7 Juni 2022

[Resensi Buku Anak] Semua Beres Kalau ada Emil : Diary Kenakalan Emil




Judul Buku : Semua Beres Kalau ada Emil
Pengarang : Astrid Lindgren
Penerbit : Gramedia
Alih Bahasa : Purnawati Olsson
Terbit : Cetakan kedua, Agustus 2005
Tebal : 168 halaman
ISBN : 979-22-0416-4
Genre : Novel Fiksi Anak Swedia
Rating : 3/5 


Review Buku : Semua Beres Kalau Ada Emil - Astrid Lindgren



Di Desa Lonneberga, di seluruh Smaland, Swedia, hiduplah seorang anak yang dikenal karena kenakalannya bernama Emil. Alma Svensson, ibu Emil mencatat semua kenakalan Emil di dalam buku tulis biru, dan menyembunyikannya di laci meja tulis. Setiap kali Emil melakukan kenakalan, ia mendapat hukuman dari ayahnya agar pergi ke pondok perabot untuk merenungi kesalahan yang dilakukannya. 

Di sana, alih-alih merenung, Emil justru memahat kayu menjadi patung. Terhitung ratusan patung telah dibuatnya, berarti sebanyak itu pula kenakalan yang dibuat Emil. Buku catatan biru yang ditulis ibu Emil pun sudah penuh dan berganti.


Buku catatan kenakalan Emil ditulis dengan tanggal dan kejadian apa yang dibuatnya. Misalnya : Sabtu, 12 Juni. Emil membeli barang-barang tak berguna di tepat lelang Backhorva, tetapi akhirnya sangat menguntungkan. Atau ketika hari Minggu, 13 Juni. Ketika Emil tiga kali berusaha mencabut geraham Lina dan ketika ia mengecat wajah si Kecil Ida.

Ada banyak kejadian yang terangkum dalam novel jenaka ini. Bisa dibilang novel ini bertokoh anak-anak, tapi tingkahnya kadang tak seperti anak-anak. Misalnya ketika Emil mendapat ide cerdas dengan membuka dan menutupkan pintu menuju desa lain ketika hari lelang tiba. Setiap kali ia membuka pintu untuk para petani agar kereta kudanya dapat keluar, ia mendapat uang.

“Itu artinya semua orang yang akan pergi ke Backhorva harus melewati pintu pagar Kattluth.”
Satu jam penuh Emil menjaga pintu pagar dan ia memperoleh uang sebanyak 5 kron dan 74 ore. (1 kron = 100 ore) (halm. 19)

Di lelang itu Emil sembarangan membeli barang, meskipun terlihat tidak berguna, ternyata semua barang yang dibelinya akhirnya berguna. Emil juga memiliki beberapa hewan karena kecerdasannya mengumpulkan uang, seperti ayam, lembu, babi, dan kuda. Setiap hewan diberi nama dan mendapat jatah makanan setiap hari. Emil sendiri yang merawatnya bersama Alfred, pembantunya.


Rumah astrid lindgren 
Doc : https://visitsweden.nl/bestemmingen/zuid-zweden/smaland/de-wereld-van-astrid-lindgren/



Lina, pembantunya yang konyol suatu hari merasakan sakit gigi. Giginya harus dicabut, tapi ia tak mau ke dokter karena biayanya besar. Ia memilih menerima tawaran bantuan dari Emil. Mulai dari menaruh benang di gigi lina, lalu Emil mengikat ujung lainnya di badan, Emil melaju dengan kudanya. Hingga taktik dengan menjatuhkan diri dari atap dengan gigi masih terikat benang yang disangkutkan pada paku di atap. Sungguh ide gila! Karena hanya Emil yang bisa menawarkan ide seaneh ini. Beruntung akhirnya Lina memilih pergi ke pandai besi untuk dicabut menggunakan tang.

Bagian yang paling membuat saya haru adalah saat Emil menembus badai salju demi menolong Alfred yang sakit parah dengan kereta saljunya untuk menemui dokter di Marriannelund. Alfred hanya bisa diam dan tergeletak di kereta salju. Sedang Emil menerabas badai sendirian, tanpa minta izin dulu pada keluarganya.

“Kau tidak boleh berbaring di situ dan mati begitu saja, Alfred! Oh, kau tidak boleh mati begitu saja!"

Tekad Emil menunjukkan ia tak seperti anak-anak pada umumnya. Ia bahkan berani mengorbankan hewan ternaknya bila dibutuhkan untuk membayar.

Model rumah pelosok desa di Swedia dekat dengan kebun



Awal saya membeli buku ini karena penasaran dan mengira bahwa buku fiksi dari Swedia ini masuk fiksi anak. Namun saya salah. Meski anak-anak menjadi tokoh utamanya, tapi masalah seperti “mabuk karena makan ampas buah ceri yang difermentasi”, juga “mencium ibu guru” jelas bukan kenakalan yang bisa ditolerir untuk anak-anak di Indonesia. Padahal usia Emil adalah usia awal masuk sekolah.

 Jadi, saya rasa buku ini lebih cocok masuk ke fiksi umum(pembaca usia dewasa). Sebab, beda budaya sebuah negara, beda pula penerimaan orang-orang. 3 bintang untuk novel ini.

Gambar cover buku dari bukalapak.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^