Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

16 March 2017

[Resensi Buku] Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kuroyanagi


Judul Buku : Totto-chan, Gadis Cilik di Jendela
Pengarang : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : 2007
Tebal : 272 hlm
Rating : 4/5 bintang
Baca via BookMate


Resensi Buku :

Totto-chan tak pernah menyangka ia akan dilabeli anak nakal di sekolah itu. Ia dianggap anak yang sulit diatur. Berkali-kali membuka tutup laci meja sekehendak hatinya. Selalu berdiri di tepi jendela dan menanti pemusik jalanan yang dimintanya memainkan musik, juga mencoret-coret meja dengan tinta yang sulit dihapus. Totto-chan dianggap berbeda dibanding anak lainnya. Gurunya tak sanggup untuk mengurusnya lagi di sekolah. Akhirnya, mama memikirkan cara lain agar ia bisa sekolah. Totto-chan dikirim ke sebuah sekolah yang antimainstream, sekolah yang kelasnya menggunakan gerbong-gerbong kereta yang sudah tak digunakan.

Gerbong sekolah Tomoe dialihfungsikan sebagai kelas lengkap dengan perpustakaan. Di dekat aula juga ada tempat bermain anak-anak dan bisa digunakan untuk berenang. Hanya saja, di sekolah yang sudah lama berdiri itu, Totto-chan keheranan. Ia tak melihat banyak murid yang hadir di kelas. Hanya ada 50 anak dari 6 kelas yang ada. Jadi satu kelas dihuni beberapa anak saja. Anak-anak yang ada di sana juga bukan termasuk anak normal pada umumnya. Rata-rata mereka memiliki masalah pribadi hingga tidak diterima di sekolah yang normal. Misalnya, seorang anak yang cacat karena sakit polio, kakinya membentuk huruf O. Anak itu kesulitan berjalan namun sangat pandai.

Totto-chan masuk ke sekolah dan diwawancarai oleh kepala sekolah, Mr. Kobayashi. Kepala sekolahnya baik sekali. Ia mengetes Totto-chan dengan pertanyaan, “Apa yang ingin kamu ceritakan?” Dan Totto-chan pun menghabiskan 4 jam hanya untuk bercerita apa yang ia alami, rasakan dan pikirkan selama ini. Hingga kemudian ia pun dinyatakan diterima di sekolah Tomoe. Satu yang paling diingat Totto-chan dari kepala sekolahnya adalah kalimatnya yang indah, “Kau benar-benar anak baik.” Perkataan yang sangat diingat Totto-chan hingga membekas di hati dan pikirannya, bahwa ia benar-benar anak baik, bukan anak nakal seperti yang dilabelkan oleh orang dewasa di sekolahnya dulu.

“Dalam kasusku sendiri, sulit bagiku untuk mengukur betapa aku sangat tertolong oleh caranya mengatakan padaku, berulang-ulang,”Kau anak yang benar-benar baik. Kau tahu itu, kan?” Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr. Kobayashi, mungkin aku akan dicap “anak nakal”, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung.”

Buku karangan Tetsuko Kuroyanagi ini pertama kali terbit di Jepang pada tahun 1981. Dengan judul asli 窓ぎわのトットちゃん (Madogiwa no Totto-chan), Ada 63 bab di buku yang ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis yang merupakan karakter asli Totto-chan saat kecil dulu. Ia ingat beberapa fragmen dalam hidupnya, namun ia tidak sadar bahwa ia dikeluarkan dari sekolah. Mamanya menyimpan rapat kisah tersebut hingga ia membongkar rahasia itu saat Totto-chan berusia 20 an tahun.

Sistem pendidikan yang diterapkan oleh Mr. Kobayashi di Tomoe Gakuen bukanlah sistem yang konvensional. Mulai dari tempat mereka bersekolah yang berupa bekas gerbong kereta api, murid-muridnya yang ‘unik’, makanan yang dibawa sebagai bekal yang harus terdiri dari “sesuatu dari laut dan sesuatu dari gunung”, kurikulum sekolah, hingga bagaimana mereka membentuk karakter anak sesuai dengan fitrah anak-anak yaitu bermain.

Saya kagum dengan cara kepala sekolah membuat konsep makan yang baik. “Yuk kunyah baik-baik” terdengar sederhana dilafalkan, tidak seperti lagu yang terlalu rumit diingat dan dieja. Ingatan anak-anak pun mudah menempelkan kalimat itu di kepala mereka. Sang kepala sekolah yang memiliki keahlian di bidang musik ini memahami bagaimana anak-anak bertumbuh dan berperilaku hingga menyesuaikan kurikulum dengan cara berpikir anak-anaknya.

Cara sang kepala sekolah menerapkan sistem sekolah yang unik ini bikin saya suka. Seperti bagaimana agar anak tidak takut dengan hantu lewat permainan “Menangkap hantu di kuil dan kuburan” Saat membacanya saya cekikikan karena lucu mengingat anak-anak yang menjadi hantu justru takut dan pulang tanpa hasil. Hahaha. Benar-benar sebuah pengalaman yang menakjubkan bagi mereka. :p Ini semua karena nasihat kepala sekolah dan guru yang mengatakan bahwa jika mereka takut mereka tak perlu menyelesaikan rute hingga ke kuburan, langsung boleh kembali ke sekolah. Dan itulah yang membuat anak-anak yang berperan jadi hantu takut setengah mati di kuburan. Sampai harus dijemput oleh guru karena semua anak sudah kembali ke sekolah. Wkwk.

Ada juga kejadian lucu waktu Totto-chan bersikeras ingin membeli kulit kayu kesehatan karena iming-iming dari sales di stasiun kereta api dekat sekolahnya. Ia pun meminjam uang dari kepala sekolah untuk membeli kulit kesehatan yang sebenarnya tak berkhasiat apa-apa. Ya, segitu polosnya tingkah Totto-chan yang periang, cerdik juga penuh rasa ingin tahu. Kadang rasa ingin tahunya membahayakannya seperti saat ia menyelundup ke bawah ladang yang ada kawatnya. Sampai roknya robek setiap hari. Juga saat Totto-chan melakukan hal ajaib seperti menyerok semua kotoran di pembuangan air demi mencari dompetnya yang hilang. Heran juga kenapa mamanya bisa sesabar itu. :p Mungkin kalau saya udah kepikiran kenapa anaknya aneh begitu. xD *elus-elus jidat*

Ada juga kejadian sedih saat Rocky, anjing Totto-chan menghilang. Rasa sedihnya menjalar hingga saya ikut meneteskan air mata. Tak banyak anak-anak yang bisa bersahabat dengan hewan sebagaimana Totto-chan bermain bersama Rocky. Baginya, anjing itu sahabatnya yang bisa ia ajak bercerita kapanpun. Rocky juga ikut mengantar ke stasiun setiap kali Totto-chan akan ke Tomoe Gakuen.

Ada juga masa-masa suram saat kehidupan sedemikian menyedihkan bagi anak-anak Jepang. Saat pecah Perang Pasifik hingga membuat sebagian besar pemuda dan laki-laki dewasa dikirim ke medan perang demi membela negaranya. Kesedihan membayang di pelupuk mata saat satu persatu berita kematian datang, tapi anehnya anak-anak menanggapinya dengan sikap yang polos seperti saat seorang anak justru menawarkan sesuatu yang membuat kepala sekolah terhenyak, “Aku akan membawa kue pemakaman yang banyak dan enak” karena menganggap bahwa kue-kue sesaji itu memang lezat.

Kesedihan juga terjadi saat sekolah Tomoe luluh-lantak terkena bom hingga akhirnya tidak bisa didirikan lagi. Kepala sekolah ingin membangun sekolah yang serupa dengan Tomoe, namun ia harus memiliki dana yang besar, juga waktu yang banyak untuk memulainya kembali. Sistem pendidikan non konvensional yang diterapkannya kini bisa dilihat di homeschooling yang membolehkan anak untuk belajar dengan caranya sendiri. Apa yang ia sukai boleh dikerjakan lebih dulu. Jadi minat anak pada pelajaran bisa terus ditumbuhkan hingga mereka bisa menghabiskan hari-hari di sekolah dengan nyaman dan tidak membosankan. Sekolah jadi menyenangkan sekali, apalagi sesi berenang, bercocok tanam dan makan siang. 

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sekolah sejenis Tomoe Gakuen akan bisa dibangun di tengah badai pendidikan? Sekolah konvensional lebih mudah diterima di masyarakat dibanding sekolah sejenis Tomoe Gakuen. Jika ada sekolah seperti sekolah Tomoe Gakuen, maka akan sulit membangun sistemnya. Anak-anak harus ditangani oleh guru setidaknya 1 guru mengurus paling banyak 5 orang agar lebih efisien. Seperti yang dilakukan oleh Tomoe Gakuen. Sekolah dengan jumlah anak-anak yang sedikit lebih memungkinkan kepala sekolah untuk memonitor pendidikan yang sudah dijalankan oleh anak tersebut. Jadi kalau ada yang kurang, evaluasi bisa dilakukan.

Seperti saat Mr. Kobayashi kecewa dengan guru yang mengajar kelas Totto-chan. Sang guru mengeluarkan kata-kata tidak patut seputar lelucon tentang fisik seorang anak yang cacat. Bagi Mr. Kobayashi yang memahami dunia anak-anak, ia ingin agar guru bisa menempatkan posisi anak cacat tetap setara dengan anak normal lainnya sehingga anak-anak tidak minder. Ya, kalau saat ini pasti sulit deh nemu kepala sekolah yang care begitu.

Kekurangannya di bagian anak-anak yang tidak pakai baju di tempat renang. Meski ada alasan mengapa Mr. Kobayashi membolehkan anak-anak untuk berenang tanpa baju tapi menurut saya kurang etis. But, overall kisahnya menyentuh hati dan membuat saya bertanya-tanya di dunia modern saat ini apakah ada sekolah yang menerapkan sistem seperti yang dianut sang kepala sekolah Tomoe Gakuen? Jika ada rasanya pasti bahagia sekali anak-anak bisa diterima sesuai dengan fitrah mereka tanpa merasa terkucil seperti saat Totto-chan melihat dunia dari balik jendela kelasnya. 

Btw, 4/5 bintang untuk novel yang diterbitkan hingga tembus 4,5 juta eksemplar buku dalam satu tahun cetakan pertamanya di Jepang.


2 comments:

  1. yang berenang tanpa baju itu supaya mereka belajar perbedaan cowo-cewe ya? meski menurutku tetap aneh sih.
    Buku ini bikin aku membayangkan sekolah di atas kereta, kita bisa pilih sendiri pelajaran favorit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan, mb. Biar yang cacat ga minder dengan bentuk tubuhnya karena ada anak yang cacat kakinya bengkok.

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^