Langsung ke konten utama

[Resensi Buku Anak] Odet dan Kebun Kentang by Assyfa Nurhalimah

 
Odet dan Kebun Kentang


Judul Buku : Odet dan Kebun Kentang 

Penulis : Assyfa Nurhalimah 

Penerbit : Tiga Ananda

Terbit : Cetakan pertama, 2013

Tebal : 64 halaman

ISBN : 978-602-257-371-5

Genre : novel anak

Rating buku : 4,5/5 🌟


Baca ebook di aplikasi Ipusnas


❤️❤️❤️


[Sinopsis Buku Anak] Odet dan Kebun Kentang by Assyfa Nurhalimah


Kekesalan Odet makin berlipat saat Papi mengajaknya mengunjungi rumah Abah di Pangalengan. Padahal, dia masih kesal gara-gara percobaan kentang di sekolah. Meski tak setuju, Odet terpaksa ikut karena tidak ingin tinggal di rumah sendirian.


Di luar dugaan, Odet malah menemukan berbagai hal menakjubkan di kebun kentang milih Abah, termasuk celah rahasia. Celah rahasia itu menjadi tempat persembunyian Kimchi dan keluarganya. Bahkan tanpa disadarinya, Odet juga mulai menyukai kentang.


Apakah penyebabnya? Ikuti kisah serunya di buku ini. 


❤️❤️❤️


[Resensi Buku Anak] Odet dan Kebun Kentang by Assyfa Nurhalimah :


Awal baca cerita novel Odet dan Kebun Kentang ini, saya bingung kenapa penulis menyuguhkan kisah Odet yang harus mengurus percobaan kentang di sekolah. Kentang Odet berbau busuk karena sudah ditulisi nama orang yang dibencinya. Saking banyaknya orang yang dibenci, kentang Odet pun makin banyak.  


Maksudnya, cerita ini seperti cerita sepintas lalu saja. Padahal harusnya penulis menekankan bahwa Odet merasa perlu sekali mengurus kentang karena itu pelajaran penting di sekolah. Misal pelajaran biologi. Ternyata ini hanya percobaan berdasarkan kisah ala-ala workshop Spiritual Quotient dan Intellegent.


Ketika perpindahan alur, tahu-tahu cerita berpindah ke daerah lain. Ketika Odet harus ikut orang tuanya ke Pengalengan karena menjenguk nenek dan kakeknya. 


Nah, di bagian ini juga saya bingung nih. Nama kakek dan nenek itu memakai panggilan Abah dan Ema. Saya pikir, Odet sedang ngobrol sama ayahnya. Ternyata bukan. Hehe. 


Jadi kayaknya nih, penulis harus nulis Abah itu siapa, dan Ema itu siapa. Detail kecil semacam ini bisa berakibat membingungkan pembaca. Soalnya kita kan nggak tahu siapa abah itu. Mungkin di tanah pasundan, memanggil abah untuk kakek itu udah biasa ya. Cuma kalau di daerah luar sunda beda panggilan ya. Abah itu seingatku panggilan untuk ayah. 😁


Saya pikir Abah itu panggilan untuk ayah. Tapi ternyata malah paggilan untuk kakek. Sedangkan ayah Odet dipanggil Papi. Kupikir Odet ini anak broken home yang punya ayah tiri makanya panggilannya Papi. Wkwk. Maafkan hamba, ya Allah. πŸ˜…


Penulis menggunakan dua cerita yang dijadikan satu yaitu alur real/ nyata, dan alur di alam mimpi. Sebenarnya, sah-sah saja sih pakai dunia fantasi untuk menggambarkan cerita yang lebih seru dan menegangkan. Tapi, kupikir pas pertama baca kirain beneran fantasi semuanya. Hehehe. Nggak tahunya cuma mimpi tsaayy~


Yaaa... Ternyata, bumbu fantasinya hanya sekali saja, itu pun seperti halnya mimpi absurd pada umumnya. Si tokoh merasa berada di alam lain dan bertemu dengan kelinci yamg bisa bicara. Ini mengingatkanku dengan cerita di novel Alice in Wonderland. 


Hanya saja, dalam mimpi itu penulis membubuhkan informasi seputar manfaat kentang untuk manusia. Jadilah, terkesannya Odet makin pinter karena dapet mimpi ketemu kelinci. Wekeke. 


Kelebihan novel anak Odet dan Kebun Kentang adalah cara bercerita penulis yang menggunakan POV anak-anak. 


Anak yang masih belajar di sekolah dasar cenderung punya rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, pengetahuan mereka terbatas. Itulah mengapa Odet digambarkan sebagai anak yang sangat polos dan selalu bertanya tentang banyak hal. 


Odet juga tidak tahu bahwa daun singkong berbentuk seperti jari manusia dengan lima ruas. Selain itu, ada juga info bahwa singkong termasuk umbi-umbian, sehingga buahnya ada di dalam tanah, bukan di luar seperti tanaman lain. 


Pengetahuan umum semacam ini bisa diketahui anak-anak jika mereka bersentuhan langsung dengan alam. Bukan belajar di kelas mendengarkan guru mengajar. Itulah mengapa seharusnya pelajaran IPA (terutama biologi) lebih banyak dilakukan di alam dan di laboratorium. Alih-alih, anak hanya belajar di kelas secara umum. 


Yups... Karena ketika mereka melihat langsung bentuk tanaman, batang, buah, dan cara pengolahan hasil akhir tanaman, maka mereka akan makin kenal dan lebih memahami mengapa mereka harus menanam tanaman dan mengonsumsi hasil olah makanan tersebut. 


Penulis juga mengisahkan tentang bagaimana cara agar kita tidak keracunan makanan ketika mengonsumsi kentang. Yaitu dengan membersihkan dan membuang bagian yang hijau. Selain itu, kentang juga bisa digunakan sebagai obat maag dengan memarut dan mengambil air sari patinya. 


Overall, cerita anak dalam novel Odet dan Kebun Kentang ini cukup seru dan worth it buat dibaca. Kamu bisa akses ebooknya di aplikasi Ipusnas. 


Rating buku : 4,5/5 🌟


Nah, selamat membaca yah! ❤️



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku Gadis Kretek by Ratih Kumala

  Judul Buku : Gadis Kretek Pengarang : Ratih Kumala Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Terbit : Cetakan Ketiga, Juli 2019 Tebal : 275 halaman ISBN : 978-979-22-8141-5re Rating : 5 bintang Genre : Novel Sastra Indonesia Harga Buku : Rp 75.000 Baca Ebook Gadis Kretek pdf di Gramedia Digital Beli novel Gadis Kretek - Ratih Kumala di Shopee

[Resensi Buku] Sang Keris - Panji Sukma

  Sang keris Judul : Sang Keris  Pengarang : Panji Sukma Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Terbit : Cetakan Pertama, 17 Februari 2020  Tebal : 110 halaman Genre : novel sejarah & budaya ISBN : 9786020638560 Rating : 4/5 ⭐ Harga buku : Rp 65.000 Baca ebook di aplikasi Gramedia Digital ❤️❤️❤️

Resensi Buku Funiculi Funicula (Before The Coffee Gets Cold) by Toshikazu Kawaguchi

  Judul   Buku : Funiculi Funicula Judul Asli : Kohii No Samenai Uchi Ni (Before The Coffee Gets Cold) Pengarang : Toshikazu Kawaguchi Alih Bahasa : Dania Sakti Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Terbit : Cetakan kedua, Mei 2021 Tebal : 224 halaman ISBN : 9786020651927 Genre : Novel Fantasi - Jepang Rating : 4/5 bintang Harga Buku : Rp 70.000 Baca via Gramedia Digital