Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

2 September 2014

Resensi Little Edelweiss - Nita Trismaya

Cover Novel Little Edelweiss
Judul : Little Edelweiss
Penulis : Nita Trismaya
Penerbit : Moka Media
Terbit : Cetakan Pertama, 2014
Tebal : vi + 162 halaman
ISBN : 9789797958473

Dilarang keras jatuh cinta ke sahabat sendiri. (hlm. 112)

            Kika, cewek SMA yang menyukai alam bebas. Arka, cowok penakluk gunung, pencumbu alam raya. Di ekskul pecinta alam, mereka adalah teman dekat. Sedekat gunung dengan lembah, atau selekat pantai dengan lautan. Namun bagi Arka, perasaannya pada Kika melebihi sepasang sahabat.  

            Di ekskul pecinta alam Narapala, Kika harus melewati serangkaian tugas sebelum menjadi anggota ekskul. Beragam olah fisik hingga mental membuatnya tidak bisa tahan dengan suasana pelatihan di alam yang mengharuskannya jatuh bangun hingga tersesat dan hampir kena hipotermia. Arka kelabakan, namun dia masih menahan gengsi untuk membantu Kika secara terang-terangan. Posisi senior membuat Arka dilema.

          “Tadi gue udah wanti-wanti, kalo lo ngantuk ngomong terus terang. Biar gue yang pegang bagian jaga! Gue nggak akan pernah maafin diri sendiri kalo sampe ada apa-apa dengan Kika.” (hlm 43)

              Berkali-kali Kika kena hukum karena melanggar aturan. Baginya, jika ia tidak lulus, ada andil besar Arka  yang sedari awal senang membuatnya menumpuk banyak kesalahan. Tapi ternyata ada skenario yang dibuat Arka. Kika pun terkaget melihat skenario itu berjalan penuh dramatisasi yang membuatnya kesal pada Arka.

         Di sekolah, Kika patah hati karena Brian, cowok yang suka basket, mulai menjauh darinya. Disadarinya ada perubahan yang terjadi. Brian memang tak suka jika gadis yang disukainya itu lebih mementingkan pecinta alam dibanding hubungan mereka. Begitu pun yang terjadi pada Arka. Dea, gadis masa lalu yang pernah dekat dengannya datang kembali. Kali ini dengan segumpal perasaan yang rumit, karena Dea mengalami masalah dalam keluarganya.  

"Sahabat bisa mengerti kita bahkan ketika kita tidak mengerti diri kita sendiri."
"Ketika sahabat pindah ke tempat lain maka sebagian dari sejarah hidup kita pergi bersamanya."

            Kika, Dea dan Arka dipertemukan lagi dalam sebuah acara pendakian di Gunung Salak. Bersama Diaz, teman Arka, berempat melakukan perjalanan menakjubkan. Kika memang masih 14 tahun, masih SMP. Baginya, menjadi pendaki adalah hal yang mengagumkan. Ia mencintai keindahan alam, mengagumi keindahan bunga edelweiss, dan matahari terbenam di puncak gunung. Banyak hal yang Kika dapat dalam perjalanan kali ini, termasuk tentang perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan pada Arka. Sampai suatu tragedi membuat Kika harus ikut bersama tim SAR mencari keberadaan Arka yang menghilang tanpa jejak. Di mana Arka berada?

***
            Kisah cinta anak gunung memang selalu menarik untuk dituliskan. Sebelumnya, saya pun pernah membaca novel sejenis yang bertema alam, namun kali ini penulisnya yaitu Nita Tris membuat saya lebih memahami detail yang luput saya amati dari anak-anak pecinta alam. Seperti yang dituliskan Edmund Hillary, “It’s not the mountain we conquer, but ourselves.” Yaps, ini tentang menemukan dirimu sendiri dalam perjalanan yang terlewati. Ini bukan tentang pegunungannya.

            Tidak akan ada cerita tentang keindahan bunga edelweiss, karena penulis lebih fokus pada karakter tokoh dan suka duka anak gunung selama pendakian. Memahami bahwa menjadi pendaki butuh mental baja, bukan lagi sebuah kebanggaan semu yang terwarnai ego semata. Seperti yang Dea rasakan saat naik gunung. Bagi gadis seperti Dea yang manja dan lebih suka libur dengan ‘nyaman’, mendaki adalah hal yang diluar ekspetasinya. Little Edelweiss adalah penjabaran dari karakter Kika  si tokoh utama menjadi gadis yang lebih tahan uji di alam liar seperti gunung. 

            Novel ini juga berkisah tentang persahabatan jadi cinta, yang menaungi perjalanan keempat pendaki saat menuju gunung Salak. Detail riset setting yang dibuat penulis mampu menghidupkan suasana di pegunungan. Membuat pembaca awam yang tahu apa saja yang dirasakan oleh para penjelajah alam itu di puncak gunung. Pembaca juga jadi lebih mengerti bagaimana caranya untuk mengatasi hambatan saat tersesat atau hipotermia. Semuanya tersaji dengan detail alam yang mengagumkan. Sayangnya dialog dalam novel ini sedikit, sehingga karakter tokoh muncul lewat proses penceritaan. Overall, selamat memaknai persahabatan dan cinta yang sejati di novel ini. ;)

1 comment:

  1. makasih atas resensinya ya kak! semangat!

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^