29 November 2021

[Resensi Buku] Secangkir Kopi Untuk Setiap Kisah - David Rohadi

 



Judul buku : Secangkir Kopi untuk Setiap Kisah

Pengarang : David Rohadi

Penerbit : Penerbit Koru

Terbit : Cetakan Pertama, September 2019

Tebal : 34 halaman

ISBN : 978-623-7351-12-2

Genre : fiksi/snack book

Rating : 4/5 ⭐

Harga sewa : Rp 605/14 hari

Sewa ebook di aplikasi Lontara


❤️❤️❤️



Sinopsis Buku : 


Naga dan Tristan adalah sepasang sahabat yang memiliki impian untuk membuka kedai kopi bersama. Impian mereka mulai terwujud ketika Pak Hari menawari mereka untuk mengelola kedai kopi miliknya. Sayangnya, waktu dan keadaan selalu bisa mengubah seseorang.


Kondisi keluarganya yang terlilit hutang di kempung halaman membuatnya berpikir bahwa impian dan idealisme adalah hal yang konyol.


Akhirnya, ikatan persahabatan pun menjadi taruhan.


❤️❤️❤️


Resensi Buku : 


Awalnya, saya penasaran dengan list buku penerbit Koru di aplikasi Lontara. Jadi, penerbit Koru ini menerbitkan dalam bentuk novel dan snack book. Kalau snack book ini isinya singkat aja, dibilang novela juga bukan. Soalnya halamannya cuma 15-35 an aja. 


Kalau di aplikasi Lontara kan modelnya sewa buku dan beli buku. Untuk sewa buku dalam bentuk novel harganya kisaran 4-8 rb an. 


Sedangkan sewa snack book ini karena saking tipisnya, jadi sewa ebook dihargai 500-550 rupiah saja. Murah, kan? 




Nah, snack book yang saya sewa bayarnya hanya Rp 605. Udah termasuk ppn 10%. Mayan murah juga ya. Hehe


Uhmm... Tapi isinya beneran bagus sih. Nggak asal jadi, beneran apa ya... diksinya bagus, cover menarik dan alurnya meski gampang ditebak tapi penyajiannya tetap bagus. Nggak asal selesai gitu. Tetep tastenya kayak novel, tapi ya singkat aja. 


Yaa... namanya juga snack book, ibarat cemilan pengganjal rasa lapar. Hehe


Snack book ini nggak bikin kenyang dengan ceritanya, tapi ya cukup memuaskan karena ide ceritanya unik. 


Well... Anggap saja snack book ini cemilan ringan, sebagai tempat baca buku yang bisa dihabiskan dalam waktu singkat. Ya, kan? 😉


❤️❤️❤️


Buku Secangkir Kopi untuk Setiap Kisah bercerita tentang persahabatan Naga dan Tristan. Mereka bersahabat saat kuliah hingga akhirnya membuka warung kopi, bahkan berkembang hingga menjadi kedai kopi yang populer.


Awalnya Naga didorong oleh motivasi dari Tristan akhirnya membuka warung kopi yang berjalan hingga setahun. Kemudian datang tawaran untuk mengelola kedai kopi pinggir kota yang diamanahkan pada mereka.


Berawal dari semangat tentang "minum kopi dekat dengan mengobrol", mereka membuka kedai dan mendengarkan keluh kesah pembelinya. 


Naga yang berasal dari jurusan Psikologi ternyata justru mendapatkan banyak cerita hidup orang yang singgah di kedai kopinya. Sstiap pembeli punya cerita tersendiri, begitu pula dengan cita rasa kopi yang berbeda satu sama lain. 


Kalau ada pembeli yang suka cappuccino, pelanggan yang lain bisa saja lebih suka  es kopi susu. Ya, selera setiap pembeli tidak bisa ditebak, tapi lebih sering menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi pelanggan tetap.


Naga dan Tristan terpaksa mengakhiri kedai kopi yang dirintis susah payah hingga 2 tahun. Ini karena Tristan menghilang tanpa jejak sembari membawa kabur uang pemilik kedai. 


Naga harus merelakan dirinya tak lagi memupuk impiannya menjalankan kedai kopi yang menjadi tempat orang singgah dan bercakap tentang serba-serbi kehidupan.


"Banyak pelanggan yang merasa nyaman mengobrol dan berbagi keluh kesah denganku. Sebenarnya aku nyaris tidak pernah punya solusi untuk mereka. Apalagi sampai bisa menggurui. Yang kulakukan hanya mendengar sambil mempelajari kisah mereka. Ternyata mencurahkan keluh kesah bisa meringankan ganjalan di hati." 


Namun, kasus hilangnya uang dari kedai yang dibawa kabur oleh Tristan membuat dunia Naga jungkir balik. 


Naga merasa ia terlalu naif hingga menganggap persahabatan mereka tak akan remuk hanya karena uang. 


"Tasia kehilangan orang yang dicintainya. Sedangkan aku kehilangan sahabat yang kuyakini sebagai orang yang memberiku keberanian untuk melangkah."


Lalu, bagaimana kedai kopi ini mengubah idealisme di mata Tristan, Tasia dan Naga? 

Baca saja snack book ini ya! 


❤️❤️❤️


Menurut Saya : 


Perihal tema buku ini yang berkisah tentang persahabatan dan impian membuatku teringat dengan sahabat saat kuliah yang kukira bisa langgeng selamanya. Tapi ternyata persahabatan itu pun bisa hilang juga. 😢


Kalau baca sekilas, kisah di novel ini mirip dengan Ben dan Jodi  di novel Filosofi Kopi tentang idealisme kedai kopi. Meskipun eksekusi alur cerita dan ide detailnya jauh berbeda ya. 


Ben dan Jodi bertengkar karena idealisme kopi murni yang disesuaikan dengan taste baristanya. Sedangkan Naga dan Tristan bertengkar karena idealisme kedai kopi membawa penyesalan hidup. 


Naga dan Tristan tidak melanjutkan kuliah, justru mengejar passion mereka sebagai barista. Tristan dropout, sedangkan Naga sudah di tahun terakhir. 


Saya rasa, novel ini sukses menyentil pembaca tentang kisah mahasiswa drop out yang harus memilih antara idealisme mengejar passion dan idealisme untuk mencari uang sebanyak-banyaknya. 


Ya, sekarang kalau dipikir berapa banyak mahasiswa yang hampir menyerah karena tidak sesuai passion mereka? Jurusan kuliah dengan jenjang karir tidak sama? 


Mahasiswa di tahun-tahun akhir seringkali dihadapkan dengan pilihan : lanjut skripsi atau cari kerja?


Saat cari kerja pun akhirnya dihadapkan pada kenyataan : uang yang dicari mati-matian tak sepadan dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan. 


Ya, balik lagi sih.... Kira-kira berapa banyak mahasiswa yang terbentur dengan idealisme mereka sendiri? Saat menghadapi kenyataan hidup ternyata tak sebaik yang diharapkan. Akhirnya mereka harus menyerah dengan keadaan. 


Inilah yang membuat penulis menyoroti tentang kasus mahasiswa drop out, dan dunia entrepreneur yang nggak sebagus yang dijanjikan para motivator yang jualan ludah alias jualan janji-janji bahwa hidup akan lebih baik jika mengejar passion. 


Sekarang, saya malah melihat passion dan impian seharusnya bisa membuat seseorang lebih logis saat mengejar hal itu. 🤔


Apakah passion itu bisa menghasilkan uang? Apakah passion layak dikejar?


Nyatanya banyak juga orang yang menyerah karena passion baru bisa menghasilkan uang saat sudah di tahun-tahun penempaan diri, misalnya tahun ke lima. 🤧


Jadi saya rasa, penulis sedang menggambarkan tentang dunia entrepreneur dengan segala suka dukanya. Termasuk soal kepercayaan pada orang lain yang bisa jadi justru dihancurkan oleh orang yang paling dipercaya. 


Well ya, saya merasa penulis menyentil tema persahabatan ini karena memang hal itu sering terjadi di dunia bisnis. Di mana orang dihadapkan dengan kenyataan yang menyakitkan tentang mahalnya kepercayaan.  


"Aku memaklumi pilihanmu untuk berhenti. Tapi kuharap kamu akan kembali. Kalau bukan sekarang, kuharap suatu saat nanti. Karena manusia pasti berubah."


Overall, snack book ini worth it buat dibaca. Meski singkat, namun pesannya mengena bagi pembaca seperti saya. 


Kejar impian boleh, asal realistis dan bisa mengukur sesuai kadar kemampuan diri. Plus, setiap orang bisa berubah seiring waktu, meskipun punya idealisme sekalipun. 


Kalau menurut kamu gimana? Penting nggak punya impian dalam hidup?


❤️❤️❤️


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^