Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

4 January 2017

[Resensi Buku] Seven Days - Rhein Fathia


Judul Buku : Seven Days
Pengarang : Rhein Fathia
Penerbit : Qanita
Terbit : Februari 2013
Tebal : 296 hlm.
ISBN : 978-602-9225-72-3

Blurb :

Nilam’s Diary

Day 1 
Selamat pagi, Pantai Kuta. Selamat pagi, Shen. 
Day 2 
Ah, kamu membawaku ke Pasar Seni Sukowati, tempat favoritku. 
Day 3 
Sendratari Ramayana ini membuatku bertanya-tanya, apa aku sudah bertindak tidak setia? 
Day 4
“Aku juga punya rasa takut. Aku takut kamu terluka!” 
Day 5
Seminyak, kamu, kejutan, dan pantai di malam ini. 
Day 6
Pantai Padang-padang ini menjadi saksi kamu mengacaukan semuanya... 
Day 7
Bandara Ngurah Rai. Kami, sepasang sahabat sejak kecil, yang kini bersikap seperti orang asing... 

Resensi Buku :

Novel Seven Days yang ditulis Rhein Fathia menjadi pemenang pertama lomba penulisan Romance Qanita. Novel romantis ini berkisah tentang liburan yang dilakukan Shen dan Nilam di Bali sebelum Nilam menjawab pertanyaan Reza. Reza yang dipacari Nilam selama 3 tahun bertanya kapan Nilam akan menjawab lamarannya. Namun, Nilam meragu, apakah ia bisa melepas Shen, sahabatnya sedangkan keduanya sudah bersahabat sejak kecil. Orang tua Shen dan Nilam menjadi sahabat sejak kuliah. Nama Nilam dan Shen sama-sama berhubungan dengan rasi bintang Orion.

Shen yang well planned merencanakan liburan ke Bali dengan detail selama 7 hari. Dalam liburannya, Shen menemani Nilam yang belum pernah ke Bali untuk mengeksplorasi keindahan pulau Dewata. Namun semuanya tidak berjalan sempurna, hari pertama kedatangan, Shen dan Nilam harus tinggal dalam satu kamar karena kamar yang dipesan hanya tersisa satu. Mau tak mau Nilam pun menyanggupi untuk sekamar dengan Shen di Bali. Hari pertama mereka berlibur di pantai kuta yang menyimpan pesona keindahan alam yang menakjubkan. Pantai ini selalu dibersihkan oleh penjaga pantai, dan ada peringatan setiap kali ombak meninggi.

Hari kedua, Shen dan Nilam ke pasar Sukowati, hari ketiga menonton sendratari Ramayana. Ada berbagai ekjadian aneh yang terjadi antara Shen dan Nilam yang membuat mereka semakin dekat, bukan sebagai sepasang sahabat namun lebih dari itu. Hati Nilam gundah karena tak tahu bagaimana harus bersikap.

Baginya, Shen adalah sahabat masa kecilnya yang sangat baik dan bersamanya Nilam menikmati petualangan demi petualangan selama mereka bersama. Sedangkan Nilam gelisah karena ia merasa apakah ia menjadi seorang perempuan yang sudah tak setia lagi?

Pertanyaan demi pertanyaan itu semakin membuat Nilam gelisah, sampai hari keenam mereka justru mengalami salah paham karena ulah Shen saat Nilam sedang melukis senja di Pantai Padang-padang. Keindahan senja di pantai itu membuatnya jatuh cinta dan hanyut akan pesona Shen. Nilam mempertanyakan hatinya apakah ia sudah jatuh cinta pada Shen, sahabatnya sendiri? Sepulangnya dari sana, mereka justru menjadi dua orang sahabat yang saling asing. Tak ada kata dan genggaman tangan Shen untuk Nilam. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

***

Seven Days menjadi pemenang lomba penulisan novel Romance Qanita. Saya salut dengan detail yang dibuat oleh Rhein Fathia seakan membuat pembaca larut dalam kisah yang dibuatnya. Saya serasa melihat Shen dan Nilam dalam wujud yang nyata dan melihat mereka bertualang selama di Bali. Tak banyak penulis yang bisa mengisahkan cerita romance dengan chemistry yang kuat. Mungkin inilah yang membuat naskah ini layak menjadi pemenang.

Selain unsur Bali yang menjadi penguat kisah romantis Shen dan Nilam. Novel ini juga dipadu dengan unsur berbau astronomi yang membuat karakter tokohnya unik. Selain itu penyelesaian masalah menurut saya tidak terburu-buru meski ada hal yang janggal juga saat Made membantu Nilam selama di Bali.

“Aku ingin kamu mengerti bahwa seringkali kita menghadapi hal yang nggak disuka, hal yang kita takuti. Ketika belum bisa menemukan solusi, yang bisa kamu lakukan hanya menutup mata tak peduli dan terus berjalan tanpa takut. Whatever happen, life must go on.” (hlm. 137)

Yang membuat saya suka, ada beberapa bagian tentang pariwisata Bali yang membuat pembaca jadi lebih paham bagaimana situasi di sekitar tempat wisata. Seperti saat ke pura besakih yang ternyata banyak premannya, atau ke pura yang dijaga oleh para kera. Penulis memberi gambaran bagaimana harus bersikap di sana. Lalu dibahas juga seputar pengaruh bom Bali terhadap pariwisata Bali.

Adegan di novel Seven Days yang paling saya suka waktu Shen kasih kejutan buat Nilam dengan ngajak makan malam ala restoran mewah. Nggak kebayang gimana gokilnya mereka yang harus makan ala table manner dan berpakaian ala bangsawan. Trus malah bahasnya hal remeh temeh. Bener-bener nggak bakat buat akting seperti bangsawan.

Kisah di novel ini seru dan unik. Bikin pembaca seperti saya jadi pengin liburan ke Bali sama pasangan dan ngerasain aura pulau dewata yang eksostis. Bali memang bikin orang ketagihan buat eksplore. Dan saya penasaran juga kenapa di Ubud bisa sebegitu taatnya para masyarakatnya untuk menjaga kedamaian Ubud dengan tidak membolehkan membuka diskotik. Kayaknya enakan liburan di Ubud dibanding tempat lainnya yang sudah banyak didatangi wisatawan. Ubud beda aja, damai dan tenang dan mengingatkan saya dengan film Eat, Pray, Love.

Kalau seputar kisah romancenya menurut saya ini lebih cocok dibaca oleh pembaca 21 plus. Di mana pembaca sudah tahu mana yang baik dan benar dalam novel ini. Jadi nggak ambigu.

Overall, 4 bintang untuk novel ini. Saya suka gaya menulis Rhein dan penasaran apa novel ini akan difilmkan? Semoga saja ya. :D 

2 comments:

  1. Saya malah merasa ada keambiguan pada keterangan bahwa mereka menginap sekamar padahal statusnya belum menikah resmi (?), apa iya hotel atau penginapan di sana itu membolehkan sepasang yang berbeda jenis kelamin tidur sekamar? Kalau dalam novel Everthing, Everthing ada juga sih sepasang kekasih tidur sekamar di penginapan, cuma saya membaca dalam kultur Indonesia (Bali masih Indonesia, bukan? hehehe). Cuma karena Kak Ila bilang ini lebih cocok untuk pembaca 21 plus, aku bisa memaklumi mengapa kemudian penulis membuat "kejadian" semisal itu menjadi mungkin dan dapat membangun ceritanya. Well, aku memang kudu baca novelnya secara keseluruhan juga sih biar dapat adil menimbang. Makasih resensinya.

    Btw, jadinya difilmkan tdk? Hehehe

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^