Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

5 May 2014

Resensi Buku Temui Aku di Surga by Ella Sofa

Temui Aku di Surga : Menyelami Intrik Politik dan Tabir Kematian

             Kesan tentang seorang sahabat akan selalu terasa nyata dan ada. Akan selalu terpatri di hati, meski ia sudah meninggal dunia. Pun sama dengan yang dirasakan oleh Yudho yang menjadi sahabat Malik. Ia masih mengingat dengan jelas mimpi-mimpi yang dikisahkan Malik. Yudho dan Malik bersahabat. Keduanya dekat, bahkan saling mendukung satu sama lain, meski strata sosial mereka jauh berbeda. Malik anak orang berada, Yudho miskin. Malik yang jatuh cinta pada Hesti, seorang gadis penghafal quran pun, menanyakan perihal kesediaan gadis itu untuk dilamar. Sayangnya, jawaban Hesti belum Malik dapatkan. (halaman 71)

            Idealisme yang dibangun Malik saat ia ingin mencalonkan diri menjadi kepala desa, mengetuk hati Yudho. Ia ingin pembangunan di kampungnya yang belum merata, segera terselesaikan. Salah satu cara dengan mengajukan diri menjadi kepala desa. Sesaat sebelum Malik mencalonkan diri, ia meninggal dalam kecelakaan. Demi Malik, Yudho bertekad ingin melanjutkan impian yang tertunda itu.

            Meski halang rintang tak mudah dilalui. Yudho harus melewati masalah yang berliku, mulai dari intrik kecurangan surat suara, hingga harus berurusan dengan orang kampung yang lebih percaya pada mitos tentang jas yang diberikan dukun untuk memenangi pemilihan. Dukun?! Bagi Yudho, mempercayai dukun itu pamali. Tidak boleh dilakukan, apalagi hanya demi mengejar tahta. Tapi, bagaimana dengan stereotip yang sering terjadi di masyarakat? Bahwa kemenangan politik identik dengan kekuatan mistis yang menyokong dibalik keberhasilannya.

            “Jas itu adalah sarana yang diberikan dukun itu! Barang siapa yang mengenakan jas Ontokusumo waktu pemilihan, pasti ia yang akan menang! Itu sudah terbukti dari beberapa kali pemilihan yang lalu lho!” (halaman 177)

            Jika orang lebih percaya ajaran sesat yang dikenalkan para dukun, maka apa yang akan terjadi di masyarakat jika pemimpinnya saja percaya hal seperti itu? Meski ngeri membayangkan bagaimana nasibnya nanti, Yudho tetap saja melajukan impian Malik. Baginya, tak ada yang bisa menghalangi keinginannya, berbekal keyakinan dan dukungan, ia melangkah. 

            Drama demi drama dalam hidup Yudho pun dimulai. Jika selama ini Yudho tak pernah punya musuh, sejak ia mencalonkan diri, ia mendapatkan teror dari kelompok abangan. Mereka yang merupakan preman sering melakukan kekerasan, mereka dibayar oleh orang yang merasa posisinya menjadi calon kepala desa terancam(halaman 191). Bagaimana akhir dari kisah Yudho? Baca saja buku ini.

***
Pertama kali tahu bahwa Mba Ella Sofa telah menerbitkan buku ini, saya takjub membaca perjuangannya dalam menyelesaikan proses penerbitan hingga naskah fix di tangan editor. Jujur, butuh perjuangan keras bagi seorang penulis untuk menyelesaikan revisi bertubi-tubi seperti yang mba Ella tulis dalam postingannya di sini. Ada banyak coretan editor yang tentu membuat penulis harus memoles naskahnya hingga menjadi sebuah naskah siap cerna dan layak untuk diterbitkan. Apalagi penerbitnya adalah sebuah penerbit yang sudah punya nama : Quanta Elexmedia. 

Jika menilik judul dan sinopsis bukunya, novel ini memberi kita keberagaman informasi lewat alur ceritanya yang dinamis. Saya belum pernah membaca buku bertema politik, meski dulu pernah masuk dalam organisasi intra kampus yang sering membahas tentang demo dan sebagainya. Ah, politik memang naif. Memberi sisi diri sebuah dilema seperti yang dialami oleh Malik dan Yudho. Karena sebuah janji dan idealisme yang sudah terlanjur terpatri, Yudho akhirnya meneruskan perjuangan Malik untuk tetap mencalonkan diri sebagai kepala desa. 

Novel ini menurut saya cocok untuk iklim saat ini. Apalagi menjelang pemilihan presiden 2014. Jika pun editor sampai meloloskan naskah ini dan siap terbit dalam waktu yang singkat, itu artinya mba Ella berhasil mengemas naskahnya menjadi cerita yang memang punya nilai jual. Editor pun biasanya melihat sisi market value sebuah naskah. Jika dalam sebuah naskah ada peluang untuk diterbitkan, maka editor akan meminta pertimbangan bagian marketing untuk berdiskusi dengan yang lain membahas apakah karya ini akhirnya bisa naik cetak. 

Pemilu sudah berlangsung tahun ini, tinggal menghitung bulan untuk merasakan hingar bingar pemilihan yang lebih gencar dengan aroma black campaign seperti yang dialami oleh Yudho. Saya rasa, buku ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk menilik apa saja intrik dalam sebuah politik dan juga membahas tabir kematian sang pelaku politik tersebut lewat sebuah karya fiksi. 

Situasi dan unsur lokalitas di daerah Jepara sebagai setting terjadinya konflik ini sangat kuat ditambah dinamika pergerakan satu adegan dengan adegan lainnya yang terasa begitu cepat membuat saya menyelesaikan novel ini dalam waktu singkat. Hanya saja, karakter Hesti belum dieksplore dengan lebih banyak. Intrik yang rumit hingga membawa pada ancaman kehilangan nyawa sudah sering saya dengar saat di kampus. Jadi, bagaimanakah jejak langkah para politisi yang nyata-nyata ada di tingkat yang lebih massif seperti kepala desa?. 

Apa kamu berminat untuk membacanya? Sebuah buku yang semoga menjadi bagian dan lahan amal bagi penulisnya karena memberi pencerahan untuk tetap berpegang pada idealisme dan menjadikan agama sebagai penopang hidup. Sukses untuk mba Ella Sofa ya. Semoga bukunya laris manis. :)
Judul Novel     : Temui Aku di Surga
Penulis             : Ella Sofa
Penerbit          : Quanta, Imprint dari Elex Media Komputindo 
Tebal buku      : 228 hal.
Terbit              : 2013
ISBN                 : 978-602-02-1360-6
Harga Buku     : Rp. 44.800,-

22 comments:

  1. Saya berminat untuk membacanya. Sepertinya buku ini menarik karena terlihat penuh tantangan dalam hal politik. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurutku bagus, Lana. Soalnya kata penulisnya pun, udah melewati revisi2 yang cukup banyak. Jadi hasilnya memang bagus.

      Delete
  2. Wah... temanya gak biasa, ya? Menarik sekali. Dan ya, cocok dengan keadaan sekarang yang memang lagi rame pemilu. Jadi pengen baca bukunya. TFS. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba Nia. Lagi rame pemilu, jadi buku ini bisa jadi salah satu pilihan kalo suka novel bertema politik ;)

      Delete
  3. Aku tadi mikir, apa menariknya novel yang bertemakan politik ya? Namun justru disitu nilai lebihnya ya? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba. lagi ambil moment yang pas nih, di tahun politik yang panas, hehe

      Delete
  4. Bukunya terbaca sangat 'masa kini', karena ada intrik pilkades kali ya ^^

    Aku suka dengan penulis yang bisa memanfaatkan moment, jadi tertarik sama penulisnya. Eh, resensinya asik loh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, kak :D Iya, pas momentnya, hehe

      Delete
  5. Sukses juga untuk Ella Sofa. Salam kenal dari Adelays,
    Sekalian memberikan informasi kalau berminat ikut lomba ngeblog berhadiah Rp. 12.500.000, saya share disini :
    http://adelays.com/2014/05/02/lomba-nge-blog-berhadiah/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, makasih linknya, kak. Meluncurr :D

      Delete
  6. Perdukunan yang kerap mewarnai kancah politik di Indonesia hadir ya di Novel ini. Kerenn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi inget kasus calon pejabat yang mandi di sungai beberapa bulan lalu deh, mba. Setelah baca ini jadi keinget itu.

      Delete
  7. temanya beda banget ya ka..
    Sudut pandangnya cowok lagi ya, padahal penulisnya cewek :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ran. Sudut pandangnya cowok banget. Hihi :D

      Delete
  8. Membaca resensi ila jadi kepengen membaca buku ini..:)

    ReplyDelete
  9. keren Ila resensinya. makasih ya sudah sharing tulisan ini.

    ReplyDelete
  10. resensinya kereeeen, ternyata aku belum pernah baca karya mba Ella sofa *niat beli

    ReplyDelete
  11. Buku baru Mbak Ella ya? Wahhh ... setting lokal, Jepara. Patut dicari dan dibeli nih^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. buku mba ella lho, bukan leyla hana :D ayo dibeli, tha ;)

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^