Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

19 March 2015

[Resensi Buku] If I Stay - Gayle Forman

Judul : If I Stay
Pengarang : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan kedelapan, Februari 2015
Tebal : 200 hlm.
ISBN : 978-602-03-1322-1

Blurb :

Mia memiliki segalanya : keluarga yang menyayanginya, kekasih yang memujanya, dan masa depan cerah penuh musik serta pilihan. Kemudian, dalam sekejap, semua itu terenggut darinya.

Terjebak antara hidup dan mati, antara masa lalu yang indah dan masa depan yang tidak pasti, Mia menghadapi satu hari penting ketika ia merenungkan satu-satunya keputusan yang masih dimilikinya – keputusan terpenting yang akan pernah dibuatnya.

Resensi :

Mia terobsesi pada Cello hingga membuatnya ingin masuk ke Juilliard, sekolah musik favorit para calon musisi. Mia mendapat rekomendasi dan bimbingan dari seorang Profesor kenalan ayahnya. Ia harus melewati latihan panjang untuk dapat lolos audisi di Juilliard. Juilliard memberi beasiswa bagi calon murid di sana. Mom, Dad, dan Teddy sangat mendukung upaya Mia untuk maju dalam bidang yang ia sukai. Sayangnya, jika Mia lulus, berarti ia akan terpisah lama dengan Adam, pacarnya yang juga musisi band.

Adam dan Mia yang jatuh cinta karena musik, meski musik aliran mereka berbeda. Adam cinta pada Rock, dan Mia luluh pada musik klasik. Mereka tak menjalani kehidupan percintaan dengan mulus. Ada banyak masalah selama keduanya saling jatuh cinta. Ternyata cinta tetap saja rumit, baik bagi Mia maupun Adam. Mereka bersitegang saat Mia memutuskan untuk fokus ke audisi Juilliard, sedangkan Adam tak ingin Mia jauh darinya.

Ada Kim yang menjadi sahabat Mia di sekolah. Awal sekolah mereka melakukan banyak kenakalan. Suatu pagi yang dingin, Mia dan keluarganya mengalami kecelakaan yang parah. Mom, Dad dan Teddy meninggal, sedangkan Mia sekarat. Otaknya mengalami memar dan paru-parunya bocor. Saat Mia dirawat di ICU sebuah rumah sakit di Portland, Kim datang bersama dengan Adam. Untuk melihat kondisi Mia, Adam menggunakan cara brutal untuk masuk ke ruangan tempat Mia dirawat.
“Di dalam bangsal, semua perawat melihat ke arah pintu, mata mereka waspada. Aku cukup yakin apa yang mereka pikirkan : Kami sudah punya cukup banyak kesibukan tanpa perlu menenangkan orang gila di luar. Aku ingin menjelaskan bahwa Adam tidak gila. Bahwa dia tidak pernah berteriak, kecuali dalam situasi-situasi tertentu.” (hlm. 90)
Gran dan Gramps, nenek dan kakek Mia, datang menjenguk. Gramps selalu berbicara terus menerus pada Mia untuk menjaga kondisinya agar tetap stabil. Pasien koma berada di antara hidup dan mati yang membuatnya harus mengambil keputusan apakah akan tetap tinggal atau pergi.
         “Tidak apa-apa. Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apa pun yang kuinginkan di dunia ini. Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Maka aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang.” (hlm. 152)   
Kim yang mengunjungi Mia, melalukan hal yang tidak dilakukan orang lain; mengobrol.
        “Tidak ada yang pernah bicara padaku sejak kecelakaan terjadi. Mereka hanya bicara tentang diriku.” (hlm. 59) 
       “Tolong jangan meninggal. Aku mengerti mengapa kau ingin meninggal, tapi pikirkan ini: Jika kau meninggal, akan ada memorial norak ala Putri Diana di sekolah, tempat semua orang meletakkan bunga, lilin, dan surat pendek di sebelah lokermu. Aku tahu kau benci hal-hal seperti itu.”(hlm. 59)
         Dan di saat kritis itulah, Adam juga melakukan hal yang sama. Mengajak Mia untuk bicara. Mia mendengar saat Adam ingin ia memilih antara ada dan tiada. Keputusan ada di tangan Mia. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

***

If I Stay menyuguhkan drama penuh haru. Kehidupan sebelum kematian menjadi setting yang dimunculkan pengarang dengan apik. Keputusan harus diambil Mia untuk tetap tinggal atau pergi selamanya. Membaca novel ini seperti menonton film 49 Days, di mana si tokoh utama melihat kilas balik kehidupannya untuk menentukan apakah ia akan tetap tinggal, atau pun meninggal. Bagaimana seorang yang akan meninggal diperlihatkan kehidupan masa lalu dan masa depan hingga akhirnya ia mampu mengambil keputusannya.

Saat melihat Gramps, Kim dan Adam menjenguk dan mengobrol dengan Mia. Di titik di mana Gramps mengikhlaskan Mia, di situlah ternyata roh Mia justru merasakan kelegaan. Karena orang yang ditinggalkan di dunia ternyata membolehkannya untuk pergi, jika pun itu pilihan yang diambil Mia. Banyak di antara kita yang pernah melihat orang dalam kondisi kritis memang seperti itu. Saat keluarga sudah ikhlas, justru saat itulah saat yang ditunggu.

If I Stay juga menampilkan sisi lain seorang ibu dari suami musisi. Meski berantakan pada awal pernikahan, Mom dan Dad mengalami perubahan dalam hidup saat Mia dan Teddy mengisi hari-hari mereka, sebagai seorang anak. Kehadiran kedua anak itu yang membuat Dad mau mengubah gaya hidup dari seorang anggota bank rock menjadi seorang pengajar. Bahkan Dad mengambil S2 agar bisa mendapat pekerjaan yang layak.

       Saya juga menyukai interaksi Mia dan Teddy, adiknya yang alami dan bagaimana mereka membangun kehidupan keluarga yang hangat dan saling mendukung. Meski akhirnya Ted dikabarkan meninggal, tanpa penjelasan detail. Scene romance yang dimunculkan malah membuat saya merasa aneh dan asing. Karena kondisi awal Mia yang sedang sekarat justru memunculkan ingatan tentang Adam. Adamlah yang ditunggunya. Mengapa bukan Gran dan Gramps atau Kim yang notabene lebih lama mengenal Mia? Mengapa justru orang yang baru berapa tahun mengenalnya?

          Ada beberapa quote favorit yang saya suka ;
“Kau tidak perlu mahir; kau hanya perlu berkomitmen. “ (hlm. 51) 
“Orang-orang memercayai apa yang ingin mereka percayai.” (hlm. 65)
Di novel ini juga disisipkan tentang diskusi Mia dan Kim perihal orang Yahudi. Meski dalam scene yang tidak mengambil porsi banyak, tapi cukup membuat saya terkesiap karena menyadari bahwa pengaruh kaum ini cukup kuat di dunia, bahkan dalam sebuah buku. Buku ini telah difilmkan tahun lalu. Saya belum nonton filmnya, hanya melihat trillernya. Jadi saya belum bisa berkomentar banyak tentang film yang based on book ini. Overall, 3,5 bintang untuk ceritanya. 

6 comments:

  1. Yaaaaah? KOK GANTI COVERNYA? Aku lebih suka cover yang lama. (LOL, padahal bacanya versi english).
    Aku suka banget sama ceritanya. Yang belum kesampaian itu baca sekuelnya: Where She Went, bercerita dari sudut pandang Adam. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga belum baca lanjutannya, kang. Udah nonton filmnya belum? Bagus ga ya? Penasaran. :D

      Delete
  2. Aku lebih suka cover terbaru ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga lebih suka cover ini. Terlihat sendu, mba Sulis. :D

      Delete
  3. Penasaran sama diskusi ttg Yahudi itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini salah satu kalimatnya, bun.
      "Kaumku tahu bagaimana cara bertengkar mati-matian, tapi dengan kata-kata, dengan banyak sekali kata."

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^