Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

29 March 2015

[Resensi Buku] Spring – Heeled Jack by Philip Pullman


Judul : Spring – Heeled Jack (Jack si Pelompat)
Pengarang : Philip Pullman
Penerbit : Gramedia
Terbit : September 2008
Tebal : 128 hlm.
ISBN : 978-979-22-4033-7

Jauh sebelum ada Batman dan Superman, Jack si Pelompat telah membantu masyarakat membasmi kejahatan.

Rose, Lily, dan Ned lari dari panti asuhan mereka. Tapi, bahaya terus mengintai mereka. Mulai dari Mack si raja penjahat sampai Mr. Killjoy, kepala panti asuhan yang menginginkan liontin warisan ibu ketiga anak malang itu.

Saat Rose, Lily, dan Ned benar-benar terjepit, muncullah Jack si Pelompat!

***

            Ini novel anak kedua yang saya baca karya Philip Pullman. Sebelumnya saya membaca I was a Rat! yang ternyata lebih kompleks dari novel ini. Novel ini terbilang tipis untuk ukuran anak-anak, selain itu tokohnya pun tidak terlalu mendominasi. Awalnya saya kira Jack akan menjadi sentral cerita, tapi ternyata ia hanyalah sesosok makhluk yang membantu anak-anak itu. Tak diperlihatkan bagaimana Jack dalam keseharian ketika tidak memakai topeng, seperti yang sering kita lihat di film Superman atau Batman.

          Jack di sini benar-benar hanya sebagai penyelesai masalah. Ia menampakkan diri di halaman 16. Lalu muncul di hadapan Patty di halaman 43. Dan di halaman 73, ia baru benar-benar beraksi. Sangat berbeda bila dibandingkan para super hero yang kita kenal kan? Biasanya porsi kemunculan super hero lebih banyak. Namun di sini baru setengah buku si Jack muncul lagi. Jadi di sini penulis lebih menitikberatkan pada keberanian para anak-anak itu sendiri. Jack seperti penjelmaan dari keberanian yang ditimbulkan dari keadaan terdesak. Ia hanya muncul bila kondisi benar-benar kritis.

Digambarkan bahwa Rose bersaudara mengalami masalah karena dikejar penjahat bernama Mack, ada pula kepala panti asuhan yang jahat bernama Mr. Killjoy. Dari kejar-kejaran inilah kisah bergulir hingga akhirnya menemukan akar masalah, dan penyelesaiannya. Dari novel ini saya belajar bagaimana penulis mengembangkan cerita hingga membuat para tokohnya tidak hanya sekadar tempelan saja. Setiap tokoh berperan hingga akhir cerita, bahkan tokoh figuran seperti penjual pai dan pemain musik bersama monyetnya, Patty, Jim Bowling, Filthy bahkan peri yang mengganggu Filthy.

         Setting novel ini ada di London era Victoria, di mana masa itu adalah masa paling kelam karena banyak penjahat muncul. Kondisi perekonomian yang yang carut-marut diawali oleh krisis yang terjadi di masyarakat. Bahkan, panti asuhan pun menjadi tempat yang tidak aman untuk anak-anak terlantar. Penulis mampu menggambarkan suasana di era Victoria ini, yang sangat mencekam. Hingga jalanan sunyi sepi setiap malam. Sebagai novel anak, novel ini disajikan dengan ilustrasi tokoh dan dialog seperti komik. Sehingga gambaran suasana lebih terasa. 4 bintang untuk kisahnya. 

2 comments:

  1. aih, buku ini sudah lama di rak, tapi belum saya baca-baca. dari semua buku Philip Pullman, cuma ini yang tersisa. kepingin nyari yang I was a Rat. kalo judul lain kalo ga salah lebih berbau fantasi ya mbak? apa bener?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, adanya yang ini, mba. Buku2 Philip Pullman udah susah dicari. Terakhir baca I was a Rat juga pinjam di perpus, hehe. :D
      Kalo judul lain kayaknya lebih ke dongeng, agak2 fantasi, mba.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^