1 November 2021

[Resensi Buku] Kumpulan Dongeng Asia Tenggara - Cerita Negara Tetangga Myanmar

 

Dongeng myanmar


Judul Buku : Kumpulan Dongeng Asia Tenggara  - Cerita Negara Tetangga Myanmar

Penulis : Hapsari Hanggarini

Penerbit : Bhuana llmu Populer 

Terbit : 2021

Tebal : 28 halaman

Rating : 4/5 bintang

Baca ebook di Gramedia Digital



Sinopsis Buku : 


Dongeng-dongeng menghibur dari negara di Asia Tenggara ini akan mengajak kita memahami rupa-rupa kehidupan. Di dalamnya terdapat dongeng sederhana yang bisa membawa kita bertualang ke negeri tetangga. Di tiap ceritanya juga terdapat nilai-nilai moral yang bisa  kita petik. Koleksi semua serinya!


Resensi buku : 


Dalam buku berjudul Kumpulan Dongeng Asia Tenggara ini, memuat dua kisah dongeng dari negara Myanmar. 


Bagi kita yang tinggal di Indonesia, negara Myanmar kurang populer karena letaknya yang sedikit lebih jauh dari Indonesia, meskipun sama-sama masuk ke dalam kawasan Asia Tenggara.


Berbeda dengan Malaysia yang letaknya lebih dekat dengan Indonesia dan selama ini rumpun budaya dan bahasanya pun sejenis, Myanmar memiliki budaya yang lebih unik.


Nah, dalam dongeng Myanmar ini, ada dua kisah yaitu dongeng tentang Raja dan Ahli Memuji dan dongeng kisah Pagoda Awan Mendung.


Dalam dongeng Myanmar berjudul Raja dan Ahli Memuji, dikisahkan bahwa suatu hari raja mendapatkan kunjungan dari seorang ahli memuji. 


Ahli memuji ini dikenal sangat pintar memuji hingga membuat orang yang mendengarkan pujiannya pun menjadi tersanjung dan memberikan apapun yang dimintanya. 


Itulah sebabnya, penasehat raja mengatakan bahwa lebih baik raja berhati-hati dengan setiap ucapannya. Namun, raja membiarkan ahli memuji tetap mengunjunginya. 


Saat ahli memuji mengeluarkan kata-kata pujian yang sangat lebay dan berlebihan, raja menganggap bahwa hal itu memang benar adanya. Hingga raja tidak sadar bahsa ahli memuji meminta sesuatu hal yang seharusnya tidak dikabulkan raja. Apa itu? Ya, tahta kerajaan dan kekuasaannya. 


Ahli memuji meminta raja membagi tahta dan kekuasannya. Namun, raja yang sudah terlanjur suka dengan pujian itu pun mengiyakan permintaan aneh itu. Hasilnya, raja pun menyesal telah mendengarkan pujian itu dan tidak mengindahkan peringatan dari penasihat raja. 


Dari cerita ini, penulis memberikan kata mutiara di akhir cerita yaitu bahwa "Bekerjalah dengan tulus dan ikhlas, bukan karena ingin dipuji."




Dalam dongeng Myanmar kedua berjudul Kisah Pagoda Awan Mendung, dikisahkan sepasang suami istri nelayan bernama Ye Myint dan Aye Aye Se memelihara seekor buaya sejak berbentuk telur dan dianggap sebagai anak bernama Awan Mendung. 


Setelah menjadi buaya yang besar, Awan Mendung malah memangsa ayah angkatnya. 


Sebelum ajal, ayahnya meminta pada Tuhan agar kelak dilahirkan sebagai penguasa sihir ilmu putih agar bisa mengalahkan Awan Mendung. 


Tak disangka, setelah Awan Mendung menjadi manusia, dia menikah dengan perempuan bernama Soe Min. 


Suatu hari, Awan Mendung bermimpi tentang ayahnya. Ia pun kembali ke sungai Irrawady, tempat ia tinggal sebelum menjadi manusia. Di sanalah Awan Mendung bertemu dengan reinkarnasi ayahnya dan dibunuh dengan dipukul hingga mati. 


Setelah mati, wujud buaya itu justru berubah menjadi tumpukan rubi dan emas murni. Istri Awan Mendung yang sedih melihat hal itu pun membuatkan pagoda dari emas dan rubi itu di tepi sungai Irrawady. 


Sejak saat itu, pagoda itu bernama pagoda Awan Mendung yang terletak di tepi sungai Irrawady hingga kini.


Dongeng kedua dari Myanmar ini bikin saya merinding sih. Tapi Myanmar memang terkenal dengan banyak pagoda di dalam negaranya. 


Buat yang baru tahu seperti saya, Myanmar sangat terkenal dengan banyak pagoda yang dibangun untuk menjadi tempat ibadah. 


Tak disangka ya, dongengnya sangat berhubungan dengan sihir. Meski demikian, saya justru penasaran kenapa kesannya pagoda harus dibangun dengan gemerlap ya, seperti yang dibilang di dongengnya, pagoda Awan Mendung dibuat di tepi sungai Irrawady dengan emas dan batu rubi yang sangat indah. 


Yang bikin saya bingung, bukankah Myanmar bukan negara yang kaya ya? Tapi ternyata di Myanmar, pagoda atau kuil budha ini memang berlapiskan emas asli hingga 60 ton. Dan meskipun orang yang tergolong rakyat miskin sekalipun, mereka tetap memberikan persembahan uang derma untuk pagoda agar bisa tetap berkilau dengan emas asli. 


Di buku ini dikisahkan Pagoda Awan Mendung, yang dalam bahasa Myanmar bernama Pagoda Shwedagon. Pagoda ini memang berlapiskan emas asli. Bahkan luas pagodanya sangat besar hingga berhektar-hektar. 

Pagoda Shwedagon di Myanmar  berlapiskan emas (doc : detik travel)


Tradisi mempersembahkan emas kepada pagoda Shwedagon di Yangon Myanmar dimulai sejak abad ke-15 dan dicetuskan oleh Ratu Shin Sawbu dengan jumlah  emas yang sama dengan berat dia sendiri kira-kira 50 Kg. Tradisi itu dijaga sampai sekarang. 


Di pagoda ini  ada sebagian  orang yang menerima  jumlah  uang derma dari rakyat, penganut Buddhis dan peziarah. Setiap 5 tahun sekali  mereka menggunakan jumlah uang derma itu untuk membeli emas dan melapiskan ke pagoda.


Nah, balik lagi ke kisah dongeng Awan Mendung dan sepasang nelayan itu, saya rasa alasan kenapa tokoh utamanya adalah nelayan karena di Myanmar banyak orang yang bekerja menjadi nelayan sebagai mata pencaharian utama. Jadi, tak heran dongeng ini populer di sana. 


Dongeng-dongeng asal negara Myanmar ini dibuat dengan ilustrasi yang sangat cantik. Selain itu, setiap dongengnya pun disisipi dengan kata mutiara di akhir cerita yang membuat kisah ini menjadi makin menarik.


Kalau kamu gimana? Udah pernah dengar dongeng negara tetangga kita yaitu Myanmar? Siapa tahu kamu beruntung bisa berlibur ke Myanmar, kamu bisa mengecek kepopuleran dongeng tersebut ya! 


Nah, selamat membaca!

1 comment:

  1. Wak kedua dongeng yang menarik nih. Lagian jarang-jarang saya membaca dongeng, terlebih dongeng negara-negara tetangga. Halaman bukunya juga sedikit. Patut dibaca ini.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^