Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

23 March 2017

[Resensi Buku] Jogja Jelang Senja by Desi Puspitasari


Judul Buku : Jogja Jelang Senja
Pengarang : Desi Puspitasari
Penerbit : Grasindo
Terbit : Mei 2016
Tebal : 196 hlm.
ISBN : 978-602-37-5483-0
Rating : 4/5
Baca via Scoop Premium


Sinopsis :

Senja di Jogjakarta menawarkan banyak kemungkinan di antara terang menuju petang, di antara pertemuan dan perpisahan, di antara Aris dan Kinasih.

Aris bertemu Kinasih di pertigaan Pasar Kotagede, saat secara tak sengaja ia menabrak sepeda gadis itu. Sejak kejadian itu, Aris mengantar jemput Kinasih ke tempat kerja, sebab kaki gadis itu terluka, sementara ia belum mampu membayar biaya ganti kerusakan sepeda.

Kedekatan keduanya menumbuhkan cerita baru. Ketika Aris ingin menggenggam erat tangan Kinasih saat itu pula perbedaan keyakinan menjadi tembok bagi keduanya. Bisakah Aris dan Kinasih melewatinya?

Resensi Buku :


Kisah cinta beda agama terasa menyayat hati bagi yang melakoninya. Tak hanya di dunia nyata, tapi dalam novel pun tema ini diangkat ke dalam cerita yang layak untuk dikisahkan. Tak hanya cinta beda agama, namun juga pemberontakan para wartawan dan mahasiswa di zaman Orde Baru mewarnai kisah cinta Aris dan Kinasih. 

Awalnya, Kinasih hanya berkenalan dengan Aris karena ia tertabrak oleh Aris sesaat sebelum lelaki itu meliput berita. Kinasih pun diantar jemput oleh Aris sebagai ganti karena Aris tak bisa membayar hutang merusakkan sepeda Kinasih hingga penyok. Bagi Kinasih, kedatangan Aris yang cerdas juga membuka kran pikirannya tentang banyak hal. Kinasih yang gadis desa terbiasa belajar dari banyak kelas kursus yang dia ikuti demi mendapatkan ilmu yang menambah keingintahuannya tentang banyak hal. Dan Aris mengenalkannya pada dunia yang sama sekali berbeda dari dunia Kinasih. Gadis itu yang sehari-hari bergelut dengan pekerjaan membuat kerajinan dari perak di Kotagede, Jogja, mendapat banyak kesulitan sesaat setelah berkenalan dengan Aris.

Aris tak mau kesulitan membayangi wajah Kinasih. Sewaktu-waktu ia bisa diciduk aparat karena tulisan-tulisannya yang dikecam dan dianggap radikal. Tulisan Aris di media seringkali membawa pergolakan dan semangat revolusi bagi pergerakan mahasiswa yang ada di Jogja dan Jakarta. Tak hanya itu, Aris juga bertindak sebagai mata-mata yang mau tak mau membuat ia tak bebas berkeliaran di jalanan seperti sebelum ia bertemu dengan Kinasih. Namun, kisahnya dengan Kinasih harus berhadapan pula dengan anak jendral, Jeanette yang jatuh cinta pada Aris, adik kenalannya. Kisah ketiganya menjadi lebih rumit karena Aris dihadapkan pada kenyataan bahwa ia dan Kinasih berbeda keyakinan. Siapa yang akan mengalah berpindah agama? Siapa yang akan memilih cinta ataukah idealisme perjuangan?

Kisah Aris dan Kinasih mengingatkan saya pada artis yang pindah agama karena ingin menikah. Tapi seringkali hal ini tidak berjalan mulus karena bisa jadi keyakinan sang perempuan goyah, atau sang laki-laki tidak mampu menjadi imam yang baik karena tidak bisa beradaptasi bila berpindah agama. Namun, solusi yang ditawarkan pengarang buku ini berbeda dari yang digambarkan di awal-awal cerita. Agak kesel sih sama tokoh Mamak yang jadi serasa cerewet sekali mencarikan jodoh untuk Kinasih. Takut sekali kalau gadis itu nggak nikah cepat bakal jadi perawan tua. Untungnya ada bapak yang baik hati. :p

“Berhentilah mengurusi jodoh untuk Kinasih, Bu. Anak itu tentunya memiliki banyak urusan sehingga tampak seperti tak peduli dengan urusan menikah, atau mencari laki-laki untuk dijadikan suami.” 
“Anak perempuanmu itu benar-benar tidak aku mengerti lagi jalan pikirannya, Pak. Usianya terus bertambah dan ia tenang-tenang saja.” 
“Kinasih tidak setenang yang terlihat, Bu.” (hlm. 135)

Well ya, baca novel Jogja Jelang Senja membuat melihat fragmen gadis desa yang perlu mencari jodoh tapi kepentok dengan agama. Dan membaca potongan-potongan fragmen di Jogja membuat ingatan saya kembali ke jalanan kota Jogja yang temaram diiringi lagu-lagu pengamen jalanan. Lokasi pembuatan kerajinan kotagede menjadi keunikan tempat yang bisa dieksplorasi lebih dalam. Hanya saja tidak terlalu banyak detail yang diangkat. Jadi lebih fokus pada tema utama yaitu beda agama dan perjuangan Aris melawan orba.

Iringan lagu perjuangan seperti Buruh Tani (lagu wajib anak-anak BEM dan Himpunan Mahasiswa zaman dulu) bisa membangun kisah ini menjadi lebih greget. Kekurangan novel ini ada di bagian dialog yang dibuat terasa kaku dan baku sehingga sulit untuk masuk ke dalam cerita. Saya butuh waktu lumayan lama untuk membaca kisah ini hingga tuntas. Untuk endingnya saya suka, karena nggak kebayang aja bakal dibikin greget kayak gitu. :D Btw, seperti yang disebutkan Aris, “Karena bagiku, Yogyakarta adalah kangen dan pulang.” Saya baca novel ini bikin kangen banget sama Jogja. Pengin liburan lagii~

8 comments:

  1. Buku ini sudah menjadi wist listku sejak lama. Tapi sayangnya belum kesampaian untuk dibaca, huhu. Selain karna judulnya yang berbau senja. Kisah tentang beda agama ini juga menarik perhatianku. Dibayangan aku kisah beda agama itu pasti nyesek. Dan ak suka yang nyesek² hehe.
    Dan di review dikatakan endingnya gereget. Uhh jadi makin ingin bacaaa. Penasaraann:(

    ReplyDelete
  2. Dari judulnya aja udah romantis dan puitis. Sesuai dengan setting orde baru. Duh, berasa baca kisah percintaan jaman ortu kita kali ya?
    Resensinya cukup detail. Teopebegete deh pokoknya. :)

    ReplyDelete
  3. Jogja selalu menjadi tempat yang memiliki kekuatan untuk semua cerita yang terjadi, bagaimana keramahan dan lingkungan yang memperindah setiap cerita. Apalagi perbedaan keyakinan yang menjadi permasalah di buku ini. Saya bakal beli bukunya, dan akan semakin mengagumi kota Jogja dengan semua unsur di dalamnya.

    ReplyDelete
  4. Waahh jadi penasaran dengan alur cerita beda agama versi penulis Desi Puspitasari ini.
    Sebelumnya aku udah baca novelnya Alang.Dan karyanya memang patut diacungi jempol.Tidak hanya sekadar cerita, tapi pesan moralnya yang sangat menginspirasi..

    Wajib masukin wishlist buku ini ..
    Makasih atas review nya :)
    Review nya bikin penasaran dan bertanya2 bagaimana kelanjutan kisahnya Aris dan Kinasih.hehehe

    ReplyDelete
  5. Sudah pernah baca yang Jakarta dan selalu penasaran sama cerita yang Jogja tapi belum kesampaian beli. Agak belum siap sama kisah beda agamanya. :(

    ReplyDelete
  6. membaca resensi novel yang alur ceritanya romantis namun meyayat hati ini semakin jatuh cinta pada covernya.
    Aku menyukai keduanya.
    Jogja.
    dan
    Senja.

    ReplyDelete
  7. Baca sinopsis dan resensi Jogja Jelang Senja yang mengangkat kisah cinta beda agama jadi bapeeeer, sama yg aku alami dg suamiku saat masih pacaran dulu dan kita beda agama. Tapi bedanya di novel ini kisah Aris dan kinasih disuguhkan pada masa orba, jd penasaran sambil membayangkan setting waktu pada masa masa orba dan setting tempat yaitu Kota Jogja yg memperindah cerita di novel ini

    ReplyDelete
  8. Penasaran sama novel ini. Kisah cinta beda agama. Reviewnya sukses membuatku jadi ingin segera membaca novel ini. Sambil baca review ini aku bertanya-tanya, kira-kira Aris dan Kinasih akan bersatu nggak ya? Aku juga membayangkan bagaimana indahnya kota Jogja pada masa orde baru.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^