Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

16 March 2015

[Resensi Buku] Kembali ke St.Clare - Enid Blyton

Judul : Kembali ke St. Clare (St Clare #2)
Pengarang : Enid Blyton
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan kedelapan, Juli 2010
Tebal : 256 hlm.
ISBN : 978-979-22-5299-6


Blurb :

Liburan telah usai. Betapa senangnya kembali ke St. Clare. Bertemu teman-teman lama, berkenalan dengan teman-teman baru, mengadakan pesta tengah malam, iseng mengganggu guru… dan tentu saja tak ketinggalan kerja keras untuk mendapat nilai yang tinggi.
Semua itu memang mereka alami.
Dan lebih lagi!
Karena anak-anak baru lebih meramaikan suasana. Terutama Margery, yang ternyata sama sekali lain dari yang semula diduga anak-anak.

Resensi :

Pat O’ Sullivan dan Isabel, saudara kembarnya akan masuk tahun ajaran baru. Bersama dengan Alison, sepupunya, mereka akan melalui petualangan seru di St. Clare. Sekolah yang dihuni oleh anak perempuan dan berasrama ini memiliki aturan yang ketat soal nilai. Anak-anak bebas berolahraga, menjahit, merajut, maupun belajar bahasa, namun yang terpenting nilai harus berada di standar yang ditentukan oleh guru mereka.

Suatu kali, terjadi sebuah insiden saat pesta tengah malam. Isabel, Pat, Hetty, Susan, Nora, Janet dan Winnie diajak oleh Tessie. Tessie, seorang anak kelas tiga mengajak mereka untuk hadir di acara pesta tengah malam. Acara ulang tahun ini bersifat rahasia sehingga semua anak yang terlibat hanya berani berbisik menggunakan bahasa isyarat. Sayangnya kekacauan terjadi ketika Erica, teman sekelas Isabel membuat keributan. Erica mengetuk pintu kamar Mam’zelle, guru bahasa Prancis mereka. Padahal pesta berada di samping kamar Mam’zelle. Mam’zelle pun memergoki kedelapan muridnya melakukan pesta. Karena itu mereka disuruh menghadap kepala sekolah.
“Perbuatan kalian bisa dinilai serius apabila kalian sering melakukannya Tapi kali ini aku menilainya sebagai kenakalan biasa. Walau demikian, kenakalan pun perlu dihukum. Karenanya, selama dua minggu kalian tidak boleh pergi ke kota. Artinya, selama dua minggu kalian tidak bisa ikut berjalan-jalan, berbelanja, atau pergi ke restoran dan ke bioskop. Soalnya, jika kalian bersikap seperti anak kecil dan bukan seperti gadis remaja, aku pun terpaksa memperlakukan kalian seperti layaknya terhadap anak kecil. Anak kecil belum bisa diberi keleluasaan seperti gadis-gadis yang menjelang dewasa. “(hlm. 72)
            Erica melakukannya karena ia tidak suka dengan si kembar. Ia ingin agar mereka dihukum. Namun, Margery, murid baru yang bersikap kasar dicurigai oleh Isabel dan Pat sebagai biang keladi. Si kembar mengira Margery yang selama ini bersikap kasarlah yang tega mengetuk pintu Mam’zelle dan mengacaukan pesta. Siapa sangka ternyata Erica justru kelak ditolong oleh Margery. Margery yang kasar sebenarnya adalah korban dari ketidakstabilan di dalam rumahnya. Ia memiliki ibu tiri yang mengambil seluruh perhatian ayahnya. Margery memiliki reputasi berpindah ke enam sekolah karena sikapnya yang kasar dan suka memusuhi.

            Namun tindakan Margery menolong Erica mengubah segalanya. Lucy punya rencana untuk membantu Margery mendapatkan perhatian ayahnya lagi. Dengan menulis sepucuk surat bahwa Margery menolong temannya dalam musibah kebakaran, dan menceritakan keunggulannya di bidang olahraga. Ayah Margery akhirnya datang ke sekolah untuk menengok. Lucy yang bermasalah dalam keuangan pun juga harus berkemas untuk keluar dari sekolah asrama yang elit itu. Bagaimana masalah demi masalah bisa dihadapi Isabel dan teman-temannya?

***

          Buku Enid Blyton yang satu ini baru saya baca satu seri. Ada beberapa kemiripan tentang ide sekolah asrama. Seperti Malory Tower yang juga ditulis Enid, St. Clare juga menggunakan setting sekolah asrama khusus anak perempuan. Saya belum merasakan bedanya St. Clare dengan Malory Tower. Yang terlihat hanya perbedaan pada tokoh utama yaitu si kembar. Seri ini juga banyak berkisah tentang anak-anak nakal yang akhirnya mendapatkan cara untuk menyelesaikan masalah mereka masing-masing.

Di seri ini juga dikenalkan cara anak asrama berinteraksi. Seperti pergi berdua dengan teman agar aman jika ke kota, menghabiskan waktu di ruang rekreasi, pertandingan regu antar kelas, maupun insiden di sanatorium. Saya jadi makin yakin bahwa JK. Rowling mengadaptasi kehidupan anak-anak berasrama yang ditulis Enid Blyton ini, karena beberapa kemiripan dalam membangun setting sekolah berasrama.

        Di buku ini pula masalah seperti menggantung, misalnya saja bagaimana nasib Lucy belum pasti, karena ia belum melaksanakan ujian untuk mendapatkan beasiswa. Ada pula Erica yang terpaksa pindah. Melihat Erica pindah saya pikir tindakan ini terburu-buru, tapi karena Erica sudah telanjur malu karena perbuatannya, jadi solusi ini yang terbaik. Ada juga kenakalan anak-anak pada Mam’zelle seperti memasukkan kumbang ke kotak kacamatanya. Overall, 4 bintang untuk seri kali ini.

2 comments:

  1. aku cuma baca buku pertamanya aja, nggak cocok =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah yang pertama belum baca. Sold out soalnya. :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^