Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

27 June 2014

Resensi Buku Menjadi Djo - Dyah Rinni

Judul Buku : Menjadi Djo
Pengarang  : Dyah Rinni
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit           : Cetakan pertama, Mei 2014
Tebal            : 296 halaman
ISBN/EAN    : 9786020304472 / 9786020304472
Bisa dibeli di Grazeera dan Amazon


A Guan akrab dengan Yanto, anak pembantu di rumah keluarganya, keluarga Tan. Bagi A Guan, bersahabat tanpa sekat dengan Yanto membuat perubahan dalam dirinya. Ia belajar bagaimana sifat tanggungjawab Yanto menular padanya saat harus menghadapi kemarahan mama karena insiden sepeda petugas PLN yang ia pinjam tanpa ijin. Yanto juga yang membela A Guan saat diganggu Swan Tiem, teman sekolahnya yang menyebutnya ba tauka, alias orang Tionghoa yang berteman dengan orang pribumi.

A Guan yang seorang China totok bersahabat dengan Yanto yang pribumi asli. Apa yang membuat keduanya bisa selalu bersama? Sebuah gabungan sifat yang berbeda namun saling melengkapi, seperti puzzle yang saling membersamai. Jika ada A Guan, di sana ada Yanto pula. Bersama mereka sering menghabiskan waktu bermain. Mulai dari memanjat pohon trembesi, main layang-layang, membaca komik pendekat silat, hingga bermain di kedai kopi Ho Peng yang ada di belakang rumahnya.

Namun, persahabatan lintas rasial itu harus terpisah karena tragedi tahun 1965. A Guan harus pindah ke Jakarta bersama keluarganya, memulai hidup baru, menjauh dari kerusuhan yang terjadi di Medan. Di Jakarta ia menemukan petualangan masa remaja, dan penemuan atas makna cinta serta menjadi Indonesia.

A Guan harus berganti nama menjadi Djohan Sutan, peraturan pemerintah menyatakan demikian agar tidak terjadi kericuhan lagi akibat isu rasial. Semua anggota keluarga Tan juga berganti nama menjadi nama yang lebih terdengar Indonesia.

“Apa kita akan selalu begitu? Masalah kita baru bisa selesai kalau kita punya back up, punya hubungan dengan pribumi dan penguasa?” (hlm. 172)

         Dari pengalaman hidupnya, Djohan alias Djo menemukan jalinan takdir yang membentuk dirinya saat ini. Dulu ia belajar bisnis dari siapa saja, termasuk dari bisnis A Beng, kakaknya yang hobi membuat benang gelasan saat musim main layang-layang tiba. Ia juga menjalankan bisnis pertamanya yaitu menlajukan pergerakan majalah Samantha dan Ricci News bersama Geng Apache. Djo pun pernah harus banting setir mengurus bisnis kaset Honsin demi membayar uang SPP yang harganya mencekik keuangan keluarga.

Hidup di Jakarta tak semudah bayangan Djo. Banyak pergesekan hidup yang membuatnya harus berani mengambil risiko dalam persahabatan dan juga cinta. Termasuk ancaman teror dari seseorang yang memecahkan kaca jendela rumahnya dengan tulisan yang diselipkan di batu. “Mati lo, China”.

“Katanya orang nggak butuh alasan buat membenci sesuatu.”- A Beng

Segala yang ia alami menjadikan Djo dewasa. Akankah ia akhirnya mendapatkan apa yang ia citakan? Menjadi Indonesia dengan caranya sendiri hingga isu rasial tak hinggap lagi dalam kebersamaannya dengan orang lain? Yuk, baca novel ini. ;)

***
Novel Menjadi Djo terinspirasi dari kisah nyata seorang direktur perusahaan pengiriman terbesar di Indonesia yaitu JNE, bernama Johari Zein. Saya baru tahu makna tagline JNE yaitu Express Across Nations yang merupakan simbol semangat untuk bersama tanpa batasan suku maupun bangsa.

Dituturkan dengan lincah dengan gaya bahasa remaja, novel ini mampu membawa pembaca ke sebuah masa di mana para tokohnya hidup saat itu. Ada tiga bagian novel ini yaitu Medan awal 1960-an, Jakarta 1966, dan Jakarta 1972. Hingga kini, isu rasial tetap jadi komoditas untuk memecah kesatuan bangsa. Padahal, apalah arti dari warna kulit yang melekat pada diri? Seorang Djo tak ingin dianggap sebagai Tionghoa yang hanya ingin mengambil untung dari pribumi. Baginya, menjadi Indonesia artinya bersahabat tanpa sekat. Sebab ia lahir di bumi Indonesia, ia ingin menjadi sepenuhnya orang Indonesia, diterima menjadi putera bangsa.

Di buku ini pembaca juga jadi bisa lebih tahu bagaimana keadaan kerusuhan tahun 1965 di mana isu komunis yang katanya melibatkan orang Tionghoa, justru membuat suasana makin memanas. Chaos di mana-mana. Bahkan meski sudah berganti nama menjadi nama Indonesia pun, ketentraman masih belum sepenuhnya didapat oleh orang Tionghoa.

O iya, saya menemukan ada kesalahan ketik di bagian ini.
Halaman 126 : “Namanya sudah bukan lagi A Guan lagi, Ma.” Kata lagi diulang dua kali, seharusnya sekali saja.
Halaman 129 : “Kata Papa, nama itu diambidarinamapahlawan, TeukuUmarDjohanPahlawan.” Di kalimat itu kurang spasi antar kata.
Halaman 186 : “Kenny dan Herman memilih sekolah yang lain. Untung masih ada Herman dan Corby yang memutuskan untuk bersekolah di tempat yang sama.” Herman diketik dua kali. Seharusnya Kenny dan Raymond.
Halaman 141 : “Tapi gue nggak selalu punya uang duit buat beli bacaan.” Seharusnya kata uang dan duit dihapus salah satu. Uang atau duit saja yang ditulis.  

Penulisnya yaitu mba Dyah Rinni melakukan riset untuk novel ini dengan detail. Saya menemukan ada beberapa bagian di mana ia menuliskan tentang musik, segala hal yang berhubungan dengan orang Tionghoa seperti detail makanan, juga kesenian betawi yang jarang kita tahu. Untuk kuliner, ada mie untuk makanan orang Tionghoa sebagai simbol panjang umur. Lalu, baju merah yang sering digunakan saat pesta. Dan ada tren fashion saat itu dengan celana cutbray yang melegenda.

Quotes yang saya suka ini :
“Biarlah dia menerima hukuman itu. Biar dia sikit-sikit  mengerti kalau setiap perbuatan itu ada risikonya. Kau selalu bilang kalian berdua ingin jadi pendekar, kan? Pendekar juga harus berani menerima hukuman kalau salah, To. Itu baru namanya pendekar sejati.” (hlm. 28)
“A Guan, kita memang harus menghindari masalah, tetapi terkadang justru masalah yang datang kepada kita. Kita tidak punya pilihan selain menghadapinya. Pastikan saja kamu tahu mana yang harus kamu pilih.” (hlm. 50)
“Coba semua orang di dunia ini seperti kalian, hanya bermain tanpa melihat warna kulit. Mungkin dunia ini akan jauh lebih damai.” (hlm. 121)
“Duit gampang dicari. Kalau pershabatan lenyap, mau dicari ke mana?” (hlm. 151)

Ada beberapa istilah yang sayangnya tidak dituliskan dalam glosarium. Seperti ini misalnya : ba tauka, huana, dan sudako. Nah, tertarik untuk mengikuti kisah hidup Djo? Yuk baca buku ini. Agar kamu tahu apa arti Indonesia bagimu.

"Sukses memang selalu dijanjikan kepada mereka yang mau bekerja keras. Siapa pun yang mau bekerja keras, pasti akan diganjar kesuksesan, dan jenis sukses inilah yang bertahan lama." (Johari Zein - Managing Director PT JNE)

5 comments:

  1. "Huana" artinya perempuan Indonesia. "Sudako" artinya kendaraan umum di Medan. "Ba tauka" kurang tahu apa. *maklum, anak Medan* Makasih review-nya. Jadi tertarik baca bukunya. :)

    ReplyDelete
  2. Quotesnya menginspirasi yaah mbak :)
    persahabatan, cinta menjadi hal yang selalu menarik.

    ReplyDelete
  3. Idenya keren tapi typonya cukup banyak ya :)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^