13 August 2020

Resensi Buku : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) by Sayaka Murata

 

Judul Buku : Gadis Minimarket (Convenience Store Woman)

Pengarang : Sayaka Murata

Alih Bahasa : Ninuk Sulistyawati

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan Pertama, 2020

Tebal : 160 halaman

ISBN : 978-602-06-4439-4

Rating : 4/5 bintang

Baca ebook Gadis Minimarket di Gramedia Digital

 

Sinopsis Buku Gadis Minimarket - Sayaka Murata:

Dunia menuntut Keiko untuk menjadi normal, walau ia tidak tahu ‘normal’ itu seperti apa. Namun, di minimarket, Keiko dilahirkan dengan identitas baru sebagai ‘pegawai minimarket’. Kini Keiko terancam dipisahkan dari dunia minimarket yang dicintainya selama ini.

 

Resensi Buku Gadis Minimarket - Sayaka Murata :

Keiko Furukura telah terlahir menjadi pegawai minimarket sejak ia duduk di bangku kuliah. Ia sangat mencintai dunia minimarket yang telah ditekuninya selama 18 tahun. Saat ini usianya telah 36 tahun namun sebagai manusia, ia dianggap aneh karena masih menjadi pekerja paruh waktu, bukannya mencari pekerjaan tetap.  

Selain itu, ia juga masih bertahan dengan kesendiriannya alias jomblo akut. Ia tidak pernah merasakan jatuh cinta pada lawan jenis. Bahkan banyak yang menganggapnya aneh karena ia tidak pernah menunjukkan ekspresi yang sewajarnya. Misalnya : marah, sedih, kecewa, dll.

 

“Aku mahir menirukan video contoh atau contoh yang diperlihatkan pelatih di ruangan belakang. Selama ini tidak ada yang mengajariku bagaimana berekspresi  yang normal dan bagaimana cara berbicara.”

 

Keiko tak pernah marah karena kesal dengan seseorang. Ia bisa saja menunjukkan mimik wajah marah saat ia meniru ekspresi yang ditunjukkan rekan kerjanya di minimarket. Bahkan intonasi suara dan pilihan fashion pun ia tiru dari orang lain. Pendeknya, Keiko Furukura adalah orang abnormal yang ingin hidup normal menurut standar manusia yang ada di sekitarnya. Jadi, ia lebih suka meniru apa yang orang lain tunjukkan, alih-alih menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.

 

“Diriku saat ini adalah hasil bentukan orang-orang di sekitarku. Tiga puluh persen berkat Izumi, 30 persen berkat Sugawara, 20 persen berkat manager, dan sisanya  berkat orang-orang dari masa lalu, seperti Sasaki yang berhenti kerja setengah tahun lalu dan Okasaki, penyelia kami hingga tahun lalu. “

 

“Cara bicaraku yang terutama dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarku. Cara bicaraku pun mungkin juga memengaruhi orang lain. Menurutku, saling memengaruhilah yang menjaga kita tetap menjadi manusia.” (hlm. 31)

 

Keiko menganggap minimarket sebagai tempat yang paling aman baginya karena ia bisa mengenakan topeng pegawai minimarket selama ia mau. Ia bisa bersikap ramah dan sopan, juga menjalankan seluruh pekerjaan di minimarket dengan baik, baik shift pagi maupun shift malam. Namun, tak ada yang tahu masalah apa yang sebenarnya ada di dalam dirinya.

Keiko tumbuh dewasa dengan kondisi emosi dan psikis yang tidak normal. Bagi lingkungannya, kehadiran Keiko membuat mereka merinding karena ucapan dan tindakannya sungguh brutal. Namun, Keiko tidak menyadari hal itu karena ia menganggap bahwa dirinya normal. Namun, kedua orang tuanya sangat menyayanginya, juga adiknya yang selalu menjadi orang yang bisa memahami sikap dan perilaku Keiko ketika dunia tidak berpihak padanya.

Keiko telah  dianggap abnormal karena sikapnya yang cenderung psikopat dan antisosial. Ia bisa tiba-tiba bersikap sangat tidak manusiawi ketika ia dengan santainya memukul temannya saat ada dua temannya bertengkar di sekolah. Alih-alih menenangkan mereka dengan ucapan, Keiko lebih memilih dengan tindakan. Namun, tindakan yang diambilnya justru kelewat brutal karena ia langsung memukul temannya dengan sekop hingga temannya terjatuh.


Baca juga : [Resensi Buku] Dua Belas Pasang Mata - Sakae Tsuboi

 

Ia bahkan pernah menghentikan guru perempuan yang berteriak histeris di kelasnya dengan menarik rok dan celananya. Tindakan ini ia anggap sebagai cara paling cepat untuk menyelesaikan masalah yang ada. Namun, orang tuanya sedih dan kecewa hingga mereka dipanggil ke sekolah akibat tindakan Keiko.

 

“Keiko kenapa tidak bisa mengerti…”

“Meskipun kecewa, Ayah dan Ibu tetap menyayangiku. Aku tak bermaksud membuat Ayah dan Ibu sedih, atau membuat mereka harus meminta maaf kepada banyak orang. Akhirnya kuputuskan untuk sebisa mungkin tidak berbicara saat berada di luar rumah. Aku memilih untuk meniru orang lain atau mengikuti instruksi orang lain, dan berhenti mengambil tindakan sendiri. “

 

Dalam pergaulannya di lingkaran pertemanan terbaiknya, Keiko dihadapkan pada situasi yang sulit ketika beberapa temannya mulai menanyakan mengapa Keiko belum juga ingin menikah. Bahkan ia tak terlihat punya minat pada laki-laki. Selain itu, masalah Keiko yang terus menerus bekerja sebagai pekerja paruh waktu di minimarket menjadi pertanyaan besar yang terus menerus mengejarnya.

Dalam masyarakat Jepang, saat orang sudah dewasa, mereka diharapkan sudah memiliki penghasilan yang besar dan pekerjaan yang tetap. Selain itu mereka juga harus sudah memiliki status yang jelas yaitu menikah dan memiliki keturunan sebagai bagian dari masyarakat. Namun, Keiko tidak memiliki keduanya. Ia tidak bekerja sebagai pegawai tetap, dan ia belum menikah.

Keiko tidak ingin menikah karena memang ingin sendiri. Selain itu, ia menganggap bahwa dengan menjadi pegawai minimarket, ia tetap aman dan bisa hidup dengan normal. Keiko bisa menjaga sikapnya dengan standar dan aturan yang ditetapkan oleh minimarket tempatnya bekerja. Ia tidak khawatir dengan masa depannya karena minimarket memberinya kenyamanan yang tak tergantikan oleh apapun. Minimarket telah merasuk ke dalam jiwa dan sel-sel tubuhnya.

Suatu hari, Shiraha, seorang pekerja paruh waktu yang lain membuat masalah di minimarket. Ia bekerja asal-asalan dan membuat berbagai masalah hingga ia dipecat oleh manager. Namun, Shiraha justu bertemu Keiko dan mereka saling berbincang tentang dunia yang normal menurut versi mereka. Keiko menawarkan solusi masalah, dengan imbalan Shiraha bisa menjadi alasan baginya untuk menghindar dari pertanyaan “mengapa belum menikah?”.  Namun, apa yang terjadi selanjutnya?

 

“Dengar, manusia yang tak punya manfaat bagi desa tak akan punya privasi. Bagaimana pun semua orang akan ikut campur. Pilihannya melahirkan anak, atau pergi berburu dan menghasilkan uang. Dan kalau tidak bisa berkontribusi pada desa maka akan dianggap sesat. Orang-orang desa pun akan mencampuri kehidupanmu sesuka hati mereka.” (Shiraha)

 

“Itulah kenapa kusebut masyarakat sekarang disfungsional. Mereka bicara manis soal keragaman gaya hidup, tapi pada akhirnya sejak Zaman Jomon semuanya tetap sama. Angka kelahiran menurun, masyarakat kembali ke Zaman Jomon dengan cepat, dan hidup menjadi lebih dari sekadar tak nyaman. Masyarakat telah mencapai taraf di mana eksistensi mereka yang tak berguna bagi desa akan dicela.” (Shiraha)

 

Hubungan Shiraha dan Keiko sungguh aneh, bukan hanya dari kacamata adik Keiko yang selama ini memahami dirinya, namun juga dari kacamata adik ipar Shiraha yang datang menemui Keiko untuk menagih uang sewa yang ditunggak Shiraha. Sampai adik Keiko memintanya untuk konseling karena Keiko dianggap sudah tidak normal dan tidak bisa disembuhkan lagi.

 

“Kenapa kau membiarkan laki-laki penganguran tinggal di apartemenmu? Tak masalah kalau suami istri bekerja, tapi kenapa kerja sambilan? Apa kau tak akan menikah? Tak akan punya anak? Kerja yang benar, penuhi peranmu sebagai orang dewasa… Dan mereka semua akan mencampuri hidupmu.” (hlm. 121)

 

“Aku ingin kau menyembunyikanku dari semua orang yang mengenalku. Semua orang dengan santainya ikut campur dengan hidupku padahal aku tak menyusahkan siapa pun. Aku cuma ingin bernapas dengan tenang.” (Shiraha)

 

“Aku tak tahu lagi dengan standar apa aku hidup. Sebelumnya, tubuhku milik minimarket sekalipun aku sedang tidak bekerja. Aku tidur, menjaga kondisi tubuhku tetap fit, dan makan makanan yang bernutrisi agar bisa bekerja dengan kondisi sehat.”

 

Keiko dihadapkan dengan pilihan yang rumit. Ia ingin menjadi manusia normal seperti yang lainnya, namun ia juga sulit untuk melepaskan bayang-bayang minimarket yang telah menemani hidupnya selama ini. Jadi, bagaimana akhir kisah Keiko Furukura dan Shiraha? Baca di buku Convenience Store Woman ini ya! ;)

 

***

Novel Gadis Minimarket : Pergulatan Batin Keiko Menjadi Manusia Normal di Masyarakat Jepang

Buku novel Gadis Minimarket atau Convenience Store Woman karya Sayaka Murata ini terbit di Jepang tahun 2016 dengan judul Konbini Ningen. Novel ini berkisah tentang perjuangan Keiko untuk menjadi manusia normal. Manusia yang menggunakan standar hidup di masyarakat. Seperti menikah, punya anak, dan memiliki pekerjaan tetap. Baginya, ia sudah merasa nyaman menjadi manusia normal dalam versi terbaiknya. Ia ingin terus bekerja menjadi pekerja paruh waktu di minimarket yang dibayar dengan gaji per jam. Ia tak mau mengganti pekerjaannya karena jiwanya terpanggil untuk memenuhi kebutuhan minimarket.

Keiko mengingatkan saya dengan dilema para pencari kerja di Jepang. Di Jepang, kaum muda dihadapkan dengan tuntutan hidup yang berat. Selain biaya hidupnya yang mahal, mereka tidak bisa menjadi manusia yang hanya hidup individualis saja. Sejak beberapa tahun terakhir, Jepang mengalami penurunan jumlah angka kelahiran dan juga jumlah kaum muda yang bekerja di Jepang. Itu sebabnya banyak perusahaan Jepang yang mengambil pekerja dari luar negeri. Bahkan Indonesia juga termasuk menjadi salah satu Negara yang banyak mengirimkan pekerjanya ke Jepang.


Baca juga : [Resensi Buku] Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kuroyanagi


Jepang memiliki banyak aturan yang sangat ketat seperti pajak yang sangat tinggi sehingga ketika orang memiliki anak, mereka akan menganggap bahwa hal itu memberatkan. Selain itu, sebagian besar perempuan di Jepang yang telah menikah lebih memilih untuk meninggalkan karir dan menjadi ibu rumah tangga. Itulah sebabnya dalam kehidupan masyarakat di Jepang, banyak pertanyaan seputar “Kapan menikah?”, “Kapan menjadi pekerja tetap?” karena dengan demikian hidup dianggap berada di titik aman. Saat orang memenuhi jawaban dari dua pertanyaan itu dengan tepat, mereka akan terbebas dari campur tangan orang lain tentang pilihan hidupnya.

Meskipun terkesan individualis, namun di Jepang, orang yang tidak bekerja atau bekerja paruh waktu dianggap kurang berhasil alias tidak berguna. Orang akan menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat dan kehidupan social saat mereka sudah mencapai pekerjaan tetap yang menjanjikan gaji besar.

Kekhawatiran Keiko dan Shiraha tentang kehidupan social mereka memang sangat kompleks dan rumit. Di sisi lain, Shiraha dihadapkan dengan hidup yang tidak mudah. Ia tidak menyelesaikan kuliah yang artinya ia tidak bisa mendaftar sebagai pekerja dengan gaji lebih tinggi. Ia juga malas-malasan mengerjakan pekerjaan, bahkan ia membuat ulah dengan mencari perempuan yang bisa diajak kencan atau dijadikan tempat menumpang hidup.

Selain itu, sikap parasit Shiraha membuat saya muak. Saking sebalnya saya sampai berharap Shiraha balik lagi ke kehidupannya di kampung halaman, daripada bikin susah orang lain atau jadi parasite kan? Tapi Shiraha justru mampu menawarkan pilihan untuk Keiko yang diterimanya dengan senang hati. Saya gregetan waktu cerita hampir di ending. Asli kesel banget sih, kenapa yang bakalan kerja  si Keiko, eh dia yang malah bersemangat nyari lowongan. Wkwk. Asem banget dah.

Selain itu, Shiraha mengingatkan saya dengan laki-laki madesu alias masa depan suram. Di Indonesia sendiri ada juga anggapan dalam masyarakat bahwa menikah dengan siapapun lebih baik daripada melajang. Tapi bagaimana jika dihadapkan dengan situasi seperti Keiko?

Sial jika kita bertemu Shiraha, si lelaki madesu yang justru numpang hidup pada Keiko. Kan kezel banget ya. Tapi anehnya di Indonesia pun banyak yang seperti ini. Laki-lakinya ongkang-ongkang kaki, eh perempuannya yang bekerja banting tulang. Mereka menikah demi bisa terlihat normal di mata masyarakat. Padahal kehidupan lebih baik saat sebelum mereka menikah. Seenggaknya, model perempuan seperti Keiko tidak perlu memenuhi kebutuhan hidup orang lain yang justu menjadi beban social di masyarakat.

Kesimpulan : 

Cerita Gadis Minimarket ini mengingatkan saya dengan pilihan hidup yang tidak normalnya dijalani orang lain. Ada yang sangat nyaman hidup dengan pekerjaan yang bergaji kecil demi bisa tetap aman secara psikis. Keiko seperti berada di kotak yang bisa menjadi tempat sembunyi paling aman dari dunia luar yang kejam.

Ya… Minimarket telah menjadi tempat persembunyian Keiko dari dunia abnormal yang dialaminya sejak kecil. Sikap psikopatnya yang antisosial juga sulit untuk disembuhkan. Meski demikian, saya suka dengan ide cerita buku novel Convenience Store Woman alias Gadis Minimarket ini. Ceritanya unik, detail dan alurnya sangat mengalir lancer. Selain itu, para tokohnya memiliki kekhasan tersendiri. Meskipun solusi masalahnya tidak mencapai titik yang saya sukai, namun mampu membuat saya berpikir.

 

“Oh iya ya, menjadi normal ternyata sangat sulit bagi manusia-manusia yang abnormal. Butuh effort untuk berubah dari hal yang biasa kita lakukan menuju hal-hal baru yang lebih baik.”

 

Jadi, apakah buku novel Convenience Store Woman alias Gadis Minimarket ini rekomended? Buat saya ini worth it banget sih. Coba baca deh novel Gadis Minimarket karya Sayaka Murata, dan kasih komentar ya. ;)

5 comments:

  1. Wahh asiik,udah dibikinin reviewnya :) aku baru baca beberapa halaman aja nih, kalo bagus, baru aku beli ebook ya :)

    ReplyDelete
  2. Sepertinya asik nih. Agak aneh emang klo ada yang betah di minimarket dibanding sebagaimana org betah di perpustakaan.

    Situasi Keiko emg kebanyakan di jepang soal "ketakutan" jika harus menikah

    ReplyDelete
  3. Dari konflik yang dialami Keiko mengenai bagaimana menjadi normal, titik krusialnya adalah perang batin dia menghadapi penilaian sosial yang ada di masyarakat. Seperti menjadi pekerja tetap, menikah, dan punya anak. Padahal, masyarakat tidak paham bagaimana kebanyakan orang ingin mengalami pencapaian itu dengan mudah, seperti yang lainnya, tetapi nasib kadang bermain-main yang akhirnya tidak sedikit pula yang terlambat bahkan masih berjuang keras untuk bisa memenuhi penilaian tersebut.

    Banyak diskusi panjang mengenai penilaian sosial ini. Dan mungkin saya salah satu yang masih berjuang untuk memenuhi penilaian tadi. Hanya saja, mungkin saya masih di level yang cuek dengan pandangan orang. Toh, saya juga tidak berdiam diri saja, tetapi tampaknya Tuhan belum menitipkan pencapaian itu ke saya untuk saat ini.

    ReplyDelete
  4. Aku belum baca tapi udah download di GD mayan pendek halamannya yo

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^