Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

22 September 2014

Resensi The Lovely Bones by Alice Sebold


Judul : The Lovely Bones
Pengarang : Alice Sebold
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Penerbit: Gramedia
Terbit : Cetakan kelima, Juli 2010
Tebal : 440 halaman
ISBN : 978-979-22-5291-0


Peraih penghargaan :
Bram Stoker Award for Best First Novel (2002), Book Sense Book of the Year Award for Adult Fiction (2003), South Carolina Book Award for Young Adult Book Award (2005), Iowa High School Book Award (2005), Puddly Award for Fiction (2003) Abraham Lincoln Award Nominee (2005)

Resensi Buku :

“Namaku Salmon, seperti nama ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas saat aku dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973.”

Kisah ini bermula dari kematian Susie Salmon, seorang anak perempuan dari keluarga Salmon yang meninggal di daerah pinggiran bernama Norristown, Pennsylvania. Gadis itu pulang sekolah dan mengambil jalan pintas menuju rumahnya seperti biasa melewati ladang jagung. George Harvey, 36 tahun, tetangga yang tinggal sendirian dan membuat rumah boneka untuk nafkah hidup, membujuk Susie untuk melihat sebuah ruangan bawah tanah yang baru saja dia gali di ladang jagung. Sekali Susie masuk, George memperkosa dan membunuhnya, memutilasi tubuhnya, menaruh mayatnya dalam tempat penyimpanan (sejenis brankas besar) yang dikubur dalam lubang pembuangan. Arwah Susie melarikan diri ke surga pribadinya.

Keluarga Salmon pada awalnya menolak untuk percaya bahwa Susie sudah mati, sampai potongan siku Susie ditemukan anjing tetangga. Polisi bicara pada George Harvey, menyadari pria itu aneh tapi tak punya alasan mencurigainya. Ayah Susie, Jack, mulai mencurigai Harvey. Adik Susie yang masih hidup, Lindsey, juga mencurigai Harvey. Jack mengambil cuti panjang dari pekerjaan.

Len Fenerman, detektif yang ditugaskan untuk kasus ini, mencurigai Ray Singh, cowok yang menyukai Susie dan menuliskan surat cinta di buku yang diberikannya pada gadis itu. Namun alibi Ray sempurna, ia menghadiri acara bersama ayahnya di hari Susie meninggal. Ray bebas dari tuduhan. Satu-satunya bukti kejahatan yang ditemukan hanyalah siku yang telah dimutilasi itu. Tapi tak ada jejak di mana-mana karena salju menghilangkan semua sidik jari pelakunya.

Kasus ditutup karena tak ada bukti. Di sisi lain, Susie yang berada di alam baka melihat pemandangan yang tidak ingin ia ketahui. Sejak kematiannya, keluarganya terberai, ibunya sibuk menghindar. Ayahnya mencari siapa pelakunya sampai frustasi karena puteri kesayangannya meninggal dengan cara tragis. Adiknya menjadi pemberontak dan bersikap seolah ia tegar menghadapi duka mendalam itu. Sedang, Buckley, adik lelakinya berusia 4 tahun harus belajar memaknai arti “meninggal”. Susie tak akan ada di sisinya lagi, dan ia harus meyakini bahwa Susie tak akan pernah kembali ke rumah mereka lagi.

Pelaku yang sesungguhnya berkeliaran menutupi dirinya dengan cara yang sangat cermat bahkan hingga ia bisa pindah kota dengan leluasa. Kecurigaan Jack, ayah Susie pada Harvey tak ada bukti, namun Lindsey menemukan satu sketsa yang menggambarkan ruangan bawah tanah yang digunakan Harvey. Sayangnya, kasus itu tak bisa dibuka tanpa bukti yang jelas. Hingga 8 tahun setelahnya, semua orang mulai menjalani kehidupannya masing-masing. Termasuk keluarga Susie dan orang yang ia cintai, Ray Singh. Bagaimana akhir kisah ini? Baca saja buku ini hingga selesai. ;)

***

Buku ini bertema dark dengan perpaduan antara triller, horor, dan young adult terasa kental mengisi detail karakter dan plot yang dibuat penulis. Bagi penyuka genre ini, buku ini bisa menjadi favorit. Apalagi detail kehidupan yang dibuat di dalamnya serasa nyata. Meski awalnya saya membeli buku ini karena ada di rak diskon, tapi setelah membacanya saya jadi tahu mengapa buku ini mendapatkan banyak penghargaan. Kisah Susie memberi gambaran sosial yang ada di daerah pinggiran Amerika. Selain menyasar pada masalah keluarga sesudah kematian Susie, namun juga mengajarkan bagaimana kehilangan dan kesedihan yang menyakitkan bisa ditebus dengan cinta dan penerimaan.

Pergerakan tokohnya dari mulai tahun pertama kematian Susie, hingga delapan tahun setelahnya serasa alamiah. Sehingga perubahan karakter setiap tokohnya terasa di akhir novel. Saya rasa karena detail inilah penerimaan yang diperoleh oleh keluarga terhadap kenyataan bahwa Susie telah meninggal akhirnya bisa didapatkan. Bayangkan bisa hanya satu dua tahun saja, tentu itu waktu yang terlalu singkat untuk menghapus kenangan seseorang yang sudah menempati ruang di hatimu.

Dari awal saya membaca buku ini, cover dan paragraf pertama di pembukanya sudah menggelitik untuk mengajak pembaca mengikuti kisahnya. Meski saya merasa janggal di bagian di mana arwah Susie masuk ke dalam tubuh Ruth untuk memberi ending yang klimaks, sayangnya saya tidak suka endingnya. Jauh lebih menyenangkan jika akhirnya Susie tetap pada tempat yang ia sebut ‘surga’ tanpa pernah bersentuhan lagi dengan orang-orang di dunia. Btw, buku ini hanya untuk pembaca dewasa ya. Pastikan kamu cukup umur sebelum membacanya. Overall, 3,5 untuk novel ini.

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^