Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

22 March 2015

Anakku Tiket Surgaku : Mengajak Anak Beribadah Dengan Cinta

Judul : Anakku Tiket Surgaku
Penulis : Wuri Nugraeni, Aan Wulandari U. dan Uniek Kaswarganti
Penerbit : Tinta Medina (Imprint Tiga Serangkai)
Terbit : Juli 2014
Tebal : 334 hlm.
ISBN : 978-602-257-932-8

Blurb :
Anak malas shalat? Puasa juga bolong-bolong? Susah disuruh mengaji? Hemmm… jangan langsung disalahkan apalagi diomeli. Mereka adalah anak-anak yang masih membutuhkan perhatian Ibu, momen yang mampu mewarnai hari-hari sebagai ibu. Bisa jadi, kelak kita menua, Ibu akan merindukan masa itu.

Resensi :

            Seorang ibu memiliki kewajiban untuk menjadi madrasah peradaban bagi putra dan putrinya saat dalam masa pertumbuhan. Dalam lima tahun pertama, seorang anak akan menyerap banyak ilmu yang diajarkan oleh orang tuanya. Sebagai sebuah madrasah, Ibu mudah dekat dengan anak dibandingkan ayah. Karena itu biasanya Ibu yang paling sering mengajarkan anak-anak dasar agama yang akan mereka amalkan sepanjang hayat.


Shalat adalah fondasi kedua setelah syahadat seorang muslim. Saat seorang shalat, maka ia menegakkan agamanya. Anak yang diajarkan sejak dini untuk mengenal ibadah Islam, memorinya akan menguat hingga dewasa. Bila ibu menemukan banyak kendala seputar mengasuh anak, ingat kembali tujuan utama seorang ibu mendidik mereka. Agar anak kelak menjadi tiket surga bagi sang Ibu nanti. Kini, ibu bisa belajar dari ketiga penulis buku ini untuk saling menguatkan para ibu agar bisa tetap sabar menghadapi anak-anak di usia penting mereka.

         Dalam buku Anakku Tiket Surgaku ini, ada empat bab yang dibahas yaitu : shalat, puasa, mengaji, dan lain-lain. Bab terakhir memang berisi kumpulan kisah selain tiga tema utama lainnya, seperti : shadaqah, hijab, hafalan surat, maupun qiyamul lail.

Dalam bab “Shalat” ada 30 tulisan yang masuk bertema shalat pertama yang dilakukan anak-anak. Tema shalat memang paling mendasar karena termasuk rukun Islam, maka bahasan shalat mendominasi. Jumlah tulisan sebanyak ini telah mengisi kekosongan jumlah tulisan di bab “Mengaji” yang hanya diisi 9 tulisan.

Ilustrasi dalam tulisan Berburu Mukena
Dalam tulisan berjudul Berburu Mukena, ada seorang anak bernama Syifa yang memiliki kebiasaan unik. Sebelum wudhu, ia bermain air dulu. Sedangkan mamanya sibuk menyiapkan sajadah dan mukena. Namun Syifa tidak mau memakai mukena yang sudah disiapkan. Ia ingin memakai mukena berwarna biru. Syifa pun mengobrak-abrik isi lemari, seperti mencari harta karun emas. Setelah dicari, ternyata Syifa baru ingat mukena birunya ketinggalan di sekolah. Seperti itulah tingkah dan polah anak-anak, bikin ibunya mengelus dada.(hlm. 6)

Ada pula kisah berjudul My Life as Bobokers. Diceritakan seorang anak bernama Rafi sangat sulit dibangunkan shalat karena hobi tidurnya. Saat ia berusia delapan tahun, Mamanya membangunkan Rafi dengan berbagai cara. Termasuk menceritakan kisah Islami. (hlm. 41)
“Rafi sayang Mama?” 
“Iya.” 
“Kalau Rafi sayang Mama, berarti Rafi harus terus berbuat baik.” 
“Iya, Ma. Biar Rafi dan Mama nanti bisa ke surga bersama-sama.”
Lain waktu jika terjadi hal itu lagi, Mama akan mengeluarkan jurus andalannya dengan bertanya sambil mengelus kepala Rafi.
“Rafi mau kan ke surga bersama Mama?”
Rafi langsung terbangun dari tidurnya dan lebih memilih shalat. Bukan karena ingin ke surga, karena ternyata ia sudah tidak ingin dicium Mama. Anak remaja zaman sekarang memang sok antimama.

Kelak, momen penting seperti ini akan membuat ibu teringat dengan masa kecil anak-anak. Bila saat anak kecil berulah Ibu tidak menyikapinya dengan sabar, ibu akan menjadi Tiger Mom yang hanya akan marah dan mengomel. Padahal, jika itu terjadi, anak-anak akan menjauh dan memilih dekat dengan orang lain, misalnya bibi pembantu, nenek maupun kakeknya.

          Dalam kisah berjudul Puasa Sapi, diceritakan tentang kebiasaan anak ketika puasa tengah hari. Puasa sapi adalah istilah yang dipakai asisten rumah tangga sang mama. Bukan karena anaknya dibilang sapi, tapi, “Itu, lho, Bu. Mari mangan diusapi (setelah makan dilap mulutnya).” Istilah ini terdengar unik. Sang Mama pun memberi solusi dengan mengiming-imingi anaknya hadiah uang bila anak itu berhasil puasa sehari penuh. Ternyata cara ini berhasil karena sang anak langsung semangat berpuasa hingga adzan maghrib berkumandang.(hlm. 159)

      Ada kisah seru Nida dalam Guru Ngaji Lima Watt. Sang Mama memiliki kebiasaan menerapkan aturan dalam keluarganya yaitu “Tiada hari tanpa mengaji. Minimal satu halaman deh.” Tapi apa jadinya jika sang guru ternyata mengantuk sekali? Seperti yang terjadi pada mama malam itu yang harus mengajar ngaji Nida sendirian karena ayah Nida sedang pergi. Karena Mama mengantuk sangat, ia tidak bisa fokus pada suara yang didengarnya. Meski sudah masuk injury time waktu istirahat sang Mama, daripada salah melulu, akhirnya Nida dibebaskan bermain hari itu. (hlm. 201)

        Selain kisah-kisah di atas, banyak kisah lainnya yang menghiasi buku ini. Selain sebagai motivasi bagi ibu untuk tetap semangat mengajari anak-anak ibadah, para penulis buku ini juga berbagi senyum dan tawa karena tingkah konyol anak-anak saat bermain sambil belajar itu. Sebab surga dimulai dari hal yang mendasar, maka sejatinya peran ibu adalah terus menerus menggali potensi anak-anak dengan semangat, senyum, tawa, dan toleransi. Sebab, anakku adalah pintu surga setiap ibu di dunia ini.
ilustrasi buku : lucu~

Desain bukunya yang dibuat kecil membuat buku ini asyik dibaca di mana saja, bahkan di saat menunggu anak mengaji di madrasah atau sedang bersantai di teras rumah. Untuk tulisan, beberapa kalimat lucu dibuat berwarna lain, dan dihiasi ilustrasi dan emoticon yang cantik. Kekurangan buku ini ada pada jumlah tulisan yang tidak seimbang, sehingga porsi tulisan selain tiga tema besar kurang diangkat. Buku ini dibuat oleh tiga orang, tapi belum terlihat karakter penulis yang satu dengan penulis lain. Apalagi tidak ada keterangan siapa yang sedang bercerita sehingga saya hanya menebak-nebak saja. Empat bintang untuk buku ini. ;)

7 comments:

  1. Terima kasih untuk resensinya ya Ila :)

    ReplyDelete
  2. Ila rajin banget bikin resensi, TOP deh. Buku ini aku udah punya, beli langsung sama penulisnya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya, mba. Mumpung udah punya, dapet dari penerbit. :D

      Delete
  3. Hihi ceritanya lucuuk2 yah kak,
    bekeel ilmu nih kalo nanti jadi ibu :D

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^