16 July 2021

Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin by Tere Liye

 

Novel romantis tere liye

Judul Buku : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Pengarang : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan ketiga puluh tiga, April 2018

Tebal : 264 halaman

ISBN : 9786020331607

Rating : 4/5 bintang

Harga Buku : Rp 53.000

Beli buku di Shopee Gramedia

 

Sinopsis Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye :

 

Dia bagai malaikat bagi kami. Merengkuh aku, adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat, berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meskipun harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

 

Resensi Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye :


Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye ini berkisah tentang perjuangan hidup pengamen jalanan sampai bisa kuliah di luar negeri. Baca ceritanya kayak too good to be true, tapi yang bikin seru justru kisah cinta yang nggak lazim antara remaja dengan lelaki beda usia 14 th. Kek gimana ya... Jadi mirip om-om pecinta anak kecil nggak sih? O.o

 

Asliii, aku terkejut baca buku ini. Heran seheran-herannya. Ini tuh apa ya.... Kisah cinta yang nggak lazim aja. Nggak habis pikir apa yang ada di pikiran penulisnya. Aku udah lama tahu judul buku ini, tapi baru kali ini baca karena baru sempet aja.

 

Buku Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini berkisah tentang hidup pengamen jalanan bernama Tania dan Dede, adik Tania yang dibantu seorang lelaki bernama Danar. 


Saat itu, kaki mungil Tania tertusuk paku payung dan diberi uang untuk membeli obat. Selain itu, laki-laki ini juga memberinya sandal.

 

Sejak itu, hidup Tania berubah karena seorang lelaki berhati malaikat yang dianggapnya sebagai kakak angkat. Tania (11 th) memanggilnya Oom Danar meski usianya baru 25 tahun. 


Danar bersedia membantu Tania dan Dede untuk bersekolah lagi. Ia akan membiayai sekolah keduanya dan membantu sang ibu untuk membangun usaha kecil berupa bisnis kue.


Baca juga : Resensi Buku Selamat Tinggal - Tere Liye

 

Selama dua tahun, ibu mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bisnis kuenya laris manis dan bahkan bisa mempekerjakan karyawan lainnya. 


Sejak itu, pelan-pelan Tania tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar yang mampu mengejar ketertinggalannya di sekolah. 


Tania selalu juara satu dan mendapatkan nilai yang bagus. Padahal saat bertemu dengan Danar di bus kota, Tania hanyalah seorang pengamen jalanan yang kakinya tertusuk paku payung dan ditolong olehnya.

 

Tania, Dede dan Ibunya diberi hidup yang lebih layak. Gadis kecil itu masuk SD lagi, penyetaraan kelas, ikut les bahasa inggris hingga lolos seleksi beasiswa sekolah di Singapura. 


Sayangnya, saat Tania usia 13 tahun, Ibu meninggal karena sakit. Hal ini membuat Tania sangat terpukul. Namun, Danar justru meminta Tania untuk fokus dengan pendidikannya. 


Saat itu, Tania sudah menyiapkan berkas beasiswa untuk melanjutkan Junior High School ke Singapura. Dan ternyata ia lolos menjadi kandidat penerima beasiswa.

 

Lalu, perlahan rasa simpati dan kasihan itu tumbuh jadi rasa suka, lalu berubah menjadi cinta. Ya... Berkat Danar yang terus memuji kepintaran Tania. Tak disangka cinta tumbuh dari perhatian dan perlindungannya.

 

Buku daun yang jatuh tak pernah membenci angin


Bagaimana seorang gadis kecil 11 tahun yang masih berkepang dua bisa jatuh cinta dengan lelaki yang lebih dewasa usianya. Padahal usia mereka berjarak 14 th? Sungguh... kisah cinta yang tak lazim. Tapi aku justru penasaran apa ini kisah separuh fiksi?


Soalnya inisialnya tuh sama kek penulis aslinya. DD itu Danar Danar, tapi nama penulis aslinya Darwis Darwis(Tere Liye). Plus ada id maibelopah yang emang dulu dia pake di blog Multiply, seingetku yak. :p

 

Selain itu, Tere Liye yang bernama Darwis saat itu pekerjaannya memang jadi dosen dan senang mendongeng. Jadi penasaran novel ini faksi apa bukan nih? Wkwk. Aku malah jadi penasaran apa yang bikin penulisnya nulis kisah cinta ini. Kayaknya agak susah juga ya nulis kisah cinta yang nggak lazim. Nanti dikira pecinta bocil pulak. xD


Baca juga : Resensi Buku Hujan by Tere Liye 

 

Yang bikin unik di novel ini justru interaksi Dede dan Tania. Kakak adik ini beneran asyik banget. Tania beruntung punya adek yang ngegemesis, polos, humoris, pengertian dan bisa diandalkan. Ya, mereka saling menguatkan satu sama lain saat ibu mereka telah tiada.  

 

“Pas pulang. Di atas pesawat Oom Danar bilang, Kak Tania banyak berubah. Berubah jadi cantik dan dewasa. Dede sih, nyela, cantik apaan? Kak Tania jadi aneh begitu. Sok dewasa, haha.”

“Oom Danar bilang, Ibu akan bangga sekali di surga...”


Kupikir pohon Linden yang ada di novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini tuh pohon waru yang sering kulihat di pinggir jalan. Tapi ternyata beda deh. Bentuk daunnya sama tapi beda aja. Pohon linden di luar negeri bisa berubah warna menjadi seperti daun maple, yang dapat menguning dan berubah warna menjadi merah.

 

Kalau di Indonesia kan semua daun berwarna hijau dan menguning tapi tidak berubah warna menjadi merah. Selain itu, pohon Linden ini juga memiliki bunga. Jadi penasaran kayak apa rumah kardus Tania yang telah disulap menjadi taman dengan pohon linden di tengahnya. Wow, pasti bagus banget ya.

 

“Ketika aku menolak pulang saat pernikahan mereka, dia merasa telah berbuat jahat kepadaku. Dia tak mampu menjelaskan kepadaku tentang bagaimana seharusnya aku mengubah perasaan cinta itu. Dia juga mungkin merasa bersalah dengan membiarkan perasaan itu muncul di hatiku. Dia tidak ingin membuat masalahnya semakin rumit, maka dia menghindariku.” (hlm 164)

 

Oh yaa... balik lagi soal kisah cintanya. Tania nggak sadar kalau cinta dengan malaikat yang membantunya, Danar. Begitu juga dengan Danar. Jadi selama 10 tahun sejak kenal, mereka nggak pernah bilang saling suka. Sampai Tania mendapat hadiah liontin saat usianya 17 th. Barulah tanda tanya itu muncul. 


Benarkah rasa suka itu hanya karena Tania mengaggap Danar kakaknya? 


Ataukah rasa kagum itu telah berubah menjadi cinta laki-laki dan perempuan?


Baca juga : Resensi Buku Selena (BUMI Series) by Tere Liye

 

Saat usia 22 th, Tania kembali ke rumah dan mempertanyakan perasaan Danar padanya. Jadi dianggap sayang... apa kakak adek ketemu gede nih? Hayolooh. Wekeke

 

Yang aku garis bawahi, sepertinya penulis buku ini, Tere Liye ingin bilang bahwa perasaan cinta, kasihan dan simpati itu susah didefinisikan. Kadang tahu-tahu rasa itu sudah berubah menjadi cinta. 


Satu-satunya cara untuk menetralkannya kembali adalah dengan melogikakan perasaan itu. Biar perasaan itu nggak makin rumit. Hadeeehh~

 

Selain itu, Tere Liye ingin bilang bahwa rasa simpati yang tak bisa dibendung bisa menjadi benih-benih rasa cinta yang akhirnya membuat ketergantungan satu sama lain. 


Syukurlah Tania termasuk gadis yang tangguh dan nggak menye-menye. Jadi ending novelnya ya cukup membuat aku lega sih ya. 


Jangan sampe deh jadi pelakor karena rasa cinta yang sulit dikendalikan. Lol. Padahal kan harusnya rasa itu biarkanlah tetap terpendam sebagaimana mestinya. 


Tapi namanya rasa cinta ya, kadang susah dipendam dan maunya diungkapkan, meskipun endingnya tak diharapkan. Hahaha

 

“Bukankah pohon ini bisa menjelaskan semua maksudmu? Pohon ini bisa menjadi saksi apa maksudmu? Menjadi judul buku yang tak akan pernah selesai itu?”

“Kau salah sangka, Tania. Aku tak tahu apa yang sedang kita bicarakan. Tetapi kau salah menduga. Kau salah.”

“Kaulah yang salah. Karena kau tak pernah mau mengakuinya.”

 

Well ya, sekarang tahu kan kenapa judulnya Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin? Karena ada scene dialog di bawah pohon linden, juga ada quotes di makam ibu yang sering disinggahi Dede.

 

Oh iya, tahu nggak yang bikin aku takjub? Buku novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye ini sudah dicetak ulang sebanyak 33 kali sejak diterbitkan tahun 2010. Ebook yang aku baca ini edisi April 2018. Mungkin edisi buku cetaknya sekarang sudah lebih banyak kali ya, karena masih dicetak ulang sampe sekarang. 


Jadi, apakah kisah Tania ini adalah separuh fiksi? Who knows? Who cares? Hanya Tuhan dan penulisnya saja yang tahu ya. Wekeke


Overall, 4 bintang untuk novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini. Kalau kamu gimana? Udah pernah baca novel feomenal ini? Share dong di komentar. :D

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^