Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

7 January 2015

[Resensi Buku] I Was a Rat! – Philip Pullman


Judul : I Was a Rat! Or The Scarlet Slippers
Pengarang : Philip Pullman
Penerbit : Gramedia
Terbit : Cetakan pertama, 2007
Tebal : 256 halm.
ISBN : 978-979-22-3430-5
Genre : Novel anak/Inggris

Bob dan Joan mendapati seorang anak kurus berpakaian pesuruh mengetuk pintu rumahnya. Anak itu mengaku sebagai tikus. “Dulu, aku tikus!” Mungkin omongannya benar. Tapi makhluk apa ia sekarang? Kedua pasangan tua itu mengira anak malang itu kehilangan ingatan. Bob menamainya Roger. Tak ada yang tahu dari mana asal usulnya. Hanya saja, Roger berlaku seperti tikus. Ia hobi mengerat dan mencabik apa saja, termasuk selimut yang diberikan Joan. Pakaian pesuruh yang dipakai pun lusuh dan tercabik.

“Tikus juga tidak bisa bicara.”
“Dia bisa saja belajar bicara dengan mendengarkan dari balik dinding. Dan dia bisa saja mengambil seragam itu dari jemuran.”
“Berani taruhan, begitulah kejadiannya. Dia anak liar, dan dia dibesarkan tikus. Kau bisa membaca hal-hal seperti itu tiap minggu di surat kabar.”
“Kau lelaki tua yang konyol.”(hlm. 20)

Bob merasa perlu mengajari anak itu sopan santun. Memakan dengan sendok, garpu dan pisau, membersihkan diri di WC, maupun mengucapkan terima kasih dan maaf pada orang lain. Demi membuat Roger terlihat manusiawi dibanding tingkahnya yang mirip tikus.

        “Kau membuat Joan kesal, maka kau harus minta maaf. Rapatkan pakaian tidur itu ke tubuhmu, kau tidak boleh berkeliaran telanjang, itu tidak sopan.”(hlm. 24)

Bob tua mengira akan bisa mengembalikan anak itu pada tempat asalnya. Ia dan sang istri berkeliling membawa Roger ke balaikota, kantor polisi, rumah sakit, dan sekolah. Namun semuanya gagal. Anak itu selalu membawa masalah. Ia tak berlaku sebagaimana anak pada umumnya. Roger mengerat apa pun. Ia mengira pensil yang dikunyahnya bernama kesabaran.

Roger juga menunjuk foto Puteri yang menikah dengan sang Pangeran kerajaan yang dimuat Koran Daily Scourge. Roger mengaku mengenal sang putri, “Namanya Mary Jane, aku kenal dia.” Padahal koran itu menyebut nama sang putri dengan Aurelia. Petualangan Roger dimulai ketika ia hilang dari tempat Filsuf Royal yang mengamati tingkah Roger sebagai bahan penelitiannya. Roger menghilang, lalu dipungut oleh Mr. Tapscrew, seorang pemilik pertunjukan orang-orang aneh di pasar malam. Roger didandani mirip tikus. 

Ketika ia menghilang lagi, ada sebuah kasus yang melibatkan Roger, sebuah gerombolan pencuri yang terencana. Tubuhnya yang kurus membuat ia diajak menjadi maling yang lihai. Hingga sebuah kejadian mengerikan terjadi, seluruh kota digemparkan dengan isu tentang monster mengerikan yang gentayangan di gorong-gorong. Pengadilan akan mengadili dan menjatuhkan eksekusi kematian pada monster itu. Padahal Roger cuma anak laki-laki biasa, walaupun kebiasaannya mirip tikus. Hanya tiga orang memercayai versi ini. Dan hanya seorang yang tahu siapa sebenarnya Roger. Dapatkah Joan dan Bob mencari cara menolong Roger? Apa hubungan Roger dengan Mary Jane, sang puteri?

***
Philip Pullman dikenal sebagai penulis best seller asal Inggris. Ini pertama kalinya saya membaca karyanya. Penulis buku anak yang fantastis, kesan pertama yang meski awalnya membuat kepala saya pusing karena heran. Keabsurdan ceritanya memukau dari awal hingga akhir. Cepat dan cerdas, juga memancing tawa, itu komentar New York Times. Saya sepakat dengan hal itu. Apalagi terjemahannya halus dan lincah.

Awal-awal saya mengira si Roger ini beneran gila. Dalam arti yang sebenarnya. Ia mungkin berhalusinasi sebagai seekor tikus. Tidur dan makan seperti tikus, ia juga menggeliut mirip tikus. Tapi setelah akhir yang mencengangkan, saya berpikir lain. Eh, mungkin ini semacam kisah fantasi yang diambil dari kisah Cinderella. Bila Mary Jane adalah puteri yang berdansa dengan pangeran lalu menghilang bersama dengan kereta kudanya, maka Roger adalah tikus yang diubah menjadi pesuruh sang puteri. Ketika Mary Jane yang kisahnya mirip Cinderella ini pulang tergesa dengan keretanya, Roger tertinggal hingga tidak bisa berubah wujud menjadi tikus lagi. Kedengaran seperti kisah lanjutan dari Cinderella kan?

Tapi tentu ini hanya tebakan saya saja, karena Philip membuat kisahnya menggantung tanpa memberikan fakta yang sebenarnya terjadi. Jadi, sampai akhir cerita tak ada yang tahu apa benar omong kosong Roger tentang kisah “Dulu, aku tikus!” adalah kenyataan. Kalau tidak nyata, berarti Mary Jane hanya bersikap “berpura-pura” demi menyembuhkan Roger, mirip kisah yang saya baca di “Istana Air” karya Ary Nilandari. Di mana anak-anak kadang memiliki khayalan tingkat tinggi, hanya orang yang bisa masuk ke dalam khayalan merekalah yang bisa berkomunikasi dengan lancar tanpa hambatan.

Bagian yang paling saya suka yaitu saat Bob dan Joan bercanda tentang gerbong tua. Analogi yang unik untuk menggambarkan betapa mereka terlalu lama mendamba anak hadir dalam pernikahannya selama 32 tahun. Sebuah dialog cerdas yang membuat saya tertegun kala membacanya. Inilah dialognya :

“Kurasa sekarang kita memiliki tujuan hidup. Selama bertahun-tahun kita bergulir terus seperti sepasang gerbong kereta tua. Aku tak memikirkan apa-apa selain sol, hak sepatu, dan harga kulit. Tapi ketika seorang anak kecil mengetuk pintu kita, aku bagai terhantam, sungguh. Sekarang dia lenyap dan aku tak mau bergulir terus di jalur lurus sampai ke kubur. Ada hal lebih baik yang bisa kulakukan. Kau bersamaku, gadis tua?”(hlmn. 164)

“Kau lelaki tua yang konyol. Dan berani sekali kau bertanya apakah aku bersamamu. Jika tidak ingin selalu bersamamu sampai ke gudang kereta, Bob Jones, aku sudah lama pergi.”(hlm. 165)

             Ada juga obrolan Roger dengan Filsuf Royal tentang kekuatan mengingat.

“Begitu belajar mengingat, kau tidak perlu mencatat. Kau bisa menyimpan semuanya di dalam kepalamu. Takkan butuh banyak tempat. Asal kau melipat semuanya sampai rata. Aku pernah melihat Joan melakukan itu pada seprai, dan kupikir, itu ide yang bagus. Maka aku melipat dan menyetrika semua hal di dalam kepalaku, lalu menumpuknya dengan rapi. Aku tahu di mana semua berada.”(hlm. 79)

Juga suka dengan quotes ini.

“Menurutku, yang terpenting bukanlah apa dirimu, tapi apa yang kaulakukan.”(hlm. 240)
“Sulit sekali jadi manusia, tapi tidak terlalu sulit jika kau berpikir kamu memang manusia. “(hlm.249)

Obrolan di akhir cerita yang membuat kisah ini terasa lebih manusiawi dan alami. Haha. Ya, overall, saya suka kisah absurd ini. 5 bintang untuk petualangan yang seru. 



No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^