Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

12 March 2014

[Resensi Buku] Si Badung Jadi Pengawas by Enid Blyton


Judul Buku : Si Badung Jadi Pengawas
Penulis        : Enid Blyton
Terbit         : Cetakan ketujuh, Februari 2012
Penerbit     : Gramedia
Tebal          : 256 halaman
ISBN           : 978-979-22-8032-6
Rating         : 4/5

Resensi Buku : 

Kisah Elizabeth Allen di buku ketiga ini berkisah tentang ia yang ditunjuk sebagai pengawas kelas satu. Baginya, menjadi pengawas adalah sebuah kebanggaan. Demi menjaga kredibilitasnya, Elizabeth berusaha mencari jawaban atas masalah di kelasnya, sendirian!. Bayangkan saja, Arabella gadis manis yang sopan dan selalu berusaha menjaga penampilannya membuat Elizabeth muak dengan gayanya yang suka membual. Arabella juga membuat ulah dengan membuat sebuah pesta tengah malam, tanpa diketahui Elizzabeth. Elizabeth kebingungan untuk membuat Arabella berubah sikap dan menyesuaikan diri dengan iklim belajar di Whyteleafe

Ada juga seorang siswa baru bernama Julian. Arabella dan Julian membuat Elizabethh gusar karena kelakukan mereka. Julian suka membuat gaduh kelas dengan suaranya yang menirukan suara-suara aneh sehingga mengacaukan proses belajar. Dua kali pula, ia mengerjai Elizabeth sehingga dihukum keluar kelas yang membuatnya mendapat catatan “penting” selama menjabat sebagai pengawas.

Elizabeth juga bertengkar dengan Julian dan menuduhnya mencuri karena uang Arabella dan Rosemary sering hilang, juga permen yang dimilikinya. Karena itu Elizabeth memasang jebakan. Ia membuat uang koin 1 shillingnya ditandai dengan silang. Setelahnya ia taruh di laci meja. Selang beberapa waktu, koin dan permennya hilang juga. Permen itu ditemukan di saku jaket Julian dan jatuh saat Julian ingin mengambil sapu tangannya. Uang yang ditandai oleh Elizabeth juga dipakai oleh Julian saat bermain, Julian mengatakan uang itu ia dapat saat jatah pembagian uang di Rapat Besar Mingguan.

Karena merasa aneh, Elizabeth mengadukan Julian di Rapat Besar Mingguan yang diadakan di sekolahnya. Di sini, anak-anak bisa mengadukan apa pun yang menjadi masalah mereka. Di rapat ini juga, semua pengakuan dan penyelesaian masalah akan dituntaskan oleh anak-anak, hasilnya akan dicatat oleh William dan Rita di buku besar Whyteleafe. Di rapat inilah, Elizabeth mengalami masalah besar, ia dikeluarkan sebagai Pengawas karena dituduh memfitnah Julian. Dapatkah Elizabeth keluar dari masalah rumit ini? Bagaimana nasib anak lainnya yang bermasalah sepanjang semester?

***

Buku ini membuat saya takjub dengan idenya yang keren! Karena sebelumnya saya pernah baca kisah ke-4 seri buku ini, namun belum paham sejarah tentang rapat besar, di buku ke-3 hal ini dijelaskan lebih detail sehingga pembaca tahu apa urgensi rapat setiap minggunya. Selain sebagai sarana berorganisasi, rapat besar juga menjadi sarana menyelesaikan masalah. Anak-anak diajak berorganisasi, membuat peraturan sendiri, mematuhinya, dan memberi hukuman bagi yang melanggar. Anak-anak diajak untuk memecahkan masalah dan juga memilih wakil dari kelas mereka untuk menjadi pengawas.  Ada dua belas pengawas yang siap untuk menyelesaikan masalah setiap minggunya.

Di rapat ini juga, setiap prestasi anak-anak akan diumumkan, sehingga anak menjadi tertarik untuk berprestasi dan mendapat nilai bagus setiap minggunya. Anak yang prestasinya minus, seperti Julian juga akan dicari tahu penyebabnya, sehingga masalah prestasi akan segera bisa diatasi. Di rapat ini anak-anak juga jadi belajar bagaimana berbagi pada sesamanya. Anak-anak harus mengumpulkan uang yang mereka punya untuk dimasukkan semuanya ke kotak yang diedarkan, lalu selanjutnya setiap anak akan dibagikan uang, mereka akan mendapat uang saku selama seminggu sebesar dua shilling saja. Jadi, anak yang kaya seperti Arabella harus belajar untuk berbagi, juga anak yang miskin tetap mendapat jatah uang yang sama dengan temannya, sehingga kesenjangan sosial dapat diatasi. Keren kan idenya? Saya jadi berharap kalau di Indonesia ada sekolah seperti Whyteleafe.

Tokoh Julian mengingatkan sama pada Eri Susan dengan suara perutnya yang bisa menirukan suara apa pun tanpa menggerakkan mulutnya. Keren ya? :D

Saya suka bagaimana cara William membuat Julian berpikir dengan kalimatnya yang bijak :

“Memang menyenangkan untuk membuat seluruh kawanmu tertawa, memang menyenangkan untuk jadi pahlawan karena leluconmu tetapi akan lebih baik lagi bila itu kausertai dengan kerja keras agar kelak kau bisa jadi pahlawan pula di bidang ilmiah atau di bidang penemuan. Agaknya kau hanya memperhatikan dirimu sendiri, memperhatikan apa yang kau ingini saja. Suatu hari kau akan berpikiran lain. Tapi entahlah apa yang akan mengubah pendirianmu. Kurasa hanya sesuatu yang mengguncangkan batinmu saja yang bisa membuat kau berubah pendirian.” (halaman 181)

          Overall, saya suka buku ini, penuh intrik dan menegangkan hingga akhir cerita. Aroma persahabatan dan persaingan di sekolah asrama Whyteleafe sangat membuat saya berpikir ulang tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Anak-anak juga bisa belajar keberanian dari Elizabeth, kecerdasan dari Julian dan ketekunan dari John. Empat bintang untuk kisah keren ini.  :D  

5 comments:

  1. Replies
    1. Iya, direcover, Kak. Dulu ilustrasi covernya ga begini. Hehe :D

      Delete
  2. belum pernah baca buku si badung.. jd pgn baca jg :)

    ReplyDelete
  3. Ini buku kesayanganku waktu aku ABG dulu....
    Shasa pun sudah aku belikan serial si Badung ini
    Tapiiii aku suka cover yang lama... cover yang baru ini enggak banget deh :(

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^