1 August 2020

Review Komik : Edo Carta - Tales of Love From Edo Era by Arare Ame




Judul : Edo Carta - Tales of Love From Edo Era
Pengarang : Arare Ame
Penerbit : m&c! (Imprint Gramedia)
Alih Bahasa : Lidwina Surjani
Terbit : Cetakan Pertama, 2014
ISBN : 9786022667148


Blurb :

Akankah Okuma bisa menemukan tambatan hatinya... Kimori
Asagi yang gigih mempertahankan kehormatan diri meski dijual oleh orangtuanya... Kanrobai
Bocah yang bertahan dalam badai selagi menunggu djemput kembali oleh ayah kandungnya... Maigoshi
Kesetiaan seorang pelayan dan cinta yang tulus seorang nona besar... Akai Sinnyo
Inilah 4 episode klasik berlatar belakang zaman Edo yang menggetarkan jiwa!

Resensi Buku :


Edo berasal dari kata “pintu masuk ombak” dipakai sebagai nama wilayah provinsi Musashi , yang menjadi pusat politik Jepang selama 260 tahun, mulai dari pemerintahan Tokugawa tahun 1603 hingga menyandang nama resmi Jepang pada tahun 1868. Kastil di Edo dipenuhi oleh pemukiman samurai bersama rakyat jelata, total penghuni sekitar 100.000 jiwa. Kebudayaan Edo berkembang pesat, kota ini tampil menonjol di antara kota lainnya di sisi timur Jepang.

Karuta berasal dari kata “Carta” yang berarti produk kertas atau permainan kartu dalam bahasa Portugis. Inti permainannya adalah merebut kartu yang diinginkan sebelum diambil oleh lawan main. Banyak yang menjadikan permainan ini sebagai ajang bertaruh. Permainan Karuta muncul di beragam bentuk kesenian Jepang, mulai dari ukiran, cetakan maupun lukisan.

Dalam komik Edo Carta – Tales of Love From Edo Era, pembaca disuguhi 4 cerita tentang kisah hidup orang-orang yang ada di zaman Edo. Bagaimana budaya, sejarah dan kehidupan sosial mereka ditunjukkan dalam cerita di komik ini? Sebagai komik yang berlatar zaman Edo, kisah di komik ini termasuk unik dan mengharukan. Jadi buat kamu yang penasaran, simak ya review komiknya di sini!

Cerita pertama berisi tentang kisah Kimori. Kimori merupakan istilah untuk menyebut sebutir buah yang sengaja ditinggalkan di pohonnya agar tahun depan bisa berbuah lebih banyak lagi. Bisa juga berarti sesuatu atau seseorang yang dipilih pada saat terakhir.

Cerita ini berkisah tentang seorang lelaki pemilik toko terbesar di Edo sedang mencarikan suami untuk puterinya. Lelaki itu bermarga Kurokiya. Semua orang sangat segan dengan reputasi toko dan pemiliknya. Namun, tak ada mak comblang yang mau mengenalkan puterinya pada lelaki yang didambakan. Mak comblang itu putus asa karena Okuma Kurokiya sangat gemuk sehingga mempengaruhi penilaian orang terhadap dirinya.

Suatu hari, ada segerombol lelaki yang menjaili Okuma di jalanan, lalu muncul seorang lelaki yang membela Okuma. Okuma terkesan dengan lelaki itu hingga ia berterimakasih dan memberikan makanan pada Kawaguchi-sama, lelaki yang menolongnya. Okuma sering menemui lelaki itu untuk berbincang, hingga kemudian ayahnya ingin melamar Okuma pada Kawaguchi-sama. Namun, Kawaguchi-sama justru menghilang keesokan harinya. Hal itu membuat Okuma berlarian di jalanan dan kemudian pingsan.

Waktu berlalu hingga bertahun-tahun lamanya, Kawaguchi-sama yang merupakan lelaki samurai kini kembali ke daerahnya. Orang-orang mengenalinya dari bekas luka yang ada di wajahnya. Kawaguchi-sama ingin bertemu dengan Okuma-dono. Namun, ayahnya mengatakan hal yang membuatnya terkejut.

“Okuma yang sekarang beda dengan Okuma yang kamu kenal dulu. Apa kamu tidak keberatan?” 
“Tidak.”

Jadi, apa yang berbeda? Orang-orang yang ada di sekitar toko mengira Okuma kini gemuk hingga tak berani keluar rumah bertahun-tahun lamanya. Namun, ternyata Okuma Kurokiya yang sekarang bukanlah Okuma yang dulu. Gadis gemuk itu berubah menjadi lebih cantik karena tubuhnya menjadi kurus akibat terlalu banyak tersedih atas kepergian Kawaguchi-sama.

Ending ceritanya gimana?

Well ya, endingnya bisa ditebak kan? Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia. Selain itu, Kawaguchi-sama pun masuk ke dalam marga Kurokiya. Marga Kurokiya digunakan juga untuk menyebut keturunan dari Okuma-dono dan Kawaguchi-sama.

Sebenarnya saya penasaran kenapa marga laki-laki yang lebih rendah strata sosialnya saat masuk ke dalam keluarga istri justru menggunakan marga sang istri? Apakah itu artinya marga yang digunakan harus yang paling tinggi derajatnya? Padahal biasanya perempuan yang ikut nama keluarga suaminya ya.

Btw, di kisah pertama ini banyak istilah di zaman Edo yang baru saya tahu, misalnya : kue manju yang menjadi kue favorit Okuma, Ada juga istilah Daifuku yaitu bekal makanan. Selain itu, ada juga Batamochi yang merupakan kue dengan isian anko (anko adalah pasta kacang merah).

Oke, kita lanjut ke kisah kedua yaa.

Kisah kedua berisi kisah tentang seorang gadis bernama Asagi yang merupakan anak dari lelaki samurai yang telah meninggal karena seppuku. Asagi dijual oleh orang tuanya ke sebuah tempat hingga ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Asagi mendapat perlakuan tak adil ketika ia harus membuat Kanrobai sendirian sebagai hukuman karena ia sering membuat ulah di tempat kerjanya.

Ada yang belum tahu tentang Kanrobai? Kanrobai adalah manisan buah plum yang dibungkus dengan daun shiso biasa dinikmati dengan jorou.

Suatu hari, Asagi yang harus membuat Kanrobai sendirian mendengar suara aneh dari belakang ruangan dapur. Ternyata ada suara seorang lelaki yang dihukum karena tidak bisa membayar uang saat bertaruh. Lelaki itu diletakkan di dalam ember dan ditutup batu besar. Ia merintih dan menangis meminta makanan. Karena kasihan, Asagi memberinya makanan berupa buah plum yang belum matang.



Selang waktu berlalu, Asagi sibuk dengan pekerjaannya, lalu ada seorang yang mengatakan bahwa buah Plum yang masih mentah bisa berisi racun yang membahayakan tubuh. Asagi langsung teringat dengan buah plum yang diberikan pada lelaki yang dihukum di ember itu. Ia langsung berlari ke belakang dan menemui lelaki itu. Ternyata benar, lelaki itu hampir saja kehilangan nyawa karena keracunan buah Plum. Namun, setelah diberi air, lelaki itu sedikit membaik.


Asagi kembali ke ruangan kerjanya, namun Asagi bermasalah dengan orang lain hingga ia dihukum. Apalagi ia juga membantah saat harus berurusan dengan majikannya. Itu membuat orang-orang geram, lalu Asagi dihukum di dalam ruangan khusus.

Beberapa jam berlalu, ada seseorang yang mencari lelaki bermarga Kurokiya. Katanya ada anak muda yang merupakan pewaris toko Kirokiya yang terkenal itu. Lelaki itu diminta untuk pulang. Orang-orag baru sadar bahwa lelaki yang dimaksud adalah lelaki yang dihukum di belakang ruangan dapur.

Lelaki itu pun dibebaskan dari hukuman. Namun, ia meminta untuk mengumpulkan semua perempuan yang ada di sana. Barulah ia mencari di mana perempuan yang menolong dan memberinya makanan. Ia tak tahu nama Asagi, juga wajahnya. Namun ia bisa menemukan Asagi hanya dengan menemukan ruangan tempat hukuman dilakukan pada Asagi. Selain itu, tangan Asagi yang sangat khas warna merah buah Plum membuat ia mudah ditemukan.

Lelaki itu pun akhirnya meminta Asagi untuk dibebaskan sebagai budak dan menikah dengannya. Hingga keduanya hidup bahagia dan menjadi tuan toko yang sangat masyhur meneruskan generasi Kurokiya. Ternyata lelaki bernama Kurokiya Mankichi merupakan anak dari Okuma-dono dan Kawaguchi-sama. Wew, ternyata ya. Haha. Awalnya saya kira 4 kisah dalam komik ini tak saling berhubungan. Semacam cerita yang saling lepas begitu. Ternyata ada beberapa orang yang saling berhubungan, meskipun tidak secara semuanya ya. Hehe

Next, kisah ketiga merupakan kisah anak yang terlantar karena dibuang oleh ayahnya. Dalam budaya Jepang di era Edo, dulu ada istilah Maigoshi. Jika ada orang yang mencari anak hilang, ia akan menempelkan selebaran keterangan di Maigoshi. Kalau orang tua anak tidak juga muncul, maka anak yang bersangkutan dianggap telah diterlantarkan dan akan diasuh oleh pemerintah kota.

Ada seorang anak bernama Otama yang diterlantarkan oleh orang tuanya. Ia ditinggalkan begitu saja di suatu tempat hingga ia tidak bisa kembali ke rumahnya. Otama dititipkan sementara di Takaji, kepala Nishikimachi. Namun, saat adaptasi di rumah barunya, Otama merasa tidak betah karena sikap anak lelaki bernama Shiroi yang bertindak sewenang-wenang.

Suatu hari mereka berdua masuk ke dalam ruangan khusus penyimpanan barang berharga, hingga sebuah barang pecah. Otama yang bukan anak kandung pun lebih memilih menanggung hukuman agar Shiroi tidak dihukum. Sejak saat itu Shiroi menjadi lebih baik pada Otama.


Suatu hari, Otama menghilang dari rumah. Ia pergi ke tempat di mana ayahnya dulu meninggalkannya. Ternyata, di sana ia tak sengaja bertemu ayahnya. Otama mengira ayahnya benar-benar merindukannya, ternyata tidak. Otama justru akan dijual oleh ayahnya ke seorang pedagang yang sudah bertransaksi dengan istrinya. Istrinya yang merupakan ibu tiri Otama ingin menjual Otama agar mendapat uang tambahan.

Di sinilah konflik terjadi. Apakah Otama akan memilih untuk tetap bersama dengan ayahnya yang telah menjualnya, atau ia akan kembali dengan keluarga Shiroi? Kisah ketiga ini mengingatkanku dengan kisah bawang merah dan bawang putih. Hanya saja bedanya di zaman Edo memang masih ada strata sosial yang membuat gap ekonomi terasa nyata. Terutama dari golongan yang ekonominya lebih baik seperti tuan tanah. Setiap tuan tanah memiliki budak yang dibeli dengan harga murah.

Dulu perbudakan masih kental dan sebagian besar orang yang sudah menjadi budak akan sulit untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Mereka tidak bisa merdeka kecuali ada yang membeli mereka dengan harga sesuai kesepakatan dengan tuan tanah. Itulah yang membuat Otama memilih untuk bersama dengan keluarga barunya yaitu keluarga Shiroi yang ternyata sudah mengajukan permintaan untuk adopsi Otama sebagai anak angkat.

Ending kisah ini bikin saya mikir, ternyata di zaman Edo masih sangat kental dengan perbudakan. Selain itu, kisah Otama membuat saya hampir menangis. Apalagi Otama mengatakan hal yang membuat ayahnya tertegun saat akan berpisah.

“Ayah... ini... aku ingin makan permen ini bersama ayah di rumah. Kubawa terus kemana-mana.”

Otama membawa permen yang diberikan oleh ayahnya, namun permen itu tidak pernah dimakan. Ia baru sadar bahwa itu cara ayahnya untuk mengucapkan selamat tinggal pada Otama sebelum ia meninggalkan anaknya di jalanan yang sepi. Ya, sebelum Otama ditemukan oleh keluarga lain. Saat itu Otama ditelantarkan begitu saja. Bahkan anak sekecil Otama bisa mengingat apa yang diucapkan oleh ibu tirinya. Wew, sebuah kisah tragis yang bikin saya bersyukur hidup di negara yang merdeka. Setidaknya kita sudah bebas dan merdeka untuk menentukan hidup kita sendiri. Tidak terikat dan jadi budak orang lain.

Kisah keempat nggak kalah seru dan miris. Tapi nggak seru ya kalau saya bahas semuanya di sini. Intinya, empat kisah ini ada beberapa tokoh yang saling berhubungan, ada yang tidak. Kisah keempat sebenarnya tragis juga, tentang kisah cinta antara dua strata sosial. Yang satu dari anak tuan tanah, yang satu merupakan pelayan alias budak di keluarga tersebut. Namun, kisah cintanya bikin miris. Duh, nggak mau cerita lebih lanjut deh. Baca aja sendiri ya.

Saya pikir kish cinta di zaman Edo di komik ini membuat saya banyak berpikir, bersyukur kita sudah hidup di zaman yang lebih canggih dan strata sosial tidak terlalu terlihat jelas. Ada gap ekonomi, namun setiap orang menjadi jiwa merdeka. Bukan budak dan pelayan. Nggak kebayang kalau harus ada gap  ekonomi sebesar itu antara tuan tanah dan pelayan. Ya, ribet juga ya urusannya kalau udah saling jatuh cinta. Weeyy lah, kibarin bendera putih aja. Hehe

Nah, baca aja komiknya ya. Menurut saya komik ini cukup mencerminkan gambaran sosial di era Edo, zaman sebelum Jepang menjadi sebuah negara. Overall, 4 bintang untuk komik ini. Plot twistnya dapet banget deh. 😁


No comments:

Post a comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^