Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

14 June 2017

[Resensi Buku] Princess Badung by Veronica W


Judul Buku : Princess Badung
Pengarang : Veronica W
Penerbit : Tiga Ananda (Imprint Tiga Serangkai)
Terbit : Januari 2013
Tebal : 64 hlm.
ISBN : 978-602-7690-44-8
Rating : 4/5 bintang

Sinopsis :


Kyla, anak perempuan berumur 7 tahun, sangat menggemari pernak-pernik tokoh Princess. Kyla bercita-cita untuk menjadi seorang princess yang anggun. Padahal, Kyla adalah seorang anak yang aktif, kreatif, gesit, dan sering membuat heboh keluarga dan teman-temannya. Misalnya, ketika harus menjadi putri pengipas pengantin, Kyla melakukan kehebohan sehingga mendapat julukan Princess Badung.

Kyla berusaha memulihkan nama baiknya. Dengan berbagai cara, Kyla mencoba membuktikan bahwa dia biaa menjadi seorang putri yang anggun.

Kyla belajar menari, membuat aksesoris, juga memasak. Namun, karena pada dasarnya Kyla adalah seorang anak yang heboh, usahanya selalu diakhiri dengan kehebohan. Upaya untuk membuktikan bahwa dia bisa menjadi putri yang anggun selalu gagal.

Mampukah Kyla membuktikan bahwa dirinya adalah seorang Princess Anggun, bukan Princess Badung?

Resensi Buku : 


Princess Badung karya Mbak Veronica W merupakan salah satu novel seri First Novel. First novel merupakan novel hasil workshop yang dibuat oleh penerbit Tiga Serangkai untuk lini novel anak. Segmentasi anak yang dibidik adalah anak-anak usia sekolah dasar yaitu 8-12 th.
                                   
Princess Badung mengisahkan tentang Kyla yang memiliki tingkah unik dan menggemaskan. Ia susah diam, aktif bergerak dan kreatif. Dari kreatifitasnya lahirlah kegiatan ojek payung, membuat pernak pernik princess, memasak hingga menari.

Bagi Kyla, nama baiknya sebagai princess harus dikembalikan, karena semua orang di rumah menganggap Kyla sering bertingkah badung. Padahal Kyla melakukannya secara reflek. Misalnya saat ia bertubrukan dengan seorang tamu hingga hiasan sanggul di pesta pernikahan tantenya jadi berantakan. Padahal Kyla ditunjuk jadi patah atau putri cilik pengipas pengantin. Jadi saat ia mengalami insiden sanggul rusak dan jarit/kain batik yg dipakainya sudah sulit dikenakan, ia pun dijuluki princess badung. Tak ayal itu membuat Kyla ingin menghapus image itu.

Bagi keluarganya, julukan Princess Badung hanyalah candaan. Namun bagi Kyla ia menanggapinya dengan serius untuk bisa belajar menjadi putri yang lemah lembut seperti sikap putri jawa yang semenstinya. Bagaimana Kyla bisa menghilangkan image itu?

Karakter Kyla yang unik ini menggelitik saya. Mengingatkan saya pada murid sd yang saya beri les dulu. Anaknya juga aktif bergerak dan sulit diam dalam jangka waktu lama. Ada adagium yang mengatakan bahwa anak kreatif yang aktif adalah anak yang badung, padahal ini hanyalah persepsi saja. Kreatifitas identik dengan acak dan abstrak. Absurd klo kata orang bilang. Keacakan inilah yang membuatnya jadi istimewa. Karena ada saja tingkahnya yang di luar prediksi orang dewasa.

Kelak di usia dewasa, anak seperti Kyla akan memiliki daya kreatifitas yang tinggi hingga mampu membuat karya yang out of the box. Jika terus diasah ia akan membuat banyak karya-karya seru dan menjadi pencipta alih-alih pengikut. Ada kan ya orang yang suka ngikut tren, nah anak kreatif seperti Kyla biasanya punya inisiatif yang berbeda. Hingga membuat ia menjadi pencipta tren.

Ide-ide Kyla bertebaran di mana-mana. Seperti saat Kyla terpikir untuk mengojekkan payungnya. Inisiatif dan kreatifitas yang datang dengan terburu-buru ini ingin segera dikeluarkan menjadi sebuah tindakan nyata. Itu sebabnya Kyla pun tidak berpikir panjang tentang orang yang berniat menipunya. Ya, ini juga kelemahan orang kreatif. Cenderung impulsif, namun jika bisa dikendalikan dengan berusaha fokus maka hasilnya akan bagus. Seperti saat Kyla mendapatkan tawaran bagus dari orang yang menonton tariannya.  Well ya, kesungguhan dan kerja keras dalam berkarya akan membuahkan hasil yang baik.

Ada karakter lain yaitu tokoh ayah yang saya suka. Karena orangnya demokratis, tidak mudah marah, dan mensupport kemajuan putrinya. Ayah Kyla juga penuh canda tawa, membuat suasana di rumah jadi makin asyik.

"Kyla, Ayah suka dengan semangatmu. tetapi, besok lagi, cobalah untuk makan dengan lebih sopan, seperti layaknya seorang Princess." (hlm. 44)

Di novel ini selain perubahan karakter Kyla yang berusaha diubah sedikit demi sedikit juga ada persahabatan antara Kyla dan Vey. Kyla dan Vey saling support saat mereka mengikuti audisi pementasan tari. Mereka juga berbagi canda dan tawa layaknya anak-anak seusianya. 

Bagi saya, novel Princess Badung memberi inspirasi bagaimana mengarahkan anak seperti Kyla menjadi puteri yang sesungguhnya. Overall, 4 bintang untuk novel Princess Badung ini. ;)



1 comment:

  1. setelah membaca resensi mbak ini, saya jadi penasaran sama buku, hehehe...

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^