Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

4 March 2015

[Resensi Buku] Ranu : Saat Hati Menemukan Cintanya


Judul : Ranu
Pengarang : Ifa Avianty & Azzura Dayana
Penerbit : Quanta
Terbit : 2013
Tebal : 305 hlm
ISBN : 978-602-02-1267-8

Masa lalu yang kelam ibarat luka yang akan memberi rasa pahit bagi pemiliknya. Kehilangan separuh jiwa meninggalkan bekas yang dalam bagi Irene. Irene yang single mother bertemu dengan Ranu, seorang manager sekaligus fotografer di sebuah pantai. Ranu menjadi dekat dengan Irene saat membuat proyek film tentang suku Baduy. Irene mengingatkan Ranu pada cinta pertamanya yang sudah meninggal, yang bernama sama, Ai.

Ide film ini menyeret Ranu pada perjumpaan dengan sosok Ayuni. Ayuni yang menjadi fotografer kebanggaan Dios, sahabat Ranu, untuk proyek Baduy. Ia seorang pendaki gunung yang tangguh namun pemurung dan ketus. Tapi Ranu justru berhasil menemukan sisi lain pada dirinya. Sebuah kelembutan bak bunga edelweiss dan kedamaian bak danau Ranu Kumbolo.

Kisah pencarian hidup tentang makna cinta yang sebenarnya. Tentang pencarian akan kehidupan yang berujung pada sebuah pergulatan batin. Akankah sebuah mimpi masa depan terwujud nyata di saat mereka sedang menyelesaikan proyek? Clue apakah yang sebenarnya menghubungkan antara Ranu dan Ayuni? Bagaimana pula dengan Irene, sosok Princess yang ada di hati Ranu maupun Ayuni?

***

Ini buku kedua yang saya baca dari Mba Ifa dan Azzura. Sebelumnya saya membaca My Avilla dan Tahta Mahameru. Buku ini ibarat perpaduan dari dua tema yang disajikan di dua buku tersebut. Saya melihat cermin yang dipantulkan Ifa dalam sosok Princess ala putri Eropa yang juga muncul di My Avilla. Saya juga melihat kerinduan Azzura mengungkap keindahan dibalik Ranu Kumbolo, meski ia hanya menyisipkan lewat potongan kenangan Bang Fajar.

Ifa banyak berperan dalam membentuk karakter tokoh dalam proses pencarian jati diri. Azzura membentuk setting pedalaman Baduy dengan apik. Kolaborasi tema menjadi daya tarik yaitu Baduy, cinta masa lalu, fotografi dan traveling. Penulis mengaitkan ilmu lomografi bermoto “don’t think, just shoot” yang menjadi tren di kalangan traveler dadakan dengan hobi ngeblog Ranu. (hlm. 83) Deskripsi tempat yang paling berkesan yaitu di pantai, jembatan bambu di sungai, dan di Baduy dalam. 

Buku berlabel Islami ini berkonteks universal. Corak islami dimunculkan penulis lewat perjodohan dan profesionalisme kerja. Seperti yang dilakukan Dios dan Ayuni saat mengerjakan proyek. Ini salah satu bagian paling baik karena proyek tetap berjalan meski Irene menghilang. Lewat perjodohan juga tidak ada interaksi yang berlebihan karena digambarkan Ai justru suka dengan lelaki lain, si cinta platonisnya, sehingga Ranu memilih mundur. Ada juga sisi kesetiaan yang dimunculkan dalam adat Baduy.

“Dan dari obrolan gue sama beberapa bapak Baduy, gue tahu kalau mereka enggak mengenal yang namanya perceraian. Pernikahan itu berlangsung sampai mati, dan hanya untuk satu istri dan satu suami. Lu tahu makna pintu rumah yang jumlahnya hanya satu di setiap rumah? Itulah lambang kesetiaan mereka. Hanya ada satu istri untuk satu suami.” (hlm. 103)

Karakter tokoh memiliki beberapa kemiripan sifat, seperti Dios, Irene, dan Ayuni yang dibuat nyablak dengan kadar yang berbeda. Karakter ini mirip satu sama lain sehingga saya kesulitan melihat sudut pandang unik ala si tokoh. Penulis membedakan POV setiap tokoh dengan sub judul. Akan lebih baik jika setiap tokoh memiliki keunikan sifat yang tak bisa tergantikan dengan tokoh lain, sehingga menjadi ciri khasnya. Ciri khas ini akan membuat pembaca lekat dengan karakter tokoh.

Pencarian jati diri dimunculkan sebagai side back dari masa lalu yang kelam. Ada takdir yang mengaitkan antara ketiga orang dengan nama yang serupa tapi berbeda sifat dengan takdirnya kini. Irene yang tegar pun berubah bukan tanpa sebab, karena ia memilih untuk merenungkan pilihannya.

“Bertolak belakang dengan kamu, dia tak religius sama sekali. Saya harus terus berpikir lagi dan lagi tentang ide menjadikan dia imam penggantimu bagi kami. Saya tidak sebodoh itu, meski misalnya saya amat menginginkan dia.”(hlm. 199)

Ayuni yang tomboy menjadi trademark dari traveller perempuan yang anti kemapanan dan anti dandan. Sisi dirinya yang kaku dan kasar dimunculkan dalam obrolan dengan teman travelernya. Nyatanya, ada juga kerapuhan yang disimpan rapat Ayuni saat ia meraba dirinya lewat bayang masa lalu.

“Satu-satunya yang harus lu lakukan adalah, tatap masa depan. Masa lalu tidak akan pernah kembali. Manusia boleh sedih, tapi sekadarnya. Seperti halnya kalau tertawa, tidak boleh berlebihan. Cinta memang terkadang membuat seseorang sedih, Ay. Tapi cinta juga selayaknya memberikan kebahagiaan  dalam jumlah lebih dan mengalahkan kesedihan itu. Kalau lu terus-terusan sedih seperti ini, gue enggak yakin lu masih menyebutnya cinta.”(hlm. 149)
“Shalatku selama ini banyak yang bolong-bolong. Mungkin, cara pertama untuk mengakhiri hidup yang main-main adalah bisa dengan menambal bolong-bolong itu.”(hlm. 229)

Menulis duet memang sulit bila penulis tidak memplot karakter lebih dulu. Karakter Irene yang religius dan sopan mendadak menjadi terkesan welcome dengan lelaki padahal sebelumnya ia sendiri yang ingin menjauhi Ranu, tapi malah masih berkomunikasi dengan Dios. Irene terkesan tidak konsisten dengan pilihan yang dijalani. Padahal jika penulis lebih konsisten dalam karakter, saya pikir ada baiknya Irene menyelesaikan dengan caranya sendiri. Dalam etiket kesopanan Eropa, keberanian adalah salah satu hal yang dijunjung tinggi. Melihat Irene menghilang justru menghancurkan imagenya, karena ia berubah jadi pengecut.

Ending dibuat berjejalan di akhir, saat setiap tokohnya memilih jalan hidup yang sudah direnungkan. Meski terkesan dipaksakan dalam satu scene saat mereka harus saling berhadapan dengan perubahan dalam diri masing-masing, saya melihat penulis berusaha menampilkan transformasi itu. Dengan kekakuan sikap Ayuni, sikap tertunduknya Ranu yang menjadi sopan, dan tampilan baru Irene. Overall, saya menikmati penyajian kisahnya, dengan plus minusnya.

5 comments:

  1. wuih mantep reviewnya...
    saya blum pernah baca karya dua2nya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo suka buku2 feminim, teh Ifa banyak nulis novel tentang itu. Ada buku terbaru Teh Ifa yang baru terbit, tapi aku juga belum baca, mba Nath. Hehe. Kalo Azzura banyakan traveling, buat yang suka mendaki cocok tuh. :D

      Delete
  2. belum pernah baca karya kedua penulis, jarang banget baca novel islami, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo dibaca, Sulis. Sekarang banyak novel Islami yang lebih universal, jadi pesannya lebih umum tersampaikan. :D

      Delete
  3. buku duet kadang memang susah yah mbak untuk nyatukan karakter penulis, chika jg jarang baca buku duet, kalo kumcer sering,
    belum baca buku ini hihii

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^