Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

25 March 2017

[Resensi Buku] The Twits by Roald Dahl


Judul Buku : The Twits (Keluarga Twit)
Pengarang : Roald Dahl
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Cetakan ketiga, Januari 2010
Tebal : 104 hlm.
ISBN : 978-979-22-0275-5
Rating : 3/5


Sinopsis :

Mr. Dan Mrs Twit sering saling mengerjai dengan cara-cara yang mengerikan. Mrs. Twit pernah memasukkan cacing ke dalam spaghetti suaminya. Mr. Twit membalas dengan menerbangkan istrinya menggunakan balon. Tak ada orang-orang yang lebih buruk daripada mereka. Mereka tak pernah mandi, sadis terhadap binaang, dan mereka benci anak-anak.

Di antara binatang-binatang yang mereka siksa adalah monyet-monyet Muggle-Wump, yang sering disuruh jungkir balik sampai berjam-jam. Juga burung-burung yang setiap minggu mereka jebak untuk dimasak menjadi Kue Pai Burung.

Nah, di dalam buku ini kalian akan mengetahui bagaimana, dngan kecerdikannya, Burung Roly-Poly dan monyet-monyet Muggle-Wump berhasil membalas kedua orang itu.

Resensi Buku :

Novel The Twits merupakan buku anak karya Roald Dahl. Tapi kontennya berbeda jauh dari yang saya prediksikan, mengingat saya sudah pernah membaca bukunya yang lain. Melihat kontennya yang sadis dan kejam entah kenapa saya heran mengapa Roald Dahl mendapat label pengarang favorit anak-anak. Mungkin karena isinya unik, berbeda dibanding buku anak lainnya. Tapi dari segi pendidikan saya mempertanyakan kadar kesadisannya. Seperti yang dilakukan Mr Twit yang jahat sekali karena hobi mengerjai istrinya. Mereka bertengkar dan saling membalas kejahatan masing-masing dengan cara yang sadis.

Baru di bagian Monyet Muggle-Wump dan burung Roly-poly yang bikin pembalasan, saya merasa ceritanya jadi seimbang. Kejahatan dibalas kejahatan. Namun tetap ada yang mengganjal. Mengapa penulis membuat konten buku sekejam ini? Apa karena penulis ingin membuat cerita bahwa kejahatan bisa ditangkis dengan melawan?

Yang paling unik cerita tentang jungkir balik. Mengingatkan saya pada up side down world di Jogja. :D Meja, kursi, karpet, bahkan pernak-pernik rumah yang kecil juga menempel di atap. Rumah keluarga twit jadi terbalik. Lucu. Para monyet dan burung bekerja keras demi hal ini.

“Ayo, ayo! Loncat  ke meja! Berdiri di kursi-kursi! Loncat ke bahu yang lain! Roly-Poly dapat melakukannya dengan terbang! Jangan berdiri melongo! Kita harus bergegas, mengerti? Pasangan Twit yang jahat itu akan kembali setiap saat dan kali ini mereka akan memiliki senapan! Mulailah bekerja, demi Tuhan! Mulailah bekerja!”(hlm. 77)

Sekarang di dunia nyata hal itu benar-benar bisa terjadi. Kalau zaman dulu saat buku ini terbit di tahun 1980 rasanya hal itu mustahil terjadi. Tapi kenyataannya imajinasi lebih penting dari kenyataan karena bisa menjadikannya nyata di tahun-tahun mendatang. Ya, saya rasa ini yang membuat Roald Dahl berbeda. Imajinasinya unik dan cenderung nyleneh. Overall, 3 bintang untuk novel The Twits ini. :D


5 comments:

  1. Wow menarik yaa, sebelumnya aku gak tertarik loh baca buku buku anak seperti ini, pernah sekali baca buku cerita mini berjudul "tomy si pengadu" karangan enid blyton , dan disitu memang kontennya sangat mendidik, jadi aku sering bacakan untuk adikku.

    Tapi kayaknya Roald Dahl berbeda yahh dari penulis buku anak yang lain ya ..

    Oiya, btw terlepas dari ini adalah buku anak, menurut kamu ceritanya menarik gak sih untuk yang bukan anak anak lagii??

    ReplyDelete
  2. Jujur aku belum pernah baca novel anak. Kalau tentang seorang anak mungkin pernah. Tapi kalau modelnya kayak diatas, kok seketika mikir: untung enggak difilmkan atau kalau difilm kan enggak masuk di Indonesia. Soalnya kalau masuk di Indonesia agak ragu kalau KPI enggak bakal nyensor

    ReplyDelete
  3. Saya setuju, mungkin untuk novel anak seperti ini terlalu trhiller. Bisa jadi memang perbedaan budaya barat dengan kita budaya timur. Apalagi memakai obek hewan kalau disini mungkin sudah dkritik para pecinta hewan yah... tapi overall bagus..buat orang dewasa tapi. Hehehe

    ReplyDelete
  4. terlepas dari kesadisannya, aku pengin baca buku ini. Roald Dahl termasuk penulis favoritku. aku pernah baca Matilda, dan sumpah sebel banget sama orang tuanya yang nyebelin. menurutku Roald Dahl seperti ingin menuliskan kalo di dunia nyata emang ada orang tua yang kejam seperti itu, terlepas emang ada orang tua yang baik :)

    ReplyDelete
  5. sepertinya keren novelnya, jadi inget temen aku yang suka baca novel anak :D
    jadi ada ide nih buat kadoin dia

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^