Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

29 March 2014

[Resensi Buku] Menanti Cinta by Adam Aksara


“Cinta tak pernah membebani, ia meringankan yang memilikinya.”

Mencintai seseorang yang tak sempurna adalah sebuah pengorbanan yang besar. Butuh kelegaan hati untuk sama-sama menerima kekurangan diri. Claire dan Alex saling jatuh cinta, namun saling memendam perasaan cinta. Cinta dua orang yang sama-sama tak sempurna, hingga harus membuat mereka bertahan dengan pikiran masing-masing.

Claire seorang gadis biasa, bekerja sebagai pelayan di Mark’s Burger dekat kampus. Kadang ia bekerja bergantian shift saat ia harus masuk kuliah. Ibunya pelacur, ayahnya seorang yang sering melakukan tindakan kriminal. Claire yang tak tahan dengan keadaan rumah, akhirnya sering menunda kepulangannya dari kampus. Ia sering menyendiri di lorong dekat perpustakaan yang sepi, hingga pukul sepuluh malam. Sebab jam-jam itulah ayahnya baru pergi dari rumah.

Alex adalah dosen kimia Claire di kuliah keperawatan. Cacat di kakinya karena penyakit polio membuatnya harus terus bergantung dengan kursi rodanya. Ia yang sebenarnya dikenal sebagai seorang peneliti dengan seratus penemuan produk kimia itu sering melihat Claire sepulang dari rapat malam hari. Alex sering melihat Claire di lorong dekat perpustakaan lama, menyendiri sampai pukul sepuluh malam.

Cinta Alex pada Claire yang berawal dari rasa kasihan, membuat lelaki itu mau memberikan apa pun agar Claire hidup bahagia. Alex memiliki uang yang cukup untuk membuat ia mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Termasuk menyingkirkan orang-orang yang membuat hidup Claire menderita. Dengan uang ia juga membuka perpustakaan lama kampus untuk tempat Claire sehingga gadis itu bisa menunggu sambil membaca buku.

Hingga suatu saat, sebuah tawaran makan bersama dari Alex membuat mereka mengenal satu sama lain. Claire yang pendiam serasa memiliki teman berbagi, di kampus ia menjadi lebih semangat. Sayangnya, prahara dalam hidup Claire terus saat menghantuinya. Ibunya mencuri uang beasiswanya, menjualnya pada Markus- pemilik Mark’s Burger yang berniat memperkosanya. Juga berniat menjual Ayu, adik kecilnya. Rumah tak lagi aman dan begitu menyeramkan untuk Claire. Dapatkah Claire keluar dari masalahnya? Mampukah Alex membuat Claire menjadi pendamping hidupnya? Baca saja di buku ini. :)

***
Kisah di buku ini membuat saya mengenal tulisan Adam Aksara. Sebelum ini saya pernah melihat namanya di Goodreads Indonesia.  Meski awalnya saya mengira kalau kisah ini adalah nyata, tapi kata pengantar Adam Aksara di halaman awal membuat saya yakin bahwa memang buku ini based true story. Meski memang masih membingungkan juga mana yang bagian nyata, mana yang fiksi. Setting tempat yang disamarkan membuat saya tidak bisa menebak tempat yang digambarkan di buku ini. Ya, tak apalah, yang terpenting pembaca bisa melihat kisah dan hikmah yang dituliskan oleh penulisnya.

Ada beberapa bagian kisah yang saya suka misalnya saat di perpustakaan tempat Claire dan Alex berkenalan. Memang benar, kalau jarang ada perpustakaan yang buka sampai tengah malam. Enak kali ya kalau bisa sampai pukul sepuluh malam meski ada risikonya juga. Buku ini juga memberi gambaran tentang tindakan kriminalitas di kalangan ekonomi bawah yang merupakan kaum marjinal, mulai dari mabuk-mabukan, mencuri, pelacuran, hingga human trafficking. Jalan ceritanya mirip sinetron, di mana orang kaya jatuh cinta dengan orang biasa, lalu kemudian melakukan banyak hal agar yang ia cintai menjadi bahagia.

Kisah cinta Claire dan Alex seakan meramu kisah-kisah cinta tragis lainnya yang sebenarnya sering kita temukan. Kalau Ti Pat Kai bilang “Beginilah cinta, deritanya tiada akhir”, rasanya memang berlebihan. Tapi untuk dua orang seperti Claire dan Alex, cinta yang ada tak seharusnya saling membebani. Sebab, dalam cinta yang ada adalah sebuah kompromi, komunikasi, dan peduli yang merupakan sebuah jembatan bagi cinta untuk masuk lebih dalam hidup orang yang kita sayangi. Kompromi atas kekurangan diri, komunikasi tentang perasaan dan peduli pada impian pasangan.

Bayangkan bila kamu ada di posisi Claire dan Alex yang terlambat mengungkapkan perasaan masing-masing. Mungkin kisah itu akan membuat rasa yang ada hanya akan menjadi rasa yang terpendam, seperti judul buku ini, “Menanti Cinta”. Penantian yang berlangsung lama, seharusnya bisa memberi kita keyakinan bahwa solusi kegalauan hati ada di tangan masing-masing, kan? 
Quote yang saya suka :

“Saat kamu pernah dicintai begitu dalam oleh seseorang, kamu tidak akan pernah dapat melupakannya seumur hidupmu.” (halaman 204)
“Biarlah dicintai dan mencintai dengan sepenuh hati saat waktu masih mengizinkan. Menarilah dan nikmatilah saat senandung itu masih ada. Karena sungguh, suatu saat nanti, waktu itu akan hilang dan hanya akan tersisa kesepian dan penyesalan jika tersia-siakan.” (halaman 209)

Kekurangan buku ini, di halamannya yang lepas karena ternyata jilidnya kurang kuat, ini sudah dibahas oleh penerbitnya dengan menawarkan solusi untuk dikirimkan kembali dan ditukar dengan buku lainnya. POV yang sering berganti-ganti dari POV satu menjadi tiga, juga membuat saya bingung di awal novel karena karakter tokohnya pun kurang terbentuk dengan gambaran yang jelas. Setelah saya sampai di akhir cerita, saya kaget dengan adanya ending yang menjadi dua bagian. Padahal lebih menyenangkan jika endingnya satu saja sehingga pembaca tidak dibuat bingung dengan keinginan penulis. EYD yang masih berantakan membuat kenyamanan membaca menjadi berkurang. Misal : siapapun (siapa pun), special (spesial), mau pun (maupun), mengijinkan (mengizinkan), diantara (di antara), di bawa (dibawa), dll. 

Ya, untuk siapa pun yang sedang menanti cinta, buku ini bisa menjadi gambaran tentang kisah yang serupa. Overall, 3 bintang untuk buku ini. ;) 

Judul     : Menanti Cinta
Penulis  : Adam Aksara
Penerbit : Mozaik Indie Publisher
Terbit    : Februari 2014
Tebal     : 227 Halaman
ISBN : 978-602-14972-3-4
Harga : Rp 37.500,00 (Bisa dibeli di Mozaikindie.com)

1 comment:

  1. baru baca review novel ini di blog lain via hp jadi lupa meninggalkan jejak.
    kayanya bukan jenis romance yang kusuka, tapi malah penasaran kalau ada hal yang bikin geregetan.

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^