Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

17 April 2017

[Resensi Buku] Pre Wedding in Chaos by Elsa Puspita


Judul Buku : Pre Wedding in Chaos
Pengarang : Elsa Puspita
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Cetakan Pertama, Oktober 2014
Tebal : 286 hlm.
ISBN : 978-602-291-056-5
Rating : 4/5 bintang

Baca via BookMate

Resensi Buku :

Aria dilamar oleh kekasihnya, Raga yang telah dipacarinya selama 9 tahun. Tak ingin mengecewakan Raga, ia pun menjawab iya. Padahal, ia sama sekali tak ingin menikah dalam waktu dekat. Bayangan pernikahan sempurna tak ada dalam kehidupannya, karena pernikahan kedua saudaranya tak ada yang berjalan dengan normal. Mas Reza menikah dua kali, sedangkan mba Mayang menikah dengan pengusaha kaya sebagai istri keduanya.

Bagi Aria, rencana menikah jauh dari bayangannya. Ia harus berkompromi dengan kekurangan pasangan, memiliki anak padahal ia sangat jauh dari figur ideal seorang ibu, juga menganggap menikah mengekang kebebasannya. Bahkan ia berencana untuk memundurkan pernikahan setahun setelah lamaran tak resmi dari Raga. Namun, karena ibunya sudah mendengar Aria diberi cincin lamaran oleh Raga, maka ia ingin anaknya itu bisa segera lamaran secara resmi dan menikah.

Dalam waktu 3 bulan kedua pihak mengusahakan segala pernak-pernik pernikahan bisa terlaksana dengan bantuan WO. Meski begitu, ada saja halangan yang menghadang di hadapan Aria dan Raga untuk mewujudkan pernikahannya. Raga yang tiba-tiba jadi sering berdebat dengan Aria, Aria yang dipromosikan ke LA oleh atasannya sebulan sebelum tanggal pernikahannya, dan kejadian yang membuat Aria trauma dengan rencana memiliki anak dengan Raga setelah menikah nanti. Aria tidak dekat dengan anak-anak, bahkan Raga mendekatkannya dengan keponakannya. Namun, nihil. Rencana itu tak berjalan mulus. Akankah keduanya tetap menikah?

***

Pernikahan adalah jalan panjang yang harus dilalui oleh laki-laki dan perempuan yang ingin meresmikan hubungannya menjadi ikatan halal. Tak hanya untuk membangun keluarga namun juga memiliki keturunan. Namun, Aria, tokoh dalam novel ini tak ingin memiliki anak. Padahal ia sehat, namun ia menolak pernikahan dengan sadar dan menganggap bahwa menikah tak perlu memiliki anak.

Saya pikir orang seperti Aria tak hanya satu di dunia ini. Ada banyak Aria-Aria lainnya yang tak ingin memiliki anak. Alasannya bisa banyak, seperti Aria yang trauma terhadap pernikahan saudaranya. Bisa juga karena di kehidupannya tak ada figur yang bisa menjadi contoh pernikahan ideal. Meski begitu sebenarnya pernikahan ala negeri dongeng memang tak pernah ada di dunia nyata.

Masalah yang digambarkan di novel ini sebenarnya cermin di kehidupan nyata. Bagaimana orang seperti Aria dan Raga dilanda dilema saat sudah nyaman sebagai kekasih namun tak ingin maju menjalani level selanjutnya, menikah. Hanya karena belum merasa siap. Padahal kata siap tak akan pernah ada jika tidak ada yang mau memulai untuk membicarakannya dengan serius.

“Nyatuin dua kepala itu nggak pernah gampang, makanya kompromi harus selalu di barisan terdepan dalam hal apapun.”

Aria juga dilanda kegalauan karena adiknya ingin menikah tapi ibunya khawatir Aria tak akan menikah jika dilangkahi. Itu sebabnya ibunya ngotot. Bahkan mbak Mayang ikut memberikan nasihat bagi Aria agar mempertimbangkan tawaran Raga untuk menikah dan siap jadi ibu.

“Cinta itu aneh, Ar. Suatu saat, kamu bakal ngerasain banget kehadirannya. Beberapa saat habis itu, semuanya hilang kayak nggak pernah ada. Menurut kamu, kenapa orang yang awalnya saling jatuh cinta akhirnya mutusin nikah? Mereka butuh kommen buat pertahanin kebersamaan mereka walaupun nanti perasaan yang bikin mereka mutusin buat nikah tiba-tiba hilang. Kita kadang nggak bisa bedain perasaan cinta atau cuma rasa terbiasa sama kehadiran pasangan kita. Yang mana pun, akhirnya, ya, itu yang bikin kita bertahan.”

Para tokoh di novel ini bagai cerminan tokoh di dunia nyata. Penyelesaian yang diberikan sangat realistis. Ada orang yang berharap ketika menikah, karakter pasangannya akan berubah, padahal tidak bisa terjadi jika tidak dilakukan dengan sadar dan penuh kompromi. Bagaimanapun menikah adalah menyatukan kedua kepala jadi satu, jika salah satunya tak sabar menghadapi sifat pasangan, maka yang terjadi adalah kekacauan.

Saya kaget saat baca endingnya. Fiuh, habis dibikin gregetan dengan tingkah laku Aria, sekarang saya harus sabar dengan sikap Raga. Memang logis sekali Raga melakukan hal yang seharusnya dia lakukan. Ya, kehidupan pernikahan tidak bisa diprediksi. Jadi, seperti quote dari Shauna Niequist, “When life is well, say thank you and celebrate, and when life is bitter, say thank you and grow.” Overall, 4 bintang untuk novel ini.

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^