Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

6 September 2014

Before Happiness : Kisah Lika-liku Happy Merentas Bahagia




Judul : Before Happiness
Pengarang :  Abbas Aditya
Penerbit : Moka Media
Terbit : 2014
Tebal : vi +210 hlm
ISBN : 979-795-841-8


Happy Amalia, seperti harapan saat orangtuanya memberi nama ini, semestinya ia menjadi orang yang selalu bahagia. Mencintai seorang sahabat yang telah lama berada dalam hidupnya, membuat Happy berada dalam labirin perasaan yang rumit. Sadha, lelaki yang kini sudah menjadi kekasih sahabatnya bernama Yuna itu, malah menjadikannya sebagai pemeran pembantu utama untuk mengurus segala perihal pernikahannya. Mulai dari surprise proses lamaran, sampai menyiapkan konsep pernikahan.

Tak terbayangkan bagaimana sakitnya perasaan Happy mengingat baginya Sadha adalah cinta pertama yang berkesan. Bedanya, Happy lebih memilih jatuh cinta diam-diam ketimbang harus mengakui perasaannya pada Sadha. Baginya, menyatakan cinta berarti harus menerima risiko yang lebih besar, ditolak dan berjarak dengan lelaki itu.

Tapi di sinilah Happy, memutar harinya dengan perasaan acak dan absurd. Langit Jakarta, Kota Batu di Malang, dan sungai Chou Praya Thailand mungkin bisa menjadi obat bagi sakit hati yang ia rasakan. Happy memilih untuk melarikan diri dari kenyataan pahit itu. Berharap waktu dan jarak bisa menyembuhkan luka.

“Jatuh cinta itu emang sakit, Happ. Dan akan lebih menyakitkan jika kita nggak ikhlas jika orang yang kita cintai bahagia. Sadha sudah memilih titik di mana dia harus bahagia. Lu mau ngerusaknya?” (hlm. 77)

Di sudut lain, Gerald, sepupu Sadha yang sejak dulu jatuh cinta padanya justru membuat Happy makin sebal dengan tingkahnya. Gerald bahkan menawari Happy untuk jadi kekasihnya, kekasih pura-pura.

“Jatuh cinta itu perlu belajar, termasuk melupakan kenangan akan sakit yang ditimbulkannya.” (hlm. 145)

Demi memupus perasaan Happy pada Sadha. Happy yang awalnya benci setengah mati dengan Gerald karena insiden ospek, malah harus menelan ludahnya sendiri. Pura-pura jatuh cinta dengan Gerald itu berisiko! Sebab tanpa disadarinya, Happy masuk ke dalam konflik internal keluarga besar Gerald dan Sadha, yang merupakan keluarga pebisnis film. Dibalik ketenangan Sadha dan kecemerlangan karirnya, tersimpan masalah besar yang berpusat pada Nara, nenek Sadha. Dapatkah masalah itu selesai? Bagaimana kisah cinta Happy selanjutnya? Baca saja di buku ini. ;)

“Terkadang masa lalu adalah semak belukar yang harus kita babat habis, karena jika kita terus di dalamnya, kita akan sukar mendapat cinta yang baru, kebahagiaan yang baru.” (hlm. 154)

***

Kisah cinta Happy, Sadha, dan Gerald yang dituliskan oleh Abbas Aditya membuat pembaca ikut larut dalam konflik yang diciptakan. Tak banyak novel yang bersetting pekerja perfilman dan entertainment. Kalau lihat keluarga Sadha, saya jadi ingat keluarga Punjabi yang merupakan trah dinasti perfilman tersohor di Indonesia. Meski filmnya yang ‘ya gitu deh, ga jelas’ tapi dibalik itu semua ada alasan mengapa film harus tetap bergulir meski mengorbankan idealisme. Ditambah lagi dengan bumbu travelling ala kaum borjuis, membuat novel ini memberi rasa baru bagi pembaca.

Lewat Nara, tokoh nenek Sadha, pembaca jadi tahu untuk lebih bijak menyelami kehidupan perempuan yang keras dan tegas, pekerja keras yang memiliki dedikasi pada film, namun melupakan rasa ikhlas pada masa lalu.

Gerald yang jago main musik dan kekanakan, tampak berkilau di mata pembaca karena kelugasannya menyatakan apa yang mengganjal. Buat seseorang yang patah hati, memang harus ada yang mengatakan kenyataan, meski itu sulit diterima. Apalagi mengingat perasaan Happy yang terombang-ambing padahal Sadha hanya menganggap kebiasaan memanggil Prince dan Princess adalah dongeng yang tak pernah jadi kenyataan. Sahabat tetap sahabat. Putri dan pangeran hanya ada di alam dongeng, tak menjelma jadi nyata.

Kelebihan dari novel ini, selain settingnya yang kuat, juga banyaknya adegan yang memberi suasana yang berbeda. Seperti saat surprise lamaran Yuna dan Sadha, juga di Kafe tempat mereka biasa ngobrol. Meskipun ada beberapa typo yang sangat sering saya temukan menghiasi novel ini. Overall, novel ini bisa jadi bacaan untuk menemani akhir pekanmu. ;)

6 comments:

  1. Typo-nya banyak ya? Btw Kiky ngasih berapa bintang untuk novel ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, banyak typonya, Kang. Hihi :D
      Aku kasih 3,5 bintang :D

      Delete
  2. Ngikik baca ini mbak: Meski filmnya yang ‘ya gitu deh, ga jelas'....

    #salahfokus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Ochaaa, iya, di bukunya dibilang gitu sih, Cha. :D Jadi aku kutip aja apa kata penulisnya xD

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^