Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

17 March 2014

[Resensi Buku] Coming Home by Sefryana Khairil



Judul Buku : Coming Home
Penulis        : Sefryana Khairil
Terbit          : Cetakan kedua, 2011
Penerbit      : Gagasmedia
Tebal            : 318 halaman
ISBN             : 979-780-464-x

Sinopsis :
Hidup sendiri ternyata lebih gampang diucapkan ketimbang dijalani.
Mencari orang untuk dicintai sepenuh hati jug tak kalah rumitnya.
Tapi, tak ada yang lebih sulit daripada jatuh cinta kepada orang yang pernah membuatmu bersumpah tak akan pernah mencintai siapa pun lagi.
Orang yang tak ingin lagi kau temui seumur hidup.
Orang yang dulu pernah menduakan cintamu.
Orang yang bersamamu pernah bersumpah di hadapan Tuhan akan saling mencintai selamanya.
Ya, dialah orang yang kumaksud.
Dia yang kusebut sebagai ‘mantan suamiku’.

Resensi Buku :

Pernikahan adalah sebuah perjanjian yang agung antara dua orang yang saling mencintai di hadapan Tuhan. Dua orang yang akan saling melengkapi satu sama lain. Begitu pula yang terjadi pada Amira dan Rayhan. Sebuah pernikahan yang didasari atas cinta ternyata tak cukup kokoh untuk membangun fondasi yang kuat. Pernikahan itu kandas justru saat Amira mengira semuanya baik-baik saja. Rayhan yang penyayang berubah menjadi seorang yang asing baginya. Ia sering menghilang, menghadiri rapat hingga malam hari dan bahkan meeting berhari-hari di luar kota.

Apa yang terjadi pada cinta yang tak dilandasi dengan komunikasi? Keduanya berpisah di tahun kelima karena orang ketiga, Elsa, perempuan yang cantik dan memesona ternyata mampu membuat Rayhan tunduk di bawah kuasanya. Rayhan yang tak menginginkan anak dalam hidupnya, harus menelan pil pahit. Pernikahan itu harus berakhir di meja hijau. Ketok palu membuyarkan dongeng putri yang menikah dengan pangeran dan selalu bahagia selamanya. Nyatanya, mereka harus berpisah dan menjadi asing kembali hanya karena orang ketiga.

Selepas bercerai, Amira menarik diri dari lingkungannya. Desas desus yang beredar membuat ia benci pada orang-orang sekitar. Mereka mengira ia diceraikan akibat mandul. Amira pun menghilang, kembali ke Jogja dan menjadi guru TK. Lima tahun kemudian, siapa sangka takdirnya membuatnya terpana. Rayhan hadir lagi dalam hidupnya, menemuinya tanpa sengaja saat mengantar anaknya- Kirana bersekolah di TK yang ia ajar. Sejak itu, Amira bimbang dengan perasaannya. Kilasan masa lalu yang indah terus menghantuinya. Haruskah ia memaafkan masa lalu? Dan menghadirkan lagi perasaan cinta yang pernah ada?

***

Buku ini novel karya Sefryana Khairil. Sebelumnya saya sudah membaca novel berjudul Tokyo, Coba Tunjuk Satu Bintang dan Dongeng Semusim. Hanya Dongeng Semusim yang memiliki genre yang sama dengan novel ini yaitu romance domestic drama. Seperti layaknya romance domestic drama yang lain, novel ini pun mengisahkan lika-liku pernikahan yang tak selalu bahagia. Suatu waktu, kita menyadari cinta tidak lagi menjadi sebuah dasar, tetapi bermetamorfosis menjadi beribu pilar agar rumah itu tetap berdiri.

Ada percikan rasa sendu yang menemui pembaca di novel ini. Apalagi begitu banyak quote yang ditampilkan yang mewakili perasaan kedua tokoh utamanya.

“Ndak ada yang lebih sederhana daripada memaafkan to? Kalau kamu sudah bercerai dengan Rayhan, kamu harus belajar memaafkan, Nduk. Kebencian yang ada di hati kita akan menghancurkan diri kita sendiri.” (halaman 89)

“Karena, menurutku, ketika seorang perempuan mengatakan, “Yes, I do”, dia tahu lelaki itu yang bisa membuatnya bahagia.” (halaman 216)

“Ketika seseorang tahu tempat di mana dirinya merasa bahagia, sesulit apa pun, asalkan bisa terus berada di tempat itu, pasti akan dilakukannya.” (halaman 304)

Amira dan Rayhan adalah simbol dari sebuah pernikahan yang gagal. Seperti halnya sebuah hubungan yang lain, pernikahan harus didasari dengan saling memahami, sayangnya Rayhan memilih untuk mencari pelarian saat masalah dalam rumah tangganya harus kandas. Ibarat rumah, bukannya memperbaiki atap yang bocor dan mencari mana saja yang retak, Rayhan justru membuat rumah yang ditinggalinya hancur seketika.

Covernya melambangkan perasaan kedua tokoh, ingin kembali pulang pada sebuah rumah bernama hati, tempatnya merasa nyaman menghadapi kehidupan. Tagline yang digunakan pun cukup menjadi alasan untuk Amira menjalin perasaan lagi. “Karena aku percaya, tak pernah ada kata yang salah untuk cinta.” 

Saya rasa, Sefryana memang sudah maestro untuk urusan membolakbalikkan perasaan pembaca. Emosi yang meluap saat membuka buku ini dari awal halaman hingga akhir akan membuat pembaca paham bahwa pernikahan butuh komitmen kuat baik di saat duka maupun suka.  Maka, selamat menikmati cita rasa cinta yang dibalut rindu oleh Sefryana Khairil. Empat bintang untuk kisah ini. Btw, segmen pembacanya 21+ ya. ;)

Aku menemukanmu
saat rintik hujan berhenti
mengubah rona semestamu
dalam isyarat sunyi

Dan aku menemukanmu
di sini

2 comments:

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^