Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

7 July 2017

[Resensi Buku] Memori by Windry Ramadhina


Judul buku : Memori
Pengarang : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Terbit : 2012
Tebal : 304 hlm.
ISBN : 978-979-780-562-3

Rating : 4/5 bintang

Blurb :

Cinta itu egois, sayangku.
Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia – cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

***

Resensi Buku :

Mahoni, seorang arsitek yang sedang meniti karirnya di Virginia, dan terobsesi dengan Frank O. Gehry, harus pulang ke Jakarta saat kabar duka datang. Papanya dan Grace, ibu tirinya meninggal karena kecelakaan. Di rumah peninggalan papanya, Mahoni menemukan seorang anak lelaki bernama Sigi, adik tiri Mahoni. Mahoni tak ingin mengurus Sigi karena ia masih belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Papa Mahoni menikah dengan Grace saat ia kecil, ibunya Mae patah hati sekali karena hal ini. Mae sering menciptakan drama dalam hidupnya dengan mengungkit hal itu.

“Aku langsung tahu. Damar adalah kayu kesukaan Papa; bukan jati, nyatoh, atau sungkai; bukan pula mahoni. Karena itu, saat Papa memberi nama Sigi yang berarti damar kepada anak lelaki Grace, aku cemburu. Ya, kuakui alasanku membenci Sigi adalah alasan yang kekanak-kanakan. Dan perasaan itu menetap di dalam diriku selama bertahun-tahun, bersembunyi di balik kemarahan dan kebencian yang sesungguhnya kutujukan kepada Papa dan Grace hingga aku keliru mengenalinya.” (hlm. 70)

Om Ranu, saudara papanya meminta Mahoni tinggal di Jakarta karena ia harus kembali ke Jogja. Ia tidak bisa mengurus Sigi. Kini, Mahoni dihadapkan pada dua pilihan yaitu karirnya di luar negeri atau tinggal di Jakarta. Pilihannya jelas, ia lebih memilih karir. Namun saat melihat adiknya, Mahoni mengurungkan niatnya untuk kembali ke kota impiannya.

Mahoni memilih berjibaku di Jakarta. Ia tak sengaja bertemu dengan mantan kekasihnya, Simon yang juga seorang arsitek terkenal. Mahoni pun diajak bergabung dengan kantor arsitek MOSS yang didirikan oleh Simon dan Sofia, gadis yang juga jatuh cinta pada Simon. Bersama keduanya mereka meniti karir di Jakarta, membuat desain untuk klien-klien langganan dan percikan cinta datang lagi di kehidupan Mahoni dan Simon. Akankah Mahoni bisa berdamai dengan mantan kekasihnya dan masa lalu keluarganya?


***

Saya sudah lama tak membaca novel karya mb Windry Ramadhina. Novel Memori ini terlambat saya baca padahal sudah lama direkomendasikan oleh adek. Dan yak, saya melihat sisi lain Windry di buku ini. Novel Memori penuh dengan kenangan akan masa lalu, baik dari keluarga ataupun orang tercinta. Kenangan yang akan selalu ada meski orangnya sudah tiada.

Novel Memori karya Windry Ramadhina mencipta kisah keluarga yang getir dengan penyelesaian yang logis, tidak menye-menye. Meski yang dikisahkannya adalah kenangan tentang masa lalu yang kelam. Saya merasa di tengah cerita kisahnya terasa mengambang dan kehilangan karakter. Baru di akhir cerita lebih terasa feelnya.

Saya belajar banyak dari tokoh Mahoni saat ia belajar berdamai dengan Sigi yang tidak bersalah dalam urusan kedua orang tuanya. Bagaimana Mahoni bisa memaafkan masa lalu, bahkan menerima kehidupan yang telah terjadi padanya. Bagaimana ia berdamai bahwa papanya pernah menghilang dari hidupnya dan tinggal bersama ibu tirinya. Mahoni memahami bahwa kesedihan tak harus selalu tersimpan lama di dalam hati. Bahkan Grace, ibu tiri Mahoni melewati masa sulit dalam kesedihan yang ia simpan sendiri.

“Tidak, Mae. Grace tidak menari bahagia sementara kau melalui masa sulit. Dia harus menghadapi dunia Marra-nya sendiri.” (hlm. 268)

Saya juga belajar dari tokoh Sofia, bahwa hidup sejatinya perlu penerimaan yang baik atas hal-hal yang terjadi. Sofia mau menerima keputusan sulit meski yang dikorbankan adalah perasaannya pada Simon. Sedangkan Simon menjadi kacau dan kembali merokok meski dulu ia pernah berhenti menjadi perokok aktif saat dekat dengan Sofia.

“Simon yang menghadirkan dua benda tersebut bersama kebiasaan lama yang mewakili kegelisahannya. Dengan caranya sendiri, lelaki itu sedang berusaha melawan rasa bersalah.” (hlm. 268)

Cara Simon dan Sofia berdamai tentang masa lalu mereka sungguh di luar dugaan. Seperti yang dibilang Mahoni.

“Dalam dua bulan mereka terlihat seperti dua teman baik yang punya sedikit sejarah, itu saja.” (hlm. 280)

Jujur ya, buat saya itu ajaib ya. Berdamai dengan orang yang pernah menjadi bagian dari masa lalu itu ya luar biasa banget. Dua bulan terbilang waktu yang cukup cepat untuk mereka bisa kembali menjadi teman baik. Ya, salut banget dengan ketegaran hati Sofia. 😘

Karakter lain yang saya suka adalah Sigi. Dia dewasa sebelum waktunya, lebih dewasa mengambil sikap dibanding Mahoni sendiri. Bahkan ia mampu mengurus dirinya sendiri.

“Mae berasal dari Bahasa Hebrew yang berarti getir. Mae mengganti nama penanya dengan sebutan itu tidak lama setelah dia berpisah dengan Papa. Bagiku, sikap Mae menunjukkan pilihannya dengan jelas. Ada orang yang memilih bangkit dan mengobati lukanya setelah terjatuh, tetapi ada pula yang lebih suka  tetap terpuruk dan menangisi masa lalu. Mae adalah tipe yang kedua dan dia tidak ingin berada di kegelapan sendiri.” (hlm. 249)

Karakter paling menyebalkan kok jatuh sama Mae ya. 😢 Entah kenapa saya jadi bisa melihat bahwa sosok seperti Mae pasti ada di sekitar kita. Seseorang yang menyimpan lukanya sendiri, menginginkan luka itu terus ada di hati dan tak ingin menyembuhkannya. Justru memaksa orang lain untuk bersikap terluka sama sepertinya. Padahal waktu sudah lama berlalu tapi ingatannya tentang kegetiran yang dialaminya masih sama seperti saat ia pertama kali merasakan lukanya. Mae menjadi Marra, sosok penulis yang menabur kegetiran dalam setiap tulisan dan kata-katanya.

Menurut saya kisah dalam novel Memori ini bagus dan nggak pasaran. Di sepanjang cerita, pembaca disuguhkan kehidupan para arsitek dengan lika-liku kerjanya. Seru kali ya kalau novel Memori ini difilmkan. Hehe. Saya merasakan pencerahan tentang bagaimana menerima takdir dengan sebaik-baiknya, tanpa menghakimi Tuhan. Overall, 4 bintang untuk novel Memori karya Windry Ramadhina ini. 😍



5 comments:

  1. Ya ampuuun, aku salut banget sama dirimu mba, rajiiiin 😘
    Kayaknya emang ada ya mba sosok seperti Mae. Malah lebih parah atau biasa kita sebut psycho 😑

    ReplyDelete
  2. hmm jadi penasaran nih sama novelnya, aku juga sdg belajar berdamai dengan masa lalu dan sering ketemu sama org spt Mae, gregetan ya, dikasih tau suka ngeyel tapi ngeluh mulu :D

    ReplyDelete
  3. Penasaran jadi ingin tahu gimana sih kehidupan para arsitek itu...

    ReplyDelete
  4. Cinta..oh Cinta emang selalu jatuh di depan cinta ya.
    Ga akan abis kalo ngomongin cinta, jadu senyum2 sendiri niy Ilaa.

    Menyimpan luka di Masa lalu, bikin sakit ya, duh kasian Mae..
    Jadi kepo, sama novelnya.

    ReplyDelete
  5. Dan aku belum membaca novel ini. Aku suka semua tulisan Windry, kisah yang diramu selalu apik.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^