Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

29 June 2017

[Resensi Buku] Catatan Indah Untuk Tuhan - Saptuari Sugiharto


Judul Buku : Catatan Indah Untuk Tuhan
Penulis : Saptuari Sugiharto
Penerbit : Mizania
Terbit : 2014
ISBN : 978-602-9255-91-1
Rating : 4/5 bintang

Baca via BookMate


Buku Catatan Indah untuk Tuhan ini berisi kisah nyata yang dialami oleh mas Saptuari Sugiharto (@saptuari), pemilik Kedai Digital dan Jogist yang sekaligus menggawangi Sedekah Rombongan. Banyak hal-hal ajaib yang terjadi selama Mas Saptuari Sugiharto menjalani kehidupannya, baik sebagai pebisnis maupun sebagai hamba Allah. Sebagai refleksi, buku ini ditujukan bagi orang-orang yang sedang mencari makna hidup dalam balutan Islam, memaknai Tauhid pada Allah dengan seyakin-yakinnya lewat kisah yang dituangkan dalam buku ini.

Ada 15 catatan yang ditulis Mas Saptuari Sugiharto dalam buku Catatan Indah untuk Tuhan ini. Catatan pertama berjudul “Tuhan Sepanjang Masa” mengisahkan saat mas Saptuari berlibur bersama dengan temannya di pantai. Ia dikejar anjing hingga berlari kencang, namun temannya tidak minat untuk berlari. Bahkan temannya menyapa si anjing dengan membaca basmallah dan salam, lalu meminta si anjing untuk tidak mengganggu.

“Wahai anjing, engkau juga makhluk Allah sepertiku, tenanglah. Aku datang ke sini bukan untuk mengganggumu. Kembalilah ke tempatmu.”

Sejak itu si anjing tidak mengganggu lagi. Ada juga kejadian saat Cak Nun berdoa agar hujan berhenti di saat ia mengisi ceramah di sebuah desa. Kejadian-kejadian itu adalah bukti bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam yang mengurusi segala alam raya sehingga hanya kepadaNya lah kita meminta pertolongan saat butuh, bukan pada orang lain.

Baca juga : [Resensi Buku] Rezeki Level 9 - Andre Raditya


Catatan yang paling saya suka saat Mas Saptuari membahas tentang kisah hidup BJ. Habibie. Pak Habibie sangat religius dalam kesehariannya. Ia selalu mendahulukan panggilan shalat meski saat itu ia sedang memimpin rapat. Karena itulah, kehidupannya dimudahkan oleh Allah. Sayangnya kisah hidupnya yang religius tidak dimunculkan di Film Habibie Ainun, justru ditampilkan di sekuelnya yaitu film Rudy Habibie.

Ada juga kisah mas Saptuari dalam Catatan “Para Perayu Tuhan”. Ia pernah bertemu dengan ustad Yusuf Mansur yang saat itu sedang shalat dhuha. Beliau memperlama sujud di akhir shalat. Setelah shalat dhuha, sang ustad menjelaskan keutamaan berdoa pada saat sujud terakhir sebelum shalat selesai pada para jamaah yang hadir di masjid tersebut.

“Perbanyaklah doa pada sujud terakhir karena itu sujud perpisahan kita dengan Allah. Sampaikan keinginan kita langsung pada Allah.”

Mas Saptuari menyebutkan bahwa para kyai, ustad dan orang-orang yang dekat dengan Tuhannya adalah para perayu Tuhan yang hadir di sisi kehidupannya. Mereka memberi contoh bagaimana berdialog dengan Illahi Robbi dengan cara yang santun dan mulia.

Dalam catatan lainnya ada kisah Mas Mono, pemilik warung ayam bakar mas Mono yang ngehits itu. Mas Mono cerita bahwa azan adalah panggilan Allah yang wajib didahulukan dibanding aktivitas lainnya.

“Azan itu pertanda kita sedang ‘ditelepon’ Allah, disuruh menghadap. Allah kangen sama kita. Kalau dipanggil oleh yang memiliki hidup, kita cuek, apa nggak mungkin diambil semua nikmat yang sudah diberikan, seperti majikan yang mengambil ponsel sopirnya yang males-malesan?”

Saptuari Sugiharto mengatakan bahwa Azan adalah panggilan Allah yang merindukan hambanya mendekat padaNya. Jika Allah sudah ridha, maka apapun yang diminta oleh kita pasti akan dikabulkan dengan mudah olehNya. Namun, karena kesombongan kita yang lebih mementingkan dunia, maka saat azan berkumandang kita lebih sering mendahulukan kehidupan dunia. Sehingga azan, panggilan dari Allah berubah menjadi panggilan tak terjawab alias misscall. Jadi, manakah hamba Allah yang memuliakan Allah dengan mendekat segera saat azan berkumandang, itulah yang akan Allah percepat urusannya di dunia dan akhirat.

Baca juga : Api Tauhid : Memantik Gelora Perbaikan Diri


Dalam catatan lainnya, Mas Saptuari mengisahkan Rara, anak Pak Jayadi, buruh pembuat tahu yang mengalami kecelakaan hingga kulit tubuhnya melepuh terkena siraman air kuah gulai di sebuah hajatan tetangganya. Sejak itu, hari-hari Rara terasa menyedihkan karena kulitnya luka dan bernanah. Pak Jayadi merayu pada Allah lewat kegiatannya yaitu membersihkan mushala tempatnya biasa shalat. Ia rutin membersihkan hingga tiba-tiba keajaiban datang.

Pak Jayadi mendapatkan bantuan dari Sedekah Rombongan agar anaknya bisa segera ditangani di rumah sakit. Biaya yang besar kini tak jadi masalah karena sudah ada donatur. Pak Jayadi bukanlah orang kaya, namun ia merayu pada Allah lewat caranya yang indah, makin rajin membersihkan mushala sebelum shalat maghrib tiba, hingga akhirnya Allah mengabulkan doanya.

“Bersama gesekan sapu dan kain pel, saya terus berdoa “Ya Allah, sembuhkanlah anakku, hanya Engkau yang mampu mengangkat semua penyakitnya. Bantu kami dengan seluruh kuasaMu, ya Allah. Saya yakin sekali ketika saya membersihkan rumah Allah, Allah pun akan membersihkan masalah saya.”

Ada juga kisah Elang Gumilang yang menjadi pengusaha sukses. Hidupnya berubah drastis saat ia menjadi pemenang Wirausaha Muda Mandiri bersama dengan mas Saptuari juga namun beda di kategori pemenang. Elang punya kebiasaan unik dalam kesehariannya.

“Alhamdulillah, saya nggak pernah bolong shalat dhuha sejak kuliah, kalau puasa Senin-Kamis saya jalankan sejak SMA. Bapak dan ibu saya nggak putus shalat tajahudnya sejak muda. Kalau ruku saya tidak lurus, tidak sempurna, ibu selalu mengingatkan.”

Elang Gumilang yang kini membawahi 13 Perusahaan di bidang properti yang membangun rumah bagi tempat tinggal warga kurang mampu, kini bisa menikmati hidup nyaman. Sejak muda, ia sudah menjalankan amalan sunnah yang membuatnya dicintai Allah. Saat ia kuliah, pernah ia tinggal 3 tahun di masjid karena rumahnya sangat sempit sekali hingga jika ia membalikkan posisi tidur maka mukanya akan menghadap ke motor saking sempitnya.

Sejak itu, ia pindah ke masjid, menjaga masjid. Ia tidur di masjid, dan membersihkan masjid hingga bisa dipakai untuk beribadah kepada Allah. Masya Allah ya. Saya merinding pas baca cerita Elang ini. Karena catatan ‘Sang Penjaga Masjid’ ini merupakan kisah nyata yang membuat saya yakin bahwa Allah cinta dengan orang-orang yang memakmurkan masjid.

Ada banyak kisah mengharukan lainnya yang membuat saya jadi ikut menitikkan air mata, saat membaca doa-doa panjang yang dituliskan mas Saptuari, juga membaca kisahnya saat pergi ke Mekkah. Tak ada yang lebih indah selain doa-doa panjang untuk mengiringi kepergiannya kembali ke Indonesia sesaat setelah ia menunaikan umroh. Saya banyak belajar dari buku Catatan Indah untuk Tuhan ini. Ada banyak ketenangan dan kemudahan hidup saat kita menjalankan ibadah pada Allah tepat waktu dan memperbanyak doa dalam segala urusan kita, karena Allah sang Maha Kaya, Maha Mengabulkan Segala. Overall, 4 bintang untuk buku ini.


No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^