seperti selera orang kebanyakan. Misalnya kentang goreng campur es krim. Itu kelewat “unik” kalau nggak mau dibilang freak atau nyleneh. xD

Bayangkan wajah Ammar seperti Adriano Zumbo dengan dessert andalannya, Macaroon Tower

Saya juga jadi semakin paham bagaimana beratnya Nene mengasuh kedua cucunya seorang diri. Seperti saat Nene keheranan karena Magali baru bertanya soal cinta di usia yang hampir memasuki seperempat abad.

“Jatuh cinta itu rasanya seperti bukan dirimu.” 
“Maksudnya?” 
“Saat jatuh cinta, kamu akan berpikir seratus kali apa yang salah dengan dirimu. Padahal selama ini kamu merasa tidak ada yang salah dan begitu nyaman denga hidupmu apa adanya.” (hlm.115)

Jalinan ceritanya membuat saya semakin penasaran dengan kehidupan para tokohnya di setiap bab. Ada twist di akhirnya yang bikin saya ikut merasakan kebahagiaan dan kesedihan dalam waktu yang sama. Chemistry yang terjalin juga bukan sehari dua hari terjadi, tapi setelah sekian lama baru terasa. Jadi ada proses di dalamnya, tidak langsung terjadi perubahan.

macaroon nyummy~
“Yang pasti aku merasa perjalananku selama ini akhirnya bisa mengantarku ke suatu tempat yang mungkin akan menjadi perhentianku kelak. Aku tak pernah paham akan konsep cita-cita. Tapi aku selalu tahu apa yang mau dan tidak mau kulakukan dalam hidupku. Walaupun aku tak pernah membaginya pada banyak orang, tapi dalam hati kecilku aku selalu merasa hidupku tak akan bisa dipisahkan dari dunia makanan.” (hlm. 238)

Saya suka ide ceritanya yang unik. Jadi makin penasaran dengan resto Suguhan Magali yang katanya sih beneran ada di dunia nyata. Novel ini menjadi cermin yang terjadi di dunia nyata, seperti bagaimana kehidupan freelancer yang menggantungkan hidupnya dari menulis, seperti yang Magali lakukan dan tren di dunia kuliner yang sangat cepat berkembang pesat. Overall, 3,5 bintang untuk novel romantis ini.


1 comment:

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^