Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

18 March 2017

[Resensi Buku] Love in Marrakech by Irene Dyah



Judul Buku : Love in Marrakech
Pengarang : Irene Dyah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2015
ISBN : 978-602-03-2526-2
Rating : 4/5
Baca via Scoop Premium

Resensi Buku :

Nada sedang traveling sendirian ke Maroko. Saat di pasar, ia merasa dirinya dikuntit seseorang. Laki-laki yang wajahnya mirip brandalan itu mengikutinya berjalan-jalan di pasar Maroko. Tak hanya itu, lelaki itu tak juga pergi justru semakin lama membuat Nada mengambil kesimpulan bahwa ia seorang “copet”. Tanpa pertimbangan lagi, Nada melayangkan tas birunya ke tubuh lelaki aneh itu. Hingga disadarinya ia telah melakukan kesalahan, menuduh orang tanpa alasan. Lelaki itu bernama Haykal, seorang travel writer yang sedang berburu bahan tulisan dan foto di sepanjang jalan di negeri Indah, Maroko.

Di negeri itu, Haykal menawarkan persahabatan antar warga negara Indonesia yang sama-sama sedang berlibur. Tak disangka, benih-benih rasa suka mulai tumbuh di hatinya, namun tak bisa ia pungkiri bahwa seseorang akan marah jika Haykal justru bertindak lebih dari yang seharusnya. Haykal berjanji pada seseorang untuk menjaga gadis itu dari ancaman jahat. Gadis cilik yang mulai bertumbuh menjadi perempuan secantik embun manis, begitu yang melekat di benak Haykal.

Nada yang tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan seorang lelaki aneh dan bersahabat dengannya. Haykal menawarkan Nada berjalan-jalan di Maroko daripada menghabiskan waktu untuk tidur dan spa di hotel. Maroko terlalu indah jika hanya untuk diinapi saja. Nada jatuh cinta dengan budayanya, keindahan alamnya, terlebih saat ia berlibur bersama Haykal di gurun pasir semalaman. Tour yang asyik berubah tragedi ketika Haykal bertengkar dengan Nada. Keduanya tak saling sapa karena kejadian yang menguak rahasia mengapa Nada ada di Maroko kini. Misi Haykal untuk melindungi gadis itu ditentang dengan keras kepalanya gadis itu menjaga jarak darinya. Akankah Nada dan Haykal berbaikan lagi? Akankah rasa yang ada bertambah menjadi sebuah rasa yang tak sekadar rasa suka saja?

***

Ini kali pertama saya membaca novel Love in Marrakech karya Irene Dyah. Bisa dibilang saya kecele saat selesai membaca novel ini karena ternyata ada sambungannya lagi di novel lain; Love in Blue City. Masih ada hubungannya dengan novel ini sih, karena masuk dalan novel Series Around The World. Tapi rasanya jadi nanggung aja baca novelnya, hehe. Saya suka karakter Haykal yang tengil, bertanggungjawab dan cuek. Nada yang childish, manja dan keras kepala jadi semakin menarik di hadapan Haykal. Rasanya kedua karakter ini diciptakan untuk saling melengkapi. Hahaha. Tek-tok becandaannya pas banget. :p

Kisah di antara Haykal dan Nada menjadi semakin asyik diikuti saat ada kejadian seru di gurun pasir. Meski ujungnya Haykal mengalami hal yang tak mengenakkan karena tetap menjaga rahasia yang diamanahkan padanya. Di balik rasa cueknya, Haykal melindungi Nada dengan caranya. Tidak mengekang tapi justru membuat Nada menjadi dirinya sendiri. Nada juga didorong menemukan passionnya yang telah lama ada tapi belum diseriusinya menjadi sebuah pekerjaan.

Saya suka penggambaran Maroko yang indah, lengkap dengan wisatanya. Serasa menjejakkan kaki di Maroko, melihat-lihat pasar, menyesap teh mint yang ditawarkan abang-abang penjual, wisata di gurun, hingga merasakan hunting foto di jalanan Marrakech. Maroko terlihat menawan digambarkan di novel ini

"Ada kebahagiaan istimewa yang hanya bisa kita dapatkan dari pasangan hidup, Nada. Dari orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Kebahagiaan itu tidak bisa digantikan oleh orang lain, baik orangtua, saudara, kawan yang paling dekat sekalipun." (hlm. 152) 
"Kalau masih ada kata "tapi" berarti kamu belum seratus persen yakin dan rela. Tapi, tak apa. Tidak perlu memaksakan diri. Tidak perlu tergesa. Setidaknya kamu berjalan ke arah sana. Aku sependapat dengan Tristan, kamu perlu waktu untuk berpikir dan merelakan emosi-emosimu pergi. Setuju?" (hlm. 153)

Penggambaran karakter tokohnya pas. Tristan, kakak Nada yang over protektif dan alim, Haykal yang cuek dan usil. Kadang gregetan juga sih gimana childishnya Nada saat marah. Seperti saat Nada meremas brosur blue city, dibuang ke tempat sampah, tapi kemudian dia mengambil lagi brosur itu dari tong sampah. Bener-bener kekanakan. Atau saat ia mendiamkan Haykal selama perjalanan sampai si Haykal duduk berdesakan mirip kernet angkot. ;))

Saya juga ikut ngakak pas baca adegan Nada buka-buka instagram Haykal buat liat foto-fotonya karena penasaran. Lucu banget liat komentar penggemar Haykal di foto yang diunggah. Jadi ingat foto instagram Nicholas Saputra kalau lagi dikomen fans-fansnya. Hahaha. Serasa gregetan liat komen-komen genit para fans die hard-nya. xD

Alurnya maju dan dinamis sekali. Naik turunnya mood sesuai dengan karakter para tokohnya yang mendominasi percakapan dan narasi. Tak terasa sudah berjam-jam membaca novel ini hingga akhir halaman. Kekurangannya apa ya. Hmm, mungkin karena novel ini ada lanjutannya jadi serasa ada yang digantung di akhir. Padahal saya kira endingnya tak akan dibuat lebih rumit. Tapi menurut saya realistis sih karena nggak mungkin juga Haykal dan Nada bisa langsung jatuh cinta sebelum mereka menguji seberapa dalam rasa yang pernah ada itu. Overall, 4/5 bintang untuk novel Love in Marrakech ini.

2 comments:

  1. Hahaha saya ingat. Saya baca buku ini sambil berdiri dan gramedia selama tiga hari, hihihi

    ReplyDelete
  2. belum baca yang ini sih mbak
    kalau baca ebook tuh bawaan mata sakit gitu, lebih seneng kertas klo aku :)

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^