24 Januari 2023

[Review Buku] Pengantin Remaja by Ken Terate


Judul buku : Pengantin Remaja

Penulis: Ken Terate

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: edisi digital, 2022

Tebal: 384 halaman

Genre buku : young adult, romance

ISBN: 978-602-06-6010-3

Harga : Rp 97.000

Rating: 4,5/5 🌟

Baca ebook di Gramedia Digital






❤️❤️❤️

Sinopsis Buku Pengantin Remaja :


Dimabuk cinta, Pipit mengangguk sambil tersipu saat pacar tampannya mengajaknya menikah. Pipit masih SMA, tapi dengan gembira meninggalkan sekolah demi menjalani angan hidup indah bersama laki- laki yang ia sayangi.

"Cinta adalah soal hati, bukan usia." Bukankah ada lagu yang bilang begitu?

Pipit yakin Pongky akan menjaga, melindungi, dan memenuhi semua kebutuhannya. Kalaupun tidak, cinta pasti akan menguatkan mereka dalam kondisi apa pun. Benarkah begitu?

Pipit mulai bertanya-tanya setelah bulan madu berlalu. Tinggal di rumah mertua yang kekurangan air tapi kelebihan makian, memikirkan cicilan kompor gas... membuat dunianya jungkir balik nggak karuan.

Apakah cinta muda yang menyebabkan kekacauan ini? Apakah menjadi pengantin remaja berarti mimpi Pipit berhenti sampai di sini?






❤️❤️❤️

[Resensi Buku] Pengantin Remaja - Ken Terate :  


Pipit menikah dengan Pongky karena yakin dengan janji manis cowok itu. Tapi, usia Pipit baru 17 tahun saat ia menikah muda. Bahkan, ia belum lulus SMA. Tinggal 1 tahun lagi Pipit lulus sekolah, tapi cinta membutakan segalanya. 


Baginya, menikah lebih mudah dilakukan daripada harus belajar di sekolah. Selain itu, bapak Pipit juga meminta pernikahan disegerakan agar tidak timbul fitnah. 


Namun, pernikahan seumur jagung itu dilanda prahara saat Pongki ketahuan selingkuh dengan Nona, cewek anak pemilik kontrakan tempat mereka tinggal. 


Atin, sepupu Pipit yang mengetahui hal itu justru memanasi agar mereka pisah. 


"Ya ampun, Pit, sadar dong. Kamu cuma dijadikan budak sama suami dan mertuamu. Dia enak-enak selingkuh, sementara kamu dapat apa?"


Pongki sudah menelantarkan anaknya, jadi seharusnya Pipit memilih jalan terbaik agar pernikahan itu punya status yang jelas. Bercerai atau malah lanjut?


"Memangnya kamu butuh apa? Makan udah ada. Baju masih punya. Kamu mau skincare mahal-mahal itu? Mau iphone terbaru? Salah sendiri kawin sama aku. Kawin tuh sama cowok tajir. Tapi mana ada cowok tajir yang mau sama cewek pesek kayak kamu."


Pipit dihadapkan pada dilema. Akankah ia harus menjalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya tak membawanya pada kebahagiaan, ataukah ia harus berbalik arah dan mengikuti nasihat sahabatnya untuk bercerai?


"Kurasa waktu itu aku takut kehilangan. Sangat takut kehilangan. Konyol banget karena sekarang aku ingin dia menghilang dari hidupku."


Menurut saya : 


Novel Pengantin Remaja karya Ken Terate memotret kisah anak remaja yang buru-buru nikah muda demi memenuhi hasrat ingin cinta-cintaan. Padahal, pernikahan bukan permainan. Tapi Pipit dan Pongky justru memasuki dunia pernikahan tanpa persiapan mental dan financial yang stabil. 


Pengantin Remaja menceritakan soal pernikahan dini, dimana Pipit putus sekolah demi menikah. Ternyata selama pernikahan itu, nggak seindah kayak sinetron-sinetron. Tinggal sama mertua yang cuman ngeliat Pipit sebagai babu, belum dapat keturunan dinyinyirin terus, suaminya juga nggak bener.


Ditambah lagi, Pipit kurang edukasi banget masalah pernikahan. Mulai dari hukum-hukum basic-nya, perihal sex education, sampai ilmu parenting aja dia hampir nggak ada ilmu kesana. Sedih juga begitu baca Pipit kena baby blues setelah melahirkan, tapi nggak ada pendampingan. 


Kisah Pipit dan Pongky juga menunjukkan kemiskinan struktural yang menjerat anak remaja dalam pernikahan muda. 


Normalnya, orang menikah ketika sudah memiliki penghasilan dan lulus sekolah. Namun, Pongky tidak memiliki pekerjaan yang stabil. Dia selalu berganti-ganti kerjaan setiap 1-2 bulan sekali. Alasannya banyak hal. Mulai dari bosan, sampai ingin berwirausaha.




Orang tua Pipit dan Pongky meminta anaknya untuk segera menikah, demi bisa melepas mereka agar tidak membebani financial keluarga. Padahal, menikah juga butuh biaya. Yang lagi-lagi harus ditanggung dengan beban hutang. ðŸ˜Ļ


Mungkin pikiran Pipit ini seperti anak remaja yang mau lari dari masalah, solusinya malah kawin. Padahal kawin hanya menambah masalah, kecuali kamu nikahnya sama Sultan yang kaya raya 7 turunan. Wkwk


Belum lagi kehamilan tanpa rencana dan cek kesehatan, persiapan lahiran, bahkan tak ada biaya untuk melahirkan. Orang tua Pipit juga ngotot membuat selamatan bayi 7 bulan, meskipun harus berhutang.


Pipit pun bertanya-tanya, mengapa hidupnya jadi lebih ruwet setelah menikah? Ditambah masalah lain yang datang silih berganti. 




Novel Pengantin Remaja menyoroti isu sosial tentang pernikahan pada usia remaja yang belum matang secara pemikiran sehingga menciptakan generasi yang lemah dalam banyak hal.


Anak yang stunting, anak yang kasar dan berperilaku buruk, ibu tanpa dukungan saat mendapat baby blues, mengalami diselingkuhi, human traficking, drama ART, ibu yang mengalami KDRT, dll. Saking kompleksnya, kisah ini bisa dibilang mampu menggambarkan pernikahan dini yang kelewat ekstrim. 


Kisah Pipit adalah satu dari sekian kasus remaja yang menikah di bawah umur. Saya jadi ingat ada mbaknya temanku yang juga mengalami hal yang sama. Mbak A menikah saat lulus SMP, karena khawatir orang tuanya tidak bisa memberi makan. Jadi dikawinkan saat masih muda. Padahal kalau diingat-ingat, dia seumuran aku. Sekarang anak mbaknya udah besar sih. 😁


Yaaa... Masih banyak Pipit-pipit lain di luar sana yang mengalami hal yang sama. Kemiskinan struktural yang sulit dilepaskan. 😭


Orang miskin melahirkan anak. Anaknya tidak mendapatkan nutrisi dan gizi yang kayak. Tidak mendapatkan kasih saya dari orang tua karena orang tua sibuk bekerja dengan gaji tak seberapa. Yang bikin anak-anak akhirnya putus sekolah juga. Begitu terus lingkaran yang dilalui mereka. 


Sekolah yang dianggap mampu membawa perubahan ternyata hanyalah angan kosong. Faktanya, banyak remaja yang memilih menikah muda atau bekerja dengan gaji sekadarnya, daripada memilih menyelesaikan sekolah. 


Yeaah.... Apalagi, tokoh Pipit ini digambarkan anak dari orang tua yang biasa saja. Ibunya bekerja sebagai penatu, bapaknya sebagai tukang parkir. 


Pipit menikah dengan Pongky yang level ekonominya jauh lebih miskin dari Pipit. Pongky tidak mampu memberi rumah yang layak bagi istrinya. Bahkan, meski tinggal di kontrakan pun sangat jauh dari kata layak. Bahkan, ember pun tak punya. Sampai harus ambil dari rumah ibu Pipit. Wew ðŸĨē


Ada lagi masalah Atin, sepupu Pipit dengan statusnya yang tidak jelas. Atin jadi perempuan simpanan seorang artis kenamaan ibukota. Artis itu dikenal sebagai pengisi acara sinetron yang sering ditonton Pipit. 


Suatu hari, Pipit kabur dari jebakan Yaris, mantan teman SD Pipit yang ternyata mucikari. Padahal, muka Yaris nih keliatan nggak ada tampang kriminal. Untung aja pas nyampe Jakarta, Atin langsung narik Pipit dari Yaris. Ditolong juga sama pacarnya Atin itu. ðŸ˜Ļ


Tapi, gara-gara Pipit kabur dari Yogya ke Jakarta, Atin sampai harus ngurusin masalah hidup Pipit. Di Jakarta itulah Pipit mulai berpikir, ternyata dunia yang selama ini dia lihat berbeda dari dunia yang orang lain jalani. Jakarta juga menawarkan kehidupan yang lebih baik dan dinamis. 


Pipit berpikir, ada harapan bahwa ada dunia di luar lingkungannya ini yang lebih baik. Tapi gimana cara berada di dunia yang lebih baik itu? 


Di sinilah, penulis menyajikan bagaimana kisah Pipit bisa berubah jika ada kemauan dan usaha. Dan lagi-lagi, faktor hoki juga sih. Hehe


Selama baca beberapa bab menjelang ending, penulis menggambarkan bahwa jika Pipit, Atin, dan tokoh lain mau memulai hidup baru, mereka bisa mengubah jalan takdirnya. 


Oh iya, pas kelar baca novel Pengantin Remaja ini, saya jadi gemes sama para tokohnya, saking nggak ada yang waras satu pun. Wkwk. Bawaannya bikin emosik. Soalnya masalahnya rumit banget. ðŸĪĢ  


Asli sih, novel ini wajib banget dibaca sama remaja yang pengin buru-buru kawin. Wkwk. Rasanya jadi pengin jambakin Nona, ngomel ama Pipit dan Pongky. Plus, kesel sama Atin. ðŸĪŠ


Untung endingnya realistis dan ditutup dengan nasihat yang membekas di hati pembaca.


Overall, rating buku : 4,5/5 🌟


Oiya, kalau menurutmu gimana? 


Apa yang bakal kamu lakukan jika ada anggota keluargamu atau temanmu yang mau nikah muda, padahal baru 17 tahun? Nasihat apa yang akan kamu berikan agar dia tak menyesal mengambil langkah itu? 


Share pendapatmu di kolom komentar yah. ❤️


Nah, selamat membaca ya! 

16 komentar:

  1. Relate sama praktik menikah kapan hari di kelas anakku (SMA kelas 12). Dibikin itu acara mantenan di sekolah, dari akad sampai resepsi lengkap, dandan juga...katanya untuk pelajaran pernikahan. Kok aku kezel..kenapa edukasinya ga fokus dari sisi hukum agama, ke persiapan mental, termasuk sex education, materi pasca menikah, ilmu terkait amanah akan anak, tanggung jawab kepala keluarga, dll dst. Mungkin bisa juga baca dan bikin ulasan tentang Buku Pengantin Remaja buat nambah wawasan mereka...

    BalasHapus
  2. Remaja di rumah juga sempat terlontar, "gimana kalau ak menikah muda aja. Sekolah kan bisa lanjut nanti-nanti".
    Nasehatnya, nikah itu bukan hanya sekedar ijab kabul. Kalau sudah siap menikah, harus siap menerima kehadiran seorang anak. Penghasilannya sudah cukup untuk menafkahi pasangan dan calon anak? Sudah mampu tinggal mandiri, lepas dari orangtua?
    Eh, nyengir.
    Buku ini sepertinya sangat dianjurkan untuk dibaca sama remaja nih.

    BalasHapus
  3. Mungkin ceritanya fiksi, ya. Tapi, isinya memang menarik banget. Kalau saya pribadi, berusaha lebih terbuka sama anak-anak. Termasuk tentang dunia percintaan. Intinya sih saya ingin bilang ke mereka, kalau cinta gak selamanya indah hehehe. Nah, novel ini kelihatannya bisa dijadikan juga referensi. Jangan sampai menikah hanya karena bayangin yang indahnya doang

    BalasHapus
  4. Di tempatku masih banyak remaja yang nikah muda. Kalau udah lulus sekolah, pasti banyak orang sepuh yang nyariin jodoh. Jadi tertarik banyak novelnya, udah lama juga gak baca novel genre romance gini

    BalasHapus
  5. mmm...pantesan menyorot begitu banyak masalah
    Awalnya bingung, buku tentang pernikahan dini kok sampai 384 halaman
    Bagus nih dibaca oleh banyak remaja, supaya jangan baca tentang cinderella melulu

    BalasHapus
  6. Cinta adalah soal hati, bukan usia yha. Memang menarik saat membaca kalimat tersebut tapi rasanya yha gimana gitu. Memang sih kalau sudah cinta semua menjadi indah tapi memang harus tahu apa saja yang sebenarnya akan dihadapi yha.

    BalasHapus
  7. buku ini menarik sekali untuk dibaca para remaja untuk pembelajaran. bahwa kehidupan pernikahan tidak melulu happy aja, melainkan ada konflik yang memang perlu dipecahkan dan dicarikan jalan keluarnya. terimakasih untuk review menariknya kak.

    BalasHapus
  8. Novel ini bisa jadi bahan pembelajaran buat para remaja yang ingin segera menikah. Karena berharap akan hidup bahagia bersama orang yang dicintai. Tanpa memikirkan gimana pernikahan itu harus punya persiapan yang matang. Minimal tentang semua kewajiban, tanggung jawab dan hak milik suami dan istri.

    BalasHapus
  9. Daku sempat lihat covernya ini melintas di temlen.
    Sejatinya pernikahan memang dibutuhkan kesiapan banyak hal ya, bukan hanya soal "yang penting cinta"

    BalasHapus
  10. Novel Pengantin Remaja karya Ken Terate ini seolah hadir untuk menyentil pembacanya kalau cinta itu sebenarnya bukanlah segala-galanya, apalagi untuk lekas memutuskan menikah atas nama cinta demi melarikan diri seperti Pipit. Salah satu wishlist-ku ini buat dilahap tahun ini.

    BalasHapus
  11. Kalau belum menikah memang yang dipikiran anak-anak remaja tuh nanti bakal jadi istri yang bahagia, penuh cinta dan punya anak banyak.

    Padahal saat menghadapi kenyataan, pasti penuh ujian dan cobaan dalam pernikahan. Niat awal yang ingin bahagia bisa jadi belok ketika melihat hal lain yang lebih menarik.

    Kasihan sekali karakter Pipit, sang tokoh utama.
    Tapi ini realita yang bisa dijadikan pelajaran bagi pembaca. Bukan untuk takut menikah, karena menikah adalah bagian dari menyempurnaakn dien.

    Tapi lebih selektif dalam memilih siapa pasangan dengan memantaskan diri terlebih dahulu. Semoga Pipit bahagia dengan pilihannya di akhir cerita.

    BalasHapus
  12. Pertama baca ada bintang 4.5/5 langsung makin menarik dan benar dong ternyata ceritanya relate dengan kehidupan. Kalau dilihat dari luar, menikah terlihat yang manis-manisnya aja tapi biasanya nggak terpikir asin-asam bahkan pahitnya. Dulu pun saya juga gitu hahaha, namanya perjalanan yaakkk...
    Tapi kok itu kasihan sekali sedih sama tokoh utama :-(

    BalasHapus
  13. saya pernah punya sahabat yang menikah saat kami kelas 2 SMA. awal dengar dia bakalan nikah saya shock dong, gak percaya dia akan nikah secepat itu tapi akhirnya pernikahan itu terjadi juga. Saat saya sedang kuliah semester 3, sahabat saya meninggal dunia karena sakit, hiks

    BalasHapus
  14. what??? belum lulus sma sudah menikah? berani juga ya hehehe. tapi ternyata di belakang banyak kisah pilu nya, ini kalau saya baca novelnya kayaknya bakal gemes banget deh

    BalasHapus
  15. aku yang menikah di umur 25 aja ketika menjalani pernikahan rasanya terlalu muda untuk menikah, kepengen menikmati hal-hal yang belum tercapai hahaha sayang ya,belum lulus SMA pipit sudah termakan cinta

    BalasHapus
  16. Cinta memang membutakan segalanya dan urusan menikah gak bisa cuman bermodalkan cinta. Ada biaya bulanan dan lain lain. Makanya jangan terlalu mengagungkan cinta karena semuanya tak selalu indah

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^

Big Ad