Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

16 May 2014

Resensi Buku Uhibbuka Fillah by Ririn Rahayu Astuti Ningrum


Judul : Uhibbuka Fillah
Penulis : Ririn Rahayu Astuti Ningrum
Penerbit : WahyuQolbu
Terbit : 2014
Tebal : 304 halaman
ISBN : 979-795-825-6

“Adik, cinta kita bagai Laut Utara. Andai Kakak adalah ombak, Adik adalah pantai. Pantai yang selamanya setia menunggu ombak datang menyapa. Jika Kakak adalah hujan, maka Adik adalah pelangi. Pelangi tak senantiasa setia menunggu hujan reda untuk menampakkan dirinya. Berjanjilah.” (halaman 3)
            Sebuah surat melangitkan cinta Aini, melayangkannya pada rindu masa lalu. Cintanya pada Hasan melarungkan rasa yang membuainya pada penantian. Pada hati yang sesungguhnya tak menentu itu, Aini masih berharap Hasan, lelaki yang entah ada di mana sekarang, akan mengingat janjinya. Aini masih merangkai harapannya pada Hasan, kisah cinta masa kecilnya saat SMP yang sering mengiriminya surat. Dalam surat yang sering dibaca berulang kali oleh Aini, ia menuliskan kota Paciran, sebuah kota di Jawa Timur dengan nama Bhumiku. Sebuah sebutan untuk bumi yang ia cintai, tempat ia mengenal Hasan saat SMP. (halaman 5)
            Aini adik kelas Hasan. Surat-surat yang tersimpan itu tak berbilang banyaknya, mulai menguning dengan coretan tangan yang sudah sulit untuk terbaca. Namun tidak dengan perasaan Aini. Bagaimana Aini bisa menerima lamaran Dana, seorang lelaki teman masa SMA-nya, bila hatinya masih tertambat pada Hasan? Meski sepuluh tahun telah berlalu, Aini masih meyakini janji Hasan. Padahal, tanpa Aini tahu, kini sudah ada perempuan lembut bernama Atiqa yang sudah dilamar Hasan sejak lama. Tinggal menunggu Hasan wisuda, maka mereka akan melangsungkan pernikahan. (halaman 167)
            Perjalanan kisah cinta antara Aini dan Hasan menyuguhkan dilema. Tak terkira luka yang dialami oleh Aini saat tahu Hasan telah menolaknya, tapi bukan hanya Aini yang terluka tapi juga Dana. Aini kembali menjajal hatinya agar tetap tegar dan memperjuangkan cintanya. Dana yang tak tega akhirnya membiarkan Aini memilih cinta sejatinya. Linangan air mata Aini lah yang mampu membuat Dana melafalkan kata ikhlas untuk cintanya. Dana mengemasi rindu yang kian membuncah, membuat ia memilih untuk meredam rasanya sendiri. Akankah Aini mendapatkan cinta yang ia nantikan? Bagaimana nasib Atiqa, Dana dan Hasan selanjutnya?
            Novel karya Ririn Rahayu ini ingin bercerita tentang pengejawantahan kisah cinta yang sering dialami oleh para pecinta seperti Aini dan Hasan. Bagaimana cinta bisa melumpuhkan logika hingga tak ada lagi ruang yang tersisa untuk kembali menata hati dan diri. Seranai kata yang bertuang dalam kisah ini memberi pemahaman kembali pada para pelaku cinta untuk mendekatkan diri pada sang Maha Pecinta, Allah, yang membolak-balikkan hati pada rindu yang satu, rindu yang akan menuju muaraNya.
           Novel cinta ini bertabur istilah sastra dengan diksi yang rumit, meski begitu penulisnya menyediakan glosarium untuk memberi pemahaman tentang makna kata yang disajikan dalam novelnya. Dana mengalami pendewasaan baik spiritual maupun mental saat bersinggungan dengan sahabat-sahabatnya antara lain Rini, Aini, Syakim juga Hasan.
            Melalui novel ini, penulis ingin menyisipkan pesan agar para perempuan menolak bimbang pada cinta yang melenakan. Hal ini terungkap dalam beberapa ayat dan kisah sahabat yang dikutip dalam buku ini, agar para pencinta memberi porsi yang wajar pada cintanya, seperti kisah sahabat nabi, Salman Al Farishi saat melamar perempuan yang dicintainya, namun justru perempuan itu jatuh hati pada Abu Dharda. Bagai takdir, kita hanya harus melesatkan anak panah pada sasaran yang tepat, selebihnya tinggal Allah yang berkehendak menggenapkan takdir. Pun sama halnya yang terjadi pada kisah cinta Aini. Dana berjibaku memperjuangkan cintanya, hingga akhirnya ia mendapatkan jawaban dari istikharahnya.
            Salah satu yang membuat kisah ini menarik adalah romantika cinta yang santun dan penuh ketulusan hati dibalut dengan jalinan cinta yang berhikmah. Juga setting tempat berganti seiring perjalanan yang dilakukan beberapa tokohnya. Dari Jogja, Gresik, Paciran, Kediri, Malang dan Surabaya membuat nuansa lokalitas menjadi nilai lebih dalam novel ini. 

18 comments:

  1. 'menolak bimbang pada cinta yang melenakan' <-- hm, suka dengan kalimat ini...
    trims sharingnya, Ila :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, hehe. Makasih udah berkunjung, mba Mechta :D

      Delete
  2. wah, jadi pengen baca bukunya :)

    ReplyDelete
  3. Di Jogja sudah ada belum ya? saya juga tertarik. terimakasih untuk resensinya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah ada di Gramedia seluruh Indonesia, mba. Ayo dicari :D

      Delete
  4. Kalau sering baca review atau resensi buku orang lain, pengen juga sebenernya bikin buku sendiri :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk bikin buku sendiri, Kak. Ditunggu karyanya ya :D

      Delete
    2. Iya betul banget. Jadi pengen nulis buku juga.

      Delete
  5. maauuu dong baca bukunya...
    menyentuh kisah cintanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba Pudja. Cinta ala anak pesantren. Hehe ;)

      Delete
  6. Assalamualaikum semua ada yang tau nggak twitter ID penulis novel ini?
    Alhamdulillah setelah baca buku ini, saya jadi lebih mengetahui arti cinta ilahi sebenarnya.. yaitu cinta yang berkiblat dan berlandaskan rasa cinta kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumsalam wr. wb.
      Ada, mba. Ini id twitter mba Ririn. @Ririn_Uhibbuka :)

      Delete
  7. Terima kasih Mbak Ila, sudah meresensi novel saya. Salam kenal dan terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengapresiasi Uhibbuka Fillah. Semoga nggak bosen membaca novel saya ^_^ Aamiin...

    ReplyDelete
  8. Subhanalloh..saya sangat kagum dengan novel Uhibbuka Filah. jadi ingin bertemu dengan penulisnya ^_^

    ReplyDelete
  9. udah baca novel nya .alhmdllah aku mngrti apa itu cnta yg sbnrnya .bgus bnget .mnginspirasi saya :)

    ReplyDelete
  10. Pengen bukunya dong.. Terbitan bulan apa? Sepertinya menginspirasi sekali

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^