Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

5 April 2017

[Resensi Buku] Happily Ever After by Winna Efendi


Judul Buku : Happily Ever After
Pengarang : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media
Terbit : Cetakan ketiga, 2015
Tebal : 358 hlm.
ISBN : 979-780-770-2
Rating : 4/5 bintang


Resensi Buku :



Tak ada yang kekal di dunia ini. Namun, perempuan itu percaya, kenangannya akan tetap hidup, dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.

Lulu kecewa karena sahabatnya menjauhinya, melakukan intimidasi di sekolah dan mengambil kekasihnya, Ezra. Tak pernah ada kata perpisahan, yang ada hanyalah berkali-kali kesedihan yang muncul saat Lulu mendapatkan tekanan dari mantan sahabatnya, Karin. Gadis itu yang dulu berbagi rahasia dengannya, berbagi impian dan kisah lewat jurnal pribadi, juga tempat favorit yang sering mereka jelajahi. Sayangnya, kehadiran Ezra justru membuat Karin ingin memiliki cowok itu sebagai miliknya. Lulu kecewa atas pengkhianatan yang terjadi, ia masih tak menyangka bahwa sahabatnya telah menghilang dari dunianya.

Suatu hari kabar menyedihkan datang, ayah Lulu yang selalu mendongengkan cerita sebelum tidur kini divonis kanker. Lelaki yag aromanya menguarkan wangi kayu, arsitek terbaik kebanggaan anak gadisnya itu, kini harus menjalan perawatan intensif demi kesembuhan dirinya. Ayahnya berkali-kali meyakinkan diri endiri bawa ia baik-baik saja. Namun perawatan kemoterapi dan radiologi telah merenggut daya hidupnya. Hingga yang tersisa hanya tulang yang melekat di kulit. Lelaki itu yang memberikan kebahagian pada Lulu lewat dongeng-dongeng pengantar tidur. Kini Lulu bertanya-tanya adakah bahagia selamanya di dunia ini?

Saat Lulu harus menemani ayahnya menjalani perawatan di rumah sakit, ia berkenalan dengan Eli, cowok yang seumuran dengannya. Eli harus melepas impiannya untuk masuk seleksi Olimpiade renang saat ia divonis tumor otak. Ia yang membawa kamera polaroid kemana-mana, menangkap tawa dan kesedihan lewat gambar. Lulu dan Eli dekat hingga muncul perasaan lain di antara mereka. Akankah Lulu selalu bersama Eli selamanya, seperti dongeng yang selalu dikisahkan dalam buku dongeng?

***

Membaca novel Happily Ever After serasa masuk ke dunia dongeng. Dunia yang membawa keajaiban bagi pembacanya. Dunia yang rasanya unik, asing namun istimewa karena gambaran rumah kayu Lulu terasa dan nyata. Kalau di dunia nyata ada rumah kayu sebagus itu pasti bakalan banyak yang suka juga.

Novel karya Winna Efendi ini terasa hangat karena kisah ayah dan anak yang dituturkan oleh pengarang membuat saya sebagai pembaca ikut larut dalam kisahnya. Bagaimana perjuangan ayah Lulu untuk terus bertahan hidup dan Bunda yang sulit mengeskpresikan emosi pada anak tunggalnya saat ayah tiada, Eli yang berbagi mimpi-mimpi dan harapannya, dan drama persahabatan Lulu dengan Karin. Rasanya serasa melihat paduan yang memikat.

Ini kali kedua saya membaca novel Winna, formula novelnya masih seputar sahabat jadi cinta, tapi kali ini menurut saya aromanya sendu sekali. Seperti melihat film melankolis diputar dan berharap akhirnya happy ending, walau nggak tahu juga bakal gimana si tokoh menghadapi hidupnya tanpa orang-orang penting yang pernah membersamainya. Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan sahabat yang dulu pernah ada dalam hidup. Rasanya hampa, tidak percaya kalau akhirnya berakhir begitu saja, juga sedih dan kecewa.

Winna pandai menggambarkan bagaimana emosi tokohnya masuk dalam cerita sehingga tidak terasa monoton. Saya sampai melanjutkan membaca saat terbangun pukul 2 pagi. Yah, bisa dibilang romancenya dikit. Novel ini lebih ke novel family dan persahabatan. Kalau ada bumbu romantisnya itu sedikit sekali, demi memberi sentuhan manis ala anak-anak remaja.

Paling suka bagian Lulu bertualang menemukan tempat-tempat rahasia favoritnya. Seperti menemukan kembali keriangan masa kecil waktu bertualang ala Enid Blyton. Seru dan mendebarkan. Kebayang deh gimana rasanya saat Karin dan Lulu menemukan tempat favorit mereka dan menempatinya selama bertahun-tahun sebagai tempat bermain. Saat Lulu ikut kemah dengan ayah sambil melihat bintang-bintang. Atau saat ayah dan bunda berbagi lagu dan berdansa bersama. Romantis~ :D

Karakter ayah di novel ini sangat kuat, buat saya seperti melihat bagaimana ayah yang bisa dicintai oleh anaknya. Nggak semua ayah bisa jadi sahabat anak perempuannya. Tapi menurut saya ada kejanggalan. Kalau ayahnya dekat dengan anak harusnya sih Lulu nggak pacaran dengan Ezra. Karena biasanya kedekatan ayah dengan anak mampu membuat anak ingin terus berada di samping keluarganya saja. Nggak kepikiran untuk pacaran. Berarti sebenarnya Lulu masih membutuhkan sosok ayah dalam intensitas yang lebih sering. Sayangnya ayah Lulu terlalu sibuk dengan proyek-proyeknya.

Saya juga melihat kesedihan di mata Karin. Sebagai mantan anak nerd yang dicap cupu dan nggak populer, tentu ia nggak mau dibully terus oleh temannya. Makanya ia berubah. Tapi saya ngerasa tindakan Karin seperti tindakan anak remaja pada umumnya yang sangat ingin keluar dari kehidupan yang tak menyenangkan. Lebih memilih mengambil jalan hidup yang bersebrangan dengan sahabatnya demi menjalani kehidupan yang dianggap lebih baik. Nggak bisa menyalahkan Karin sepenuhnya sih ya. Persahabatan ada masanya memang harus diuji dengan waktu. Dan pada akhirnya setiap orang akan berkenalan dengan orang lain dan mungkin saja ia berubah seiring waktu. Tidak sama lagi seperti dulu. Ya, lagi-lagi ini pilihan hidup. :)

Kalau karakter Eli, saya sukanya karena dia berusaha baik-baik saja, tegar, meski sebenarnya dia rapuh. Tapi kekonyolannya saat bercanda dan kekompakannya dengan Mia bikin iri deh. Seru kali ya punya kakak kayak Eli yang keren dan ganteng. :p

Ada beberapa quote yang saya suka dalam novel ini.

Pada umumnya, orang-orang punya insting defensif – sebelum ditinggalkan, mereka akan meninggalkan lebih dulu. Itu juga risiko jadi orang sakit – kehilangan orang-orang di sekitarnya.” (hlm. 127) 
“Aku percaya dasar hubungan manusia bukan di sini, Lu. (kepala) Tapi di sini. Hati yang melihat, hati yang merasakan, hati yang tahu.” (hlm. 145) 
“Kadang-kadang, orang yang pergi akan kembali ke sisi kita. Itu yang kunamakan kesempatan kedua. Tapi nggak jarang juga mereka yang pergi akan hilang selamanya. Dan, yang menyedihkan adalah nggak sempat mengucapkan selamat tinggal.” (hlm. 157) 
“Cinta bisa datang kapan saja, dari mana saja. Bisa dari orang-orang terdekat yang selama ini ada di sampingmu, bisa juga dalam sosok seseorang yang baru saja dikenal. Tapi, asal cinta nggak penting. Yang penting adalah menjaga perasaan yang kalian bagi.” (hlm. 256)
Overall, 4 bintang untuk novel Happily Ever After yang covernya manis ini. :)



2 comments:

  1. Iya, Mbak. Ini novel auranya sendu. Saya dilingkupi kesedihan sepanjang membacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sedih banget, mba Yanti. Aku jadi kepikiran terus tentang para tokohnya abis baca ini dan kelar ngereviewnya. Sedihnya Lulu pun punya masalah yang kompleks. Ya, kehidupan ya, mba.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^