Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

23 September 2014

Resensi Buku : Serunya Puasa Ramadhan di Luar Negeri (Leyla Hana, dkk)


Judul : Serunya Puasa Ramadhan di Luar Negeri
Penulis : Leyla Hana, dkk
Penerbit : Qibla (Imprint BIP)
Terbit : Cetakan pertama, 2014
Tebal : 165 halm
ISBN : 978-602-249-653-3


Puasa Ramadhan bagi umat muslim adalah kewajiban yang harus dikerjakan apa pun kondisinya, baik sedang berada di luar negeri maupun di negeri sendiri. Yang membedakan adalah suasana di luar negeri kerap kali membuat rasa rindu akan tanah air semakin menjadi, apalagi tanpa mendengar adzan yang berkumandang dari menara masjid, rasanya suasana Ramadhan menjadi sepi. Gempita Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk menjadikan diri jauh lebih baik. Dengan segala kesulitan yang dibentuk oleh keadaan, menjadikan pelaku puasa sebagai orang-orang yang pantas untuk mendapatkan gelar taqwa bila telah selesai melewati ujian puasa tersebut.

Beragam kisah puasa Ramadhan di negeri orang membuat kisah ini menjadi lebih berwarna. Di buku ini, ada 23 kisah serunya puasa di luar negeri. Misalnya saja yang dialami oleh Nessa Kartika, ia yang seorang TKW pendatang baru di Singapura harus merelakan mukenanya disortir oleh petugas agensi agar tidak kena marah majikan yang nonmuslim. Aturan agensi sangat ketat menghukum siapa saja TKW yang sulit diatur. Beruntung, Nessa akhirnya mendapatkan majikan yang kooperatif sehingga ia diperbolehkan berpuasa, tidak makan babi dan menjalankan ibadah shalat, asal tak mengganggu kinerja kerjanya. (hlm. 35)

Lalu, ada pula kisah Deasy Rosalina yang harus menghadapi godaan berpuasa yang datang dari rekan satu kampusnya di Korea. Ia yang muslim, sering mendapat tawaran untuk membatalkan puasa dengan iming-iming makanan. Seperti yang dikatakan seorang temannya saat ia berpuasa, “Rosa ssi hanguke itjiman hanaimi Indonesia issoyo (Rosa sedang berada di Korea, tetapi Tuhan di Indonesia.” Godaan seperti inilah yang kerap menghadirkan perasaan rindu tanah air, mengingat di Korea muslim termasuk kaum minoritas, ia harus sering mengingatkan temannya tentang konsep puasa yang diajarkan dalam Islam. (hlm. 45)

Ima Nurhikmah pun merasakan puasa Ramadhan di Qatar dalam hawa musim panas yang menyengat, karena suhu udara siang hari bisa mencapai 50 derajat Celcius. (hlm. 91) Lalu, kisah Jasmine Hanniraya yang merasakan puasa di Paris, di mana sulit sekali mencari masjid untuk shalat tarawih. Akhirnya, muslim di Paris harus menggunakan apartemen yang disulap menjadi masjid dadakan. Ia juga menyedekahkan uangnya lewat program backpacker di sebuah sekolah di Paris. Kisah ini menghangatkan hati kita untuk berusaha menjalankan puasa dengan baik. (halm. 119)

Ada lagi beragam kisah seru puasa yang lainnya dalam buku ini, yang akan mengajak kita berkeliling dunia melihat nuansa Ramadhan dalam balutan yang berbeda, seperti di negara Malaysia, Jerman, Jepang, Belgia, Swedia, Hongkong, Libya, Mesir, dll. Nah, siap bertualang lewat kisah dalam buku ini? Yuk, baca bukunya dan resapi makna puasa Ramadhanmu.

2 comments:

  1. label e akeh banget ya beb :D
    hihihi ada tulisanku mejeng di sini, meski seh belajar nulis pada waktu itu ra hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bingung meh ngei label opo. :D Temamu mirip mbe mba Nessa, nduk.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^