Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

9 May 2014

Resensi Buku 10 Bersaudara Bintang Al Qur’an


Judul : 10 Bersaudara Bintang Al Qur’an
Penulis : Izzatul Jannah dan Irfan Hidayatullah
Penerbit : Sygma Publishing
Terbit : Cetakan keempat, 2010
Tebal : 150 halaman
ISBN : 978-602-8096-91-1
Rating : 4/5

            Zaman semakin berubah, kehidupan yang tidak mudah pun makin sering kita jalani. Orangtua merasakan susahnya mendidik anak agar menjadi anak yang baik dan shaleh. Apalagi di tengah gempuran kebobrokan moral yang ada di sekitar kita saat ini, tantangan yang dihadapi oleh orangtua tidaklah mudah. Untuk itulah, saatnya keluarga kembali kepada Al Qur’an.

            Keluarga Qur’ani yang dibangun oleh visi misi berlandaskan Al Qur’an akan mampu menembus rintangan zaman. Berinteraksi dengan Al Qur’an, kitab suci umat Islam merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Berbekal keinginan yang kuat agar bisa menjadi penjaga Al Qur’an di bumi Allah, maka Mutamimul ‘Ula dan Wirianingsih yang merupakan orangtua kesepuluh bintang Al Quran yang telah mengantarkan anaknya menjadi penghafal al Qur’an di usia yang belia. Anak-anak dididik disiplin untuk berinteraksi akrab dengan Al Qur’an. Hal ini berawal dari harapan sang Ayah yang ingin semua anaknya bisa berbakti pada orangtua lewat hafalan. Namun seiring waktu, anak-anak yang merasakan beratnya menghafal, akhirnya mulai terbiasa dan menjadikan hafalan Al Qur’an sebagai kebutuhan, bukan hanya kewajiban.

            Lalu, siapa sebenarnya Wirianingsih dan Mutamimul ‘Ula? Wirianingsih atau biasa disapa Wiwi adalah pemimpin tertinggi salah satu organisasi Muslimah yang cabangnya meliputi 150 kota di Indonesia. Sementara Pak Tamim adalah anggota DPR RI. Jika yang dididik adalah satu anak, hal ini wajar, tapi mengingat kesibukan kedua orangtua tersebut, rasanya mendidik anak menjadi penghafal Al Qur’an adalah sebuah keistimewaan. Apalagi jumlah anaknya ada 10 orang, kesemuanya menyelesaikan hafalannya di usia belia.

            “Saya tidak melewatkan masa-masa penting usia emas perkembangan anak. Saya selalu berdoa setiap hari, setiap saat dari anak kesatu sampai dengan anak kesepuluh, agar mereka menjadi generasi unggul.”

            Pak Tamim mengirim anak pertamanya ke pesantren tahfidz. Putra pertamanya tinggal di pesantren sejak kelas dua sekolah dasar. Dan berhasil menjadi hafidz. Beberapa aturan dalam menghafal diadaptasi dari lingkungan pesantren. Seperti program satu jam berinteraksi dengan Al Qur’an.

             Ada pula aturan yang sudah disepakati berdasarkan musyawarah seluruh anggota keluarga, ditulis secara rinci, dilaminating, dan ditempel di dinding. Tata tertib itu ketat mencakup beberapa hal. Yaitu berhubungan dengan: asas-asas hubungan antarkeluarga, ketentuan rumah tangga, kegiatan belajar mengajar, kegiatan makan minum, adab menerima tamu, pakaian, listrik, peralatan elektronik, perpustakaan dan buku, kamar mandi, kamar tidur, ruang dapur, pesawat telepon, mobil, sepeda motor dan menjaga keamanan. (halaman 50)

            “Ketika kecil, keterpaksaan itu jelas ada karena saat itu ada kecenderungan perasaan malas. “ (Afzalurahman, anak pertama)

            Dengan keteladanan yang diajarkan orangtuanya secara langsung, meski merasa terpaksa, anak-anak akhirnya menerima aturan itu sebagai sebuah kesepakatan. Di mana, orangtua pun memberikan apresiasi bila anaknya berhasil dalam menghafal. Ada award yang akan diterima sang anak, sesaat setelah mendapatkan prestasi dalam sekolah maupun hafalan. Setiap anak beda-beda, jadi jika anak pertama suka barang A, maka ia mendapat apa yang dia inginkan, beda lagi dengan anak kedua yang suka barang B. Pendekatan personal ini yang membuat apresiasi yang diberikan tepat sasaran.

            “Hikmah menghafal Al Qur’an banyak sekali. Yang jelas merasa punya suatu tanggung jawab, terutama implikasinya pada kehidupan sehari-hari. Wallahua’alam. Waktu saya belajar terasa jadi lebih gampang. Prestasi pun nggak jelek-jelek amat. Teman-teman banyak nanya. Kesibukan kan banyak, emangnya bisa ngatur waktu sama belajar? Justru bagi saya belajar jadi lebih mudah, banyak terbantunya. Saya kan, belajar di Syar’i jadi banyak berinteraksi dengan Al Qur’an.” (Maryam, putri ketiga)

            Beberapa kunci sukses menjadi hafidz qur’an antara lain : bacaan al qur’an yang benar, niat yang ikhlas dan pemahaman akan fadilah yang benar, menjauhi kemaksiatan dan dosa, memanfaatkan masa muda, memanfaatkan waktu efektif dan waktu luang untuk repetisi hafalan, memilih tempat yang tepat, motivasi yang kuat dan tekad yang benar, mengoptimalkan seluruh indera, menggunakan satu cetaan mushaf, bacaan yang baik dan benar, hafalan yang saling berikatan dan memaknai hafalan. (halaman 136)

            Tantangan untuk mewujudkan keluarga Qur’ani yang hakiki insya Allah akan dengan mudah dilalui. Bila Al Qur’an tidak hanya sekadar dihafalkan, namun juga diamalkan, dimaknai, dan diwujudkan dalam seranai peradaban. 

9 comments:

  1. Wah jadi malu dengan diri saya sendiri, sampai saat ini baca Al-Quran tidak lancar... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya, sama, kak. Anak-anak pak Tamim rata-rata sudah bisa baca Al Qur'an usia 5 tahun dan mulai menghafal di usia yang sama. Keren ya. :D

      Delete
  2. seperti mengingatkanku untuk lebih rajin baca Al Quran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, bun. Semoga makin dekat dengan Al Qur'an dan bisa mengamalkan ajarannya.

      Delete
  3. Waah subhanaAllah yaa... orang tua luarbiasa yang sangat berbahagia InsyaAllah.
    Tapi mostly anak2 dikirim dari usia dini ke pesantren tahfiz ya mba. Jujur buat saya itu hal yang paling berat... Cita2 sih maunya, si bungsu jagoan bisa diarahkan ke sana. Tp susah bgt ngelepasnya, kayaknya gak rela gt :)
    Setidaknya pelajaran dr Pak Tamim n Ibu Wiwi, menyemangati kita utk menjadikan Al Quran bagian dr suasana di rumah ya mba..

    ReplyDelete
  4. salam kenal dari www.yaumilakbarfirdaus.com.
    seorang bloger yang tinggal jauh dari keramaian kota.

    ReplyDelete
  5. Masya Allah, keren banget ya mbak :) Yang paling keren adalah orangtuanya, mereka bisa mencetak generasi Qur'ani..

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^