Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

17 February 2014

[Resensi Buku] Dear John by Nicholas Sparks



Judul            : Dear John
Penulis         : Nicholas Sparks
Alih Bahasa : Barokah Ruziati
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama
Tahun          : 2010
Tebal            : 392 halaman
ISBN            : 978-979-22-5847-9
Rating          : 3/5

Sinopsis Buku :

"Dear John" demikian surat itu dimulai. Dan dari dua kata itu, ada hati yang patah dan dua anak manusia yang hidupnya berubah selamanya. John Tyree, pemuda pemberontak yang memilih menjadi tentara karena tidak punya tujuan hidup... sampai dia bertemu Savannah Lynn Curtis. Hubungan yang awalnya hanya percintaan musim panas berubah menjadi cinta abadi, membuat Savannah rela menunggu John menyelesaikan penugasannya yang berjanji akan pulang dan menikahinya. Tapi tak satu pun menyangka akan terjadi peristiwa 9/11 di New York yang mengubah dunia dan cinta mereka. Pada saat itu, sebagai tentara, John harus memilih antara cintanya pada kekasih atau negaranya. ketika akhirnya pulang ke kampung halaman, John harus menghadapi kenyataan pahit dan menyadari bahwa cinta ternyata bisa mengubah manusia dengan cara yang tak pernah bisa dia bayangkan sebelumnya.

Resensi Buku : 

Pertama kali melihat buku ini di bazar Gramedia dengan harga obral 20 rb, saya langsung tertarik untuk membelinya. Alasannya saya penasaran dengan karya Nicholas Sparks yang lain. Dulu pernah baca novel A Walk to Remember tapi udah lama banget sih, pas SMA. Nama Nicholas Sparks-lah yang membuat saya mau membeli buku ini, apalagi ternyata novel ini juga difilmkan. :D 

Btw, di novel ini, konflik yang disajikan sebenarnya ga banyak. Cara menulis Nicholas Sparks yang mampu mendetailkan kejadian membuat saya serasa ada di sana, berselancar di pantai, ke kota wilmington, sampai mengunjungi peternakan kuda keluarga Savannah. Apalagi jarang ada novel terjemahan menggunakan POV 1. Awalnya saya menikmati ceritanya, hingga akhirnya kisah di awal sampai akhirnya mudah ditebak. Bisa dibilang kejutan ceritanya kurang. Sisi romancenya memang ada antara Savannah dan John, gadis yang ia temui di sebuah pantai yang mengenalkannya pada cinta lagi. 

Sebelumnya John sudah pernah patah hati, akhirnya ia memilih untuk tidak memberikan perasaannya pada gadis manapun, sampai ia bertemu dengan Savannah saat libur cuti kerja. Saat itulah ia mulai jatuh cinta lagi. Ia bahkan mengenalkan Savannah pada ayahnya, menceritakan tentang gadis itu berulang-ulang. John merasa telah menemukan belahan jiwanya.

Namun, cuti telah berakhir dan John harus kembali ke Jerman bekerja di Angkatan Darat. Bagaimana pun hubungan jarak jauh dengan surat yang terus dikirimkan Savannah tanpa balasan itu dan telepon yang sangat jarang, membuat Savannah akhirnya memutuskan pilihan yang membuatnya dilema. Savannah mengatakan dalam suratnya ia akan menikah, alih-alih menunggu John selesai bertugas. 

Yang membuat saya bertahan untuk menyelesaikan novel ini justru karena konflik yang terjadi antara Dad dan John. Ayah John, seorang yang gemar mengoleksi koin antik untuk disimpan. Selama ini, ayah John selalu melakukan itu. Menyisihkan uang untuk memuaskan hobinya, bahkan bisa dibilang kehidupan mereka sederhana saja. Tidak memiliki hal-hal mewah yang bisa dibanggakan warga Amerika. Katanya, hobi mengumpulkan koin itulah yang membuatnya dekat dengan ayahnya dulu-- kakek John. 

Ayahnya terus menerus bercerita tentang koin yang ia miliki, dan segala hal tentang koin. Ia juga selalu melakukan rutinitas yang sama. Bangun tidur, menyiapkan sarapan, bekerja dan pulang. Ngobrol dengan John hanya sedikit. Kata-kata yang diucapkan ayahnya sangat jarang. John yang setiap harinya dijejali dengan cerita yang sama, akhirnya bosan. Bayangkan seumur hidupnya John selalu diceritakan tentang koin dan koin lagi. Akhirnya John memberontak dan ya, kehidupannya parah. Ayahnya tak pernah menegurnya karena kesalahannya. Selalu bersikap biasa saja. 

Baru John tahu bahwa ayahnya sakit, sindrom asperger, katanya penyakit ini membuat orang kesulitan untuk mengubah pola kebiasaan dalam hidupnya. Hidupnya selalu teratur, dan setiap perubahan sekecil apapun akan membuatnya tak nyaman. 

Inilah yang membuat John tahu kekurangan ayahnya selama ini yang membuatnya terasa kaku dalam menjalani hubungan sosial dengannya, selain itu ayahnya juga dua kali mengalami serangan jantung. Secara mendadak John diberi cuti untuk menjenguk sang ayah. Dari sana ia akhirnya menyuruh seorang tetangganya untuk menjaga ayahnya. Ternyata penyakit ayahnya semakin parah dan ia hanya bisa berbaring di tempat tidur, membuat John harus membawanya ke tempat perawatan. 

Saat di tempat perawatan itulah, 7 pekan kemudian ayahnya meninggal. John kembali ke kota kelahirannya, dan ia ingat tentang Savannah. Apakah akhirnya ia bertemu dengan perempuan itu lagi? 

Quote yang saya suka : 
"Ayahku selalu bilang bahwa saat kau memperjuangkan sesuatu, perhatikan orang-orang di sekelilingmu dan sadarilah bahwa setiap orang yang kaulihat sedang memperjuangkan sesuatu, dan bagi mereka, itu sama beratnya seperti apa yang kaujalani." (halaman 107)
"Bahwa cinta berarti kau mendahulukan kebahagiaan orang yang kaucintai daripada kebahagiaanmu sendiri, tak peduli betapa menyakitkan pilihan yang mungkin harus kauhadapi. " (halaman 385)
***

Dear John membuat saya ingat dengan A Walk to Remember. Ada kesamaan yang mirip antara kedua karya ini. Tokohnya yang pemberontak, salah satunya setia, ada yang sakit parah dan romance yang sendu. Mungkin inilah formula yang memang cocok untuk dituliskan olehnya. Sayangnya seperti yang saya bilang, konflik yang membuat pembaca merasakan sensasi "gregetan" itu kurang. Saya justru merasa emosi penulis lebih banyak tertuang di bagian ayah dan John. Ya, mungkin ini pengamatan saya saja. :P Kalo kamu, apa sudah pernah baca? ;)

6 comments:

  1. Aku udah nonton filmnya yg dibintangi Amanda Seyfried & Channing Tatum, tapi belum baca bukunya. Sebetulnya ngga gitu suka buku2 Nicholas Sparks soalnya sering ada tokoh protagonis yg mati sih... hehe. Tapi setelah baca review Ila, justru pingin baca karena tertarik sama kisah hubungan John & ayahnya! Di film, memang dsebutkan ayah John penderita sindroma Asperger, tapi sayang konflik detilnya kurang diperlihatkan.. jadinya sekedar drama romantis biasa deh. Oke lah nanti mau coba cari bukunya... ^.^

    ReplyDelete
  2. Aku udah nonton filmnya yg dibintangi Amanda Seyfried & Channing Tatum, tapi belum baca bukunya. Sebetulnya ngga gitu suka buku2 Nicholas Sparks soalnya sering ada tokoh protagonis yg mati sih... hehe. Tapi setelah baca review Ila, justru pingin baca karena tertarik sama kisah hubungan John & ayahnya! Di film, memang dsebutkan ayah John penderita sindroma Asperger, tapi sayang konflik detilnya kurang diperlihatkan.. jadinya sekedar drama romantis biasa deh. Oke lah nanti mau coba cari bukunya... ^.^

    ReplyDelete
  3. Belom baca, tapi sepertinya naksir... hmm, aku juga suka quotenya ituuhhh, ;)

    ReplyDelete
  4. "Bahwa cinta berarti kau mendahulukan kebahagiaan orang yang kaucintai daripada kebahagiaanmu sendiri, tak peduli betapa menyakitkan pilihan yang mungkin harus kauhadapi. " (halaman 385)

    ::: Ini cinta duniawi banget sih mbak. Maklum penulisnya kan orang sono. ::: Resensinya cukup menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau quote yg ini, kebanyakan di sinetron yg ada.

      #salut utk konsistensi Mbak Ila bikin resensi, udah banyakkkk buku yg di buat resensinya

      Delete
  5. Saya baru nonton filmnya semalem. Baper. :')

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^