8 August 2020

[Resensi Buku] Bijak Mengelola Sikap – Singung yang Sangat Pemalu by Durroh Fuadin K.

 




Judul Buku : Bijak Mengelola Sikap – Singung yang Sangat Pemalu

Pengarang : Durroh Fuadin K.

Illustrasi : Bella Ansori

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (BIP)

Terbit : Cetakan Pertama, 2020

Tebal : 26 halaman

ISBN : 978-623-04-0011-7

Kategori Usia : Anak 5 Tahun

Rating : 3,5/5 bintang

Baca via Gramedia Digital

 

Sinopsis Buku :

Di sebuah hutan, tinggal seekor Singung yang tidak mau bermain bersama hewan lainnya. Ternyata, dia merasa malu karena aroma tubuhnya yang tidak sedap! Sahabatnya pun mencoba membantunya. Kira-kira, apa yang sahabatnya berikan untuk Singung, ya? Apakah Singung mau bermain kembali bersama teman-temannya?

Bijak Mengelola Sikap berisi tentang fabel yang mengajarkan nilai moral bagi anak, seperti mandiri, sopan santun, percaya diri, berpikir positif dan mencintai diri sendiri.

Yuk, ajak si kecil memilih sendiri jalan ceritanya di buku ini.

 

Resensi Buku :

Singung sangat pemalu. Dia tidak pernah menyapa terlebih dahulu saat berpapasan dengan binatang lainnya. Singung lebih suka menundukkan kepala. Bahkan ia bersembunyi di balik pepohonan bila ada binatang yang akan melintas di hadapannya.

Singung selalu menghindar dari teman-temannya karena ia tidak percaya diri. Ekor Singung mengeluarkan bau tak sedap saat ia ketakutan atau terancam bahaya. Itulah sebabnya ia khawatir hal itu mencelakai teman-temannya yang bermain bersamanya. Singung pun tak pernah menerima ajakan berpersta karena minder. Ia lebih memilih berada di rumahnya sendiri.

Suatu hari, temannya Cerpelai memberinya kado berupa parfum. Ia pun mencobanya. Aroma semerbak memenuhi ruangan. Singung pun menjadi percaya diri. Sejak itu ia terus mengunakan parfumnya. Namun, Singung kehabisan parfum saat ia harus datang ke rumah Musang. Musang mengundangnya hadir di acara pestanya. Singung dihadapkan pada dua pilihan yang sulit. Apakah ia akan tetap menjadi seorang yang pemalu, atau ia akan tetap menjadi percaya diri meskipun tak ada parfum yang dipakainya hari itu?

Dalam buku anak seri Bijak Mengelola Sikap ini, penulis mengisahkan tentang Singung yang sangat pemalu. Rasa malu Singung beralasan karena hewan ini memiliki aroma yang sangat busuk dan menyengat setiap kali ia merasa terancam bahaya. Setiap hewan yang tumbuh di habitat liar memiliki satu alat di dalam tubuhnya yang bisa digunakan sebagai pelindung diri. Dalam hal ini, Singung mengeluarkan aroma untuk melindungi dirinya di saat ia merasa terancam atau bahaya yang menghadang.

Ide cerita buku ini sangat unik karena membantu anak untuk belajar memilih atau mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Tidak lagi dibantu oleh orang tua, anak bisa belajar menimbang suatu sikap, jika ia mengambil pilihan A atau pilihan B. Setiap pilihan akan mengandung risiko, namun yang paling penting adalah pilihan itu dilakukan oleh anak sendiri saat membaca buku ini. Dengan demikian, pikiran dan daya kritis anak terasah dengan sendirinya.

Namun, ada kekurangan buku ini yaitu kasus Singung ini membuat saya berpikir bahwa anak-anak di usia 5 tahun belum mengenal aroma dan pengaruhnya dalam kehidupan sosial mereka. Anak baru merasakan kehidupan bersosialisasi yang lebih intens di atas usia tersebut. Misalnya 7-12 tahun di mana anak sudah mulai bisa mencari teman bermain berdasarkan kesesuaian minatnya.

Anak usia 5 tahun masih memiliki rasa egois yang tinggi karena mereka masih dalam tahap belajar dan mencari sesuatu yang menyenangkan dalam permainan. Jadi saya rasa kasus Singung ini agak berat ya. Karena anak-anak sendiri sebenarnya belum terlalu sepemalu itu karena bau badan. Biasanya, anak malu bersosialisasi karena bertemu orang asing atau lingkungan yang masih asing, bukan karena bau badannya.

Ada lagi yang saya soroti yaitu, jika anak mulai dikenalkan dengan parfum, apa itu berarti anak akan menilai baik dan buruknya seseorang dari penampilan? Misal : aku suka bermain dengan si A karena aroma badannya menyenangkan. Tentu tidak, kan? Anak usia 5 tahun belum sepemilih itu.

Selain itu, parfum yang diberi oleh Cerpelai membuat Singung bingung, karena stoknya sudah habis. Saya jadi berpikir apakah solusinya adalah membeli lagi dengan uang sendiri jika Singung tidak kunjung percaya diri? Ini yang pertama kali saya pikirkan ketika ada opsi parfum di dalam cerita anak ini. Anak-anak belum sebutuh itu untuk pakai parfum kan ya? Hehe.

Selain itu, parfum bisa menjadi nilai konsumtif yang dikenalkan pada anak usia 5 tahun. Padahal sebenarnya anak belum butuh banget, kan?

Nah, untuk pemilihan dua sikap yang ditawarkan pada anak sebenarnya sudah bagus. Apalagi anak bisa belajar memilih sendiri sikap yang ia rasakan dan sesuai dengan konsekuensinya. Hanya itu yang bikin saya kepikiran tentang parfum dan pengaruhnya terhadap penampilan Singung.

Oiya, awalnya saya berharap ada semacam penjelasan dari sisi Sains tentang mengapa Singung mengeluarkan aroma tak sedap dan bagaimana mengatasi hal itu. Namun, karena buku ini lebih fokus ke emosi, jadi saya pikir ya, penjelasan tentang sains tidak diperlukan dalam hal ini.

Saya juga sempat berharap ada pojok petunjuk baca untuk orang tua, bagaimana cara orang tua untuk membahasakan tentang sikap yang dipilih anak, apa nama sikapnya, dan bagaimana cara menanganinya. Namun, ya seperti halnya dengan pictorial book lainnya, buku ini hanya memberikan satu cerita dongeng saja. Tak ada tambahan apapun lagi. Overall, 3,5 bintang untuk buku ini.


No comments:

Post a comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^