19 Januari 2023

Resensi Buku Pay Sooner or Later by Adrindia Ryandisza

buku pay sooner or later


Judul buku : Pay Sooner or Later

Penulis: Adrindia Ryandisza

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Terbit: edisi digital, 2022

Tebal: 261 halaman 

Jumlah bab: 25 bab

Harga : Rp 65.000

Rating: 4/5 🌟

Baca ebook di Gramedia Digital




❤️❤️❤️


Sinopsis Buku Pay Sooner or Later - Adrindia Ryandisza :



Tika tidak pernah berpacaran dalam jangka waktu yang lama, tetapi dia berkomitmen membayar cicilan 12 bulan.

Alasan Tika percaya sanggup membayar tagihan paylater yang lebih lama dari masa pacaran dengan siapa pun adalah kabar burung yang beredar bahwa dirinya akan segera diangkat sebagai pegawai tetap sebagai staf konsultan pajak. Bahkan, Tika sudah menyiapkan hadiah self-reward yang terlalu cepat.

Tahu-tahu, kariernya disabotase oleh rekan kerjanya sendiri sehingga Tika terancam menjadi pengangguran alih-alih pegawai tetap.

Bagaimana Tika membayar tagihan yang terus berjalan dengan pendapatan yang mengalami hambatan?.




Dengan kekuatan koneksi orang dalam yang merupakan mantan kliennya, Tika berhasil mendapatkan pekerjaan baru.

Ironisnya, Tika bekerja sebagai desk collection yang bertugas untuk mengingatkan dan menagih utang peminjam. Tika yang biasanya mengurus uang orang lain sekarang harus mengurus utang orang lain.

Bagaimana Tika beradaptasi dengan pekerjaan dan rekan- rekan barunya?

Apakah kariernya akan kembali disabotase, terutama semua orang di kantornya tahu Tika adalah titipan orang dalam?

Lalu, apakah masalah Tika akan terselesaikan dengan memiliki pekerjaan baru?







Review Buku Pay Sooner or Later - Adrindia Ryandisza :


Tika punya pekerjaan kontrak yang menjanjikan di kawasan SCBD dengan gaji yang menggiurkan, namun sayang ia harus berhenti karena disikut temannya. 


Proyeknya harus dilepas pada Yuli, bahkan ia harus basa basi di depan teman kantornya bahwa semua baik-baik saja. 


Namun, siapa sangka Tika justru mendapat pekerjaan yang sangat challenging, berkat koneksi klien di kantor. 


Tika merasa frustasi karena gajinya sangat berbeda dengan kantor sebelumnya. Selain itu, ia baru tahu menagih hutang pada nasabah yang nunggak hutang ternyata begitu sulit. Apalagi kalau yang minjem uang lebih galak dari yang minjemin. Duh, pusing kepala Tika.


Dulu ia mengurus uang pajak kliennya, kini ia harus menjadi penagih hutang. Di kantor barunya inilah Tika belajar banyak hal dalam hidupnya. 


Tentang bagaimana harus menjalani hidup dengan realistis. 


Tentang nominal gaji yang tak lagi sama seperti dulu. 


Tentang praktik literasi finansial yang ternyata lebih sulit dilakukan dibanding teori yang selama ini dia pelajari. 


Tentang bagaimana mengomunikasikan pilihan hidupnya pada keluarga. 


Di kantor baru, Tika juga berusaha menjaga jarak dari teman-temannya. Namun, ternyata tidak bisa. Pembawaan Didi yang cerewet bikin Tika merasa diterima di kantor itu, meskipun dia masih anak baru. Apalagi ada Rizal yang senang menyetel lagu klasik keluaran tahun 80-90 an hingga membuat suasana kantor jadi terbawa ke masa lampau. Sedangkan Didi doyan dengerin musik Kpop.


Tika serasa ada di kantor dengan atmosfir yang lebih santai. Kerjaannya emang berat sih, tapi selama dilakukan dengan sat set, pasti selesai. Apalagi ada hitungan bonus jika Tika mampu closing setiap ada nasabah yang membayar tagihan tepat waktu.


Masalahnya, Tika tidak membahas keputusan untuk kerja di kantor baru pada orang tuanya. Jadi, ia khawatir jika kebiasaan belanja pritilan yang nggak guna itu suka dicecar sama ibunya. 


Baca juga : Resensi Buku Things Left Behind by Kim Sae Byoul dan Jeon Ae Won


Tika hobi belanja pakai uang dari paylater. Jadi, usahanya untuk bertahan di kantor baru ini memang demi bisa membayar cicilannya.


Ternyata, masalah hidupnya bukan hanya itu. Tapi, ibu mengira Tika menjadi sugar baby saking seringnya Tika belanja. Bahkan, ibunya juga curiga ada gelagat aneh ketika Tika mengubah penampilannya. 


Biasanya Tika sangat memperhatikan penampilan karena sering bertemu klien dengan uang yang tak berseri. Jadi, penampilan menentukan citra dirinya dan perusahaan jasa konsultasi pajak yang dulu menjadi kantornya. 


Setelah pindah kantor, Tika lebih memilih pakai pakaian yang sederhana dan tidak glamour. Selain itu, ia lebih sering pakai celana panjang dibanding rok. Perubahan penampilan ini diendus oleh ibu dan membuat Tika kesulitan untuk menjelaskan masalahnya.


Ada juga tokoh lain bernama Didi yang menjadi teman Tika di kantor itu. Didi suka Kpop dan senang belanja pritilan Kpop. Selain itu, hobinya juga bahas bias dan suka ngehaluin mereka sebagai "suami" yang harus dinafkahi. 


Didi bisa dibilang sebagai gambaran generasi sandwich yang lelah menghadapi kesulitan hidup. Lelah yang bertumpuk karena ibunya suka berutang dan meminta uang berkali-kali untuk kebutuhan bulanan. Bahkan, Didi pernah dijadikan nomor kontak darurat untuk pinjaman online (pinjol).


Selain itu, ada Rizal yang terjebak toxic relationship dengan mantan pacarnya. Pacarnya meminjam uang di pinjol dengan data diri Rizal. Lengkap KTP, foto diri, dll. Sampai Tika dan Didi harus turun tangan membantu menyelesaikan masalah. 


Ada lagi masalah bos Tika yang ternyata memasukkan anaknya ke sekolah swasta elit, namun dengan jalan berhutang.


Tika, Didi, Rizal, dan bosnya memiliki kesamaan yaitu sama-sama punya masalah hutang piutang. Padahal mereka melek literasi financial dan bekerja di perusahaan bidang keuangan. Tapi justru kesulitan menerapkan ketika berhadapan dengan realita hidup yang rumit. 


Baca juga : Resensi Buku Arah Langkah by Fiersa Besari


Isi novel Pay Sooner or Later


Menurutku : 


Menurutku, novel Pay Sooner or Later karya mbak Adrindia ini terbilang ringan dan bisa dibaca dalam sehari. Bahkan issuenya sangat kekinian terkait pinjol dan paylater. 


Misalnya saja Rizal yang terjebak Toxic relationship dan dimanfaatkan mantan pacarnya sebagai ATM berjalan. Awalnya, aku heran kenapa Rizal cenderung mudah dimanfaatkan. Tapi, yaa... namanya juga lagi bucin. Disuruh terjun ke jurang juga mau kali yaa. Wkwk 🤣


Untungnya, Rizal ini tetap ngejar pacarnya buat bayar hutangnya. Jadi bisa dibilang, ya... akhirnya dia sadar kesalahannya dia ada di mana. 🥺


Tentang Didi yang jadi sandwich generation itu juga jadi gambaran betapa beratnya bekerja tapi harus membagi-bagi uang untuk kebutuhan orang lain. 


Didi menjadi gambaran cewek millenial yang punya kesulitan financial yang berlapis-lapis seperti sandwich. Sebetulnya agak heran kenapa udah jadi generasi sandwich, tapi Didi masih bisa jajan pritilan KPop. Ya, mungkin ini cara Didi buat cari sampingan dengan jualan merch Kpop. 


Hmm... Cuma penulis nggak menjabarkan masalah financial Didi ini dengan lebih detail. Jadi agak kurang smooth aja sih. Serasa diburu-buru cepat selesai. Padahal kalau masalah Didi ini dikulik lebih dalam lagi, endingnya pasti lebih keren. Soalnya, agak aneh aja kalo tahu-tahu Didi udah bayarin uang ibunya dan selesai gitu aja setelah ibunya janji buat nggak ngulangin lagi. 😮


Padahal, biasanya orang yang suka nunggak hutang itu, mereka butuh waktu lama buat nggak kambuhan. Jadi, kesannya kayak gampang banget Ibu Didi buat tobatan nasuha anti hutang-hutang club. Wekeke. 


Hmm.... Tapi dipikir lagi, kalau fokus ke masalah Didi, nanti malah melebar kemana-mana. Yaudah bener dibahas sekilas aja sih. Hehe


Oh iya, masalah belanja Tika ini sempet dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan dan solusinya melibatkan psikolog/psikiater juga. 


Baca juga : [Resensi Buku] Infinitely Yours by Orizuka


Aku merasa masalah Tika ini related dengan orang yang hobi belanja sesuatu dan nimbun di rumahnya. Ya, sama aja sih kayak kalo kita stess trus pelampiasannya beli makanan atau kulineran. Menyelesaikan masalah dengan membeli sesuatu itu, sebetulnya hanya mengalihkan energinya saja. Tapi tetap saja masalah tidak selesai. 


Jadi, satu-satunya cara untuk nggak melakukan cooping mechanisme stress yang seperti itu adalah mencari akar masalah. Pelan-pelan menyadari bahwa kita punya masalah, dan berusaha menyelesaikan. Dan bukannya lari dari masalah. Itu memang sesuatu yang berat. 


Bahagia itu kan bukan berasal dari benda yang dibeli. Tapi dari hati yang bersyukur. Masalahnya, apakah kita bisa bahagia jika kita bahkan nggak tahu apa yang kita inginkan dalam hidup? Kita berusaha menjadikan barang sebagai sumber kebahagiaan. Tapi itu sesuatu yang fana. 


Nah, inilah yang berusaha dijabarkan oleh penulis di beberapa bab menjelang ending.  Penulis ingin memberi bahasan bahwa ada lho orang yang doyan belanja pakai paylater, itu karena ada yang salah sama diri mereka. Tika memiliki inner child tentang financial di masa kanak-kanak. Hal ini membuat Tika merasa egonya belum tercukupi.


Yaa... sama sih seperti lelaki yang hobi belanja robot, main game, atau hobi lain yang di masa kanak-kanak belum terpenuhi oleh orang tuanya. Ada luka pengasuhan anak yang menurun hingga dewasa. 


Ketika seseorang belum menemukan arti "cukup adalah cukup", maka kebiasaan konsumtif itu akan terus berulang, meskipun harus mengeluarkan uang yang sangat banyak. 


Jadi, solusinya ya... bersyukurlah dan bilang sama diri sendiri untuk merasa cukup dengan apapun yang sudah dimiliki. Dengan begitu, kebiasaan konsumtif dan berhutang akan hilang secara bertahap. 


Baca juga : Resensi Buku The Privileged Ones by Mutiarini


Anyway, saya suka novel ini. Meski ada beberapa typo yang belum diedit di naskahnya, tapi novel Pay Sooner or Later mampu memberi gambaran bagaimana hidup ala kaum mendang mending yang terjerat lifestyle karena emosi sesaat yang bisa jadi membawa masalah di kemudian hari.


Salut dengan setiap karakter yang solid dan mampu menyelesaikan masalah mereka. Fyi, ada romance tipis-tipis, tapi fokusnya di financial. 


Wajib baca deh, buat kamu yang pengin dapet pencerahan seputar literasi financial. 


Overall, rating buku :  4/5 🌟 





Kutipan Buku Pay Sooner or Later - Adrindia Ryandisza :


Kalau kamu membayar untuk masa depanmu, artinya kamu kaya. Kalau kamu membayar untuk masa lalumu, artinya kamu perlu membongkar ulang rencana keuanganmu.

-hal 11, Pay Sooner or Later





Mengurus uang orang lain lebih mudah ketimbang uang sendiri. Apalagi kalau memang tidak ada uangnya, tidak ada yang bisa diurus.

-hal 44, Pay Sooner or Later


Yang ngutang biasanya memang lebih galak. Apalagi kalau ditagih.

-hal 47, Pay Sooner or Later


Sayangnya lebih banyak lagi kategori tidak mempunyai keduanya, baik uang maupun waktu. Hanya segelintir orang yang memiliki keselarasan berupa banyak uang dan banyak waktu.

-hal 51, Pay Sooner or Later








15 komentar:

  1. Aku udah jarang banget sekarang baca buku. Padahal dulu sering. Duuh jadi nostalgia pengen baca buku lagi. Seru ceritanya

    BalasHapus
  2. Bahan bacaan tentang finansial yang ditulis dalam versi novel, tentunya menarik untuk disimak. Apalagi bagi yang mulai lirik2 hutang :) .

    BalasHapus
  3. setuju, temanya sangat kekinian, jadi asyik dibaca
    JUdulnya semula bikin bingung, setelah baca sinopsisnya jadi pingin ketawa
    Cerdik banget penulisnya

    BalasHapus
  4. Seru banget sepertinya buku ini karena topik yang diangkat tuh memang kekinian dan sering dihadapi oleh kaum milenial yang hidup dengan banyak godaan. Cenderung berani "bertaruh" dengan kredit sementara kebutuhan-kebutuhan lain minta diperhatikan juga. Bisa jadi pembelajaran buat kita semua sebetulnya karena prakter financial planner yang sehat itu memang tidak gampang.

    BalasHapus
  5. Bisa banget belajar literasi finansial melalui novel ini ya Mba? Apalagi issu yang diangkat kekinian dan kita sering jumpai, sekaligus bisa untuk koreksi diri juga sih ini soal belanja-belanja barang yang sebenarnya nggak kita butuhkan..

    BalasHapus
  6. Klo dia jd penagih hutang bisa jadi cara nagihnya lemah lembut ya karena dia memposisikan diri sebagai debitur/kreditur 😂

    Aku penasaran pingin baca

    BalasHapus
  7. Mantab betul. Kayaknya orang Indonesia harus sering2 melahap novel2 begini, biar tahu apa itu literasi keuangan.

    BalasHapus
  8. Pengajaran sih ini biar berpikir dulu kalau mau ambil hutang.
    Apalagi semisal susah atau lupaan bayarnya. Nice novel kak

    BalasHapus
  9. perkara hutang ini memang ribet yaa. Yang ngutang kadang lebih kejam dari yang diutangin. Kadang juga setelah berhutang jadi pura-pura lupa padahal setiap hari posting sedang belanja barang-barang mahal atau liburan atau jalan-jalan ke luar kota

    dan sekarang orang berhutang lebih mudah karena ada aplikasi paylater dan pinjol

    BalasHapus
  10. Puyeng juga jadi Tika. Keseringannya emang orang yang punya hutang lebih galak ketimbang yang memberi hutang.

    Sebel sih emang.

    BalasHapus
  11. Wadidaw ya..
    Kayanya paling takut berhutang di aplikasi demi kesenangan sesaat. Tapi balik lagi, semua tergantung langkah pertama. Langkah pertama lancar dan langkah berikutnya jadi lebih memudahkan (karena uda tau jalannya).

    Tapi bisa jadi membaca buku Pay Sooner or Later ini jadi pembelajaran untuk kita semua agar memikirkan baik-baik mengenai belanja dan pengeluaran keuangan ya.. Terlebih dengan peliknya masalah yang dihadapi orang-orang yang hidup di kota besar.

    BalasHapus
  12. Topiknya kekinian banget ya.
    Generasi muda yang kerja di bidang yang berhubungan dengan uang, namun ternyata tak menerapkan financial planning dengan baik.

    BalasHapus
  13. Kalau masalah utang, emang bener banget kalau yg ngutang.jadi lebih galak dari pada yg ngutangin saat ditagih.. puyeng deh si Tika nih, buku ini jadi kasih pelajaran deh buat kita untuk bisa menerapkan financial planning dengan baik

    BalasHapus
  14. mbaaak! Aku menikmati banget nih review bukunya!

    Terpana dengan masalah Tika, Didi, Rizal, dan bosnya Tika, semua punya masalah hutang piutang, padahal mereka melek literasi financial dan bekerja di perusahaan bidang keuangan.

    Jadiii sekarang kita harus menelaah kembali ya apa yang sudah kita lakukan

    BalasHapus
  15. Besok2 insha Allah klo pas balik ke Gramed, mau kutengok di raknya untuk buku yg direview kk ini. Keren..

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^

Big Ad