Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

14 September 2014

The Time Keeper : Perjalanan Sang Penjaga Waktu


Judul : The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu)
Pengarang : Mitch Albom
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan kedua, Agustus 2014
Tebal : 312 hlm
ISBN : 978-602-03-0714-5


“Hanya manusia yang mengukur waktu.
Hanya manusia yang menghitung jam.
Itu sebabnya hanya manusia yang mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lainnya.
Takut kehabisan waktu.” (halm. 17)

Dor mendengar suara-suara manusia di bumi yang melayang dari sebuah kolam di pojokan gua. Suara yang menggelisahkan, menekan perasaannya. Yang satu menginginkan waktu berjalan lebih lambat, yang lain menginginkan lebih banyak waktu. Semua tentang waktu.

Baginya, mendengar suara-suara itu adalah hukuman berat karena berani mengukur waktu, anugerah terbesar yang dikaruniakan Tuhan. Selama hidup, Dor selalu menghabiskan hari-harinya untuk mengukur waktu. Ia melakukan banyak percobaan dengan mengukur bayang-bayang matahari dengan air dan mangkuk yang dilubangi. Ia juga menandai bulan untuk setiap moment yang ia lewati.
 
Dulu, Dor kecil bersama Alli dan Nim sahabatnya selalu bermain bersama. Sejak itu Dor tak pernah melepaskan kebiasaannya, mengukur waktu setiap hari. Nim berubah menjadi dewasa dan berambisi menjadi raja. Ia menyerang penduduk dan membuat menara yang tinggi menjulang. Nim menginginkan menara yang tinggi agar bisa mengalahkan dewa-dewa dengan busur panah yang dilepaskannya.

Dor dan Alli menikah, keduanya hidup bahagia hingga suatu hari Nim meminta Dor untuk membantu membangun menaranya. Dor menolak. Nim mengusir Dor dari desa tempat ia tinggal. Menyuruh Dor menjauh dari jangkauan prajurit Nim. Hingga suatu hari Alli jatuh sakit dan Dor berlari sekuat yang ia bisa lakukan. Mencari pertolongan untuk istrinya, untuk menghentikan penderitaan Alli. Dor berlari terus sampai ke puncak Menara Babel. Hingga tiba-tiba takdirnya berubah. Ia berpindah tempat kesebuah gua.

***

         Di gua, Dor dihukum karena mengukur waktu, meminta waktu lebih banyak dari yang ia peroleh. Di sanalah ia menjalani hukuman menjadi sang penjaga waktu. Di gua itu pula, ia mendengar dua suara.

“Jalan lebih lambat.”, suara dari Sarah Lemon.
“Lebih banyak waktu.”, satu suara Victor Delamonte.

Sarah gadis cerdas yang sedang jatuh cinta dengan seorang anak remaja bernama Ethan. Perkenalannya membuat Sarah menaruh hati pada Ethan. Hingga suatu hari masalah dengan Ethan membuat Sarah ingin mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Padahal di ujung sana, ibunya berteriak menangisi puteri satu-satunya, setelah perceraian dengan suaminya.

       Victor memiliki penyakit yang tak bisa disembuhkan oleh pengobatan modern. Waktunya bersama istrinya, Grace, tak lama lagi. Ia berambisi menjadikan dirinya tetap hidup lebih lama. Sayangnya, ia memilih krionika yaitu mengawetkan tubuhnya untuk kelak dihidupkan kembali.

           Pertemuan Dor dengan jiwa Sarah dan Victor di gua itu membuat ketiganya membuka rahasia tentang waktu. Waktu tak akan pernah berubah, seperti yang diinginkan Sarah maupun Victor.

“Waktumu masih panjang,” katanya.
“Aku tak menginginkannya.”
“Tapi mereka menginginkanmu. Waktu bukanlah sesuatu yang bisa kaukembalikan. Saat berikutnya mungkin merupakan jawaban atas doamu. Menolaknya berarti menolak bagian yang paling penting dari masa depan.”
“Apa itu?”
“Harapan.” (hlm. 275)

“Mengertikah kau sekarang?
“Bila kita diberi waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya.” (hlm. 288)

***

Buku The Time Keeper ini merupakan buku pertama yang saya baca dari kelima buku Mitch Albom yang sudah diterbitkan Gramedia. Mitch Albom membuat kisah sang penjaga waktu ini menjadi fabel yang sarat hikmah dan inspirasi.

Waktu selalu diinginkan oleh siapapun di dunia ini. Manusia menginginkan banyak waktu untuk dirinya, bahkan hingga ada yang menginginkan keabadian hidup, seperti yang terjadi pada Victor. Ada Sarah pula yang menginginkan waktu berjalan lambat saat ia bersama Ethan. Tak ada yang pernah tahu bagaimana cara waktu bekerja, membalikkan hari-hari menjadi sebuah anugerah atau musibah bagi manusia yang menjalaninya.

Mitch Albom menuliskan dengan baik berbagai sifat manusia seperti yang tergambar dalam kelima tokohnya : Dor, Alli, Nim, Sarah dan Victor. Dor yang selalu sibuk dengan waktu, hingga ia melewati setiap waktu yang seharusnya ia jalani bersama istrinya. Alli yang lembut dan penurut pada suaminya. Nim yang haus akan kekuasaan, menghitung setiap ambisi menjadi sebuah impian yang harus diwujudkan. Saat itulah ia tak akan pernah menjadi puas. Sarah yang lugu dan perasa, baginya cinta menjadi yang utama, diabaikannya perasaan ibunya. Victor yang perencana dan selalu menang. Selama ini ia tak pernah menjadi pecundang yang kalah dalam strategi, maka disiasatinya segala masalah termasuk mempause takdir dirinya dengan krionika.

Kelima tokoh itu membuat saya jadi tersadar ada banyak ambisi yang dimiliki manusia perihal waktu. Waktu menjadi momok menakutkan bila tak berjalan sesuai keinginan. The Time Keeper mengajarkan makna untuk menghargai waktu yang kita punya, hingga tak ada lagi yang perlu kita sesali nanti. Overall, 4 bintang untuk novel ini. Selamat menikmati harimu ya! 

2 comments:

  1. Resensinya keren jd penasaran juga pengen baca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukunya bagus lho, Mak. Udah cetak ulang juga hehe. :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^