8 Juni 2022

[Resensi Buku] Mengarang itu Gampang by Arswendo Atmowiloto

 



Judul Buku : Mengarang Itu Gampang

Pengarang : Arswendo Atmowiloto

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Edisi revisi, cetakan kedua, Juni 2002 (pertama terbit Juli 1982)

Tebal : 118 halaman

ISBN : 9796862742 

Rating buku : 3/5 🌟


❤❤❤


[Sinopsis Buku] Mengarang itu Gampang by Arswendo Atmowiloto


Mengarang, bisa dilakukan anak-anak, remaja, orang tua, bahkan pensiunan. Seperti naik sepeda atau berenang, sekali menguasai bisa seterusnya. Tak akan lupa, atau menjadi tak bisa. 

Yang diperlukan hanyalah mengenal unsur-unsur dalam mengarang: ide atau ilham, cara menyusun, menggambarkan tokoh. Selebihnya latihan. Rasanya, asal bukan buta huruf total, semua orang bisa mengarang.

Mengarang juga soal menata jalan pikiran: dari ide yang jernih, dituliskan dangan fasih, akan menghasilkan karya yang bersih. Juga menjanjikan lapangan pekerjaan yang menggiurkan, karena honornya bisa mencukupi biaya hidup ditambah bonus jadi dikenal.

Dalam 310 tanya-jawab, Arswendo Atmowiloto menuliskan pengalamannya, mempraktekkan dalam "kursus". Kelangkaan buku praktis semacam ini menjadikan buku Mengarang Itu Gampang pantas dimiliki, dibaca, dan dicoba.

Mengarang, ternyata semudah membaca. Coba saja, sekarang juga. 


❤❤❤

[Resensi Buku] Mengarang itu Gampang by Arswendo Atmowiloto



Mengarang itu gampang, karena bisa dipelajari. Semua bisa mempelajari asal bisa baca dan tulis dan mempunyai minat terus-menerus yang tak mudah patah. Yang terakhir inilah yang dimaksud dengan bakat. 

Kenapa mengarang?

Ruang lingkupnya mendasar. Rasanya tak ada kegiatan selama ini yang bisa dipisahkan dari baca tulis. Tidak hanya untuk bisa mengarang dalam pengertian umum: cerita pendek, novel, drama, atau puisi melainkan juga bisa menjadi wartawan, korektor, penerbit, perancang teks iklan, penulis lirik lagu, atau menulis surat lebih baik. Semua bersumber pada karang- mengarang. Dan itu gampang. 



Dalam buku "Mengarang itu Gampang" Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa buku ini tidak ditujukan untuk melahirkan pengarang baru, melainkan untuk memberi alternatif bahwa mengarang itu pekerjaan yang mulia, dan lebih baik daripada sekadar berangan-angan tanpa menuliskan. 


Kalau kamu tahu kisah Abah, Emak, Ara, dan Euis dalam drama televisi atau sinetron di tahun 1990 an berjudul Keluarga Cemara, maka kamu akan terkejut karena penulis Arswendo Atmowiloto lah yang menuliskan skenarionya. Beliau adalah penulis buku dan juga penulis skenario. Selain itu ada ratusan judul novel yang ditulisnya, salah satunya berjudul Canting. 


Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa mengarang itu gampang, karena semua orang bisa melakukannya asal memiliki kemampuan baca dan tulis yang bagus. 


Selain itu, jika kamu sudah memiliki minat dan ambisi terus menerus, yang diperlukan adalah kemampuan menulis yang baik dan benar. Kamu hanya perlu latihan terus menerus, disiplin, juga minat dan ambisi yang tak kunjung habis. 


Kursus menulis atau mengarang hanya sebuah usaha untuk menciptakan iklim saja. Mungkin disebut juga sedikit petunjuk praktis. Kalau iklim menguntungkan dan membuat kesempatan, bakat dan minat lebih mungkin tersalurkan.


Inspirasi menulis diperoleh pengarang melalui banyak hal yang dijumpainya setiap hari. Ia mengolah imajinasi, realitas, dan kreativitasnya menuntun kisah yang diceritakan dalam buku menjadi sebuah kejadian yang lebih colorfull dan menarik. Misalnya : Agatha Christie yang mendapatkan ilham setiap kali berendam di bathup sambil mengupas apel.


Seorang pengarang roman sejarah, misalnya, bisa membuat sebuah kisah dalam novel dengan latar sejarah menjadi lebih bermakna karena imajinasi yang dituliskannya dalam buku tersebut. Namun, penulis roman sejarah berbeda dengan penulis buku sejarah ya. Karena yang pertama menggunakan imajinasi, sedangkan yang kedua menggunakan data dan fakta yang sesungguhnya sehingga lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. 


Setiap kisah yang dituliskan pengarang diciptakan dari ilham yang diperolehnya di kehidupan sehari-hari, dan digabungkan dengan imajinasi. Semakin kreatif seorang penulis, maka kisah tersebut akan semakin unik. Jadi, meski temanya sama, namun hasil penulisan tema itu tetap saja berbeda.

"Sastra selalu memberikan jawaban berupa pertanyaan, yang memancing rasa ingin tahu terus-menerus. Semua pengarang bercerita tentang penderitaan, cinta atau gunung. Tapi apa yang diceritakan setiap pengarang berbeda. Inilah yang dinamakan kreatif. Dan kreativitas adalah modal dasar yang tak boleh ditawar. Walaupun masalah yang diceritakan sama, namun tetap saja berbeda. Begitulah seharusnya pengarang yang baik. Dengan masalah yang sama, dengan penulisan memakai plot terbuka, hasilnya pada karangan yang lain bisa berbeda." (Hlm. 37)


Ada tiga jenis plot yaitu jenis plot ledakan dengan akhir cerita yang mengejutkan (contohnya cerpen-cerpen A. Chekov, O. Henry Trisnoyuwono berjudul Laki-laki dan Mesiu), lalu ada plot cerita lembut dengan akhir cerita bisikan (contohnya cerpen-cerpen Guy de Maupassant, Wilda Yatim, Umar Kayam berjudul Seribu Kunang-kunang di Manhattan), dan plot lembut meledak campuran antara lembut dan meledak (contohnya cerpen Gerson Poyk berjudul Krawang - Bekasi, dan cerpen karya Julius R Siyarnamual berjudul Bulan Mati). (Hlm. 30)


Menurut saya, Arswendo Atmowiloto menguraikan banyak hal tentang dunia kreatif mengarang dengan cara yang mudah dipahami. Ia membagikan analisanya tentang cerpen san novel melalui berbagai pertanyaan yang disajikan dalam bentuk tanya jawab. 


Well... Hanya saja, karena buku "Mengarang itu Mudah" ini cetakan lama tahun 1982, saya merasa agak kurang related dengan cerpen yang dibahas dalam buku ini. Meskipun para penulisnya melegenda, bisa saja cerpen tersebut sudah sulit untuk ditemukan di perpustakaan maupun search engine Google.


Dalam buku "Mengarang itu Mudah", Arswendo Atmowiloto mengatakan bahwa semua karangan memakai tokoh, yang bisa diwujudkan sebagai manusia, binatang, bahkan benda. Pengarang menggunakan tokoh untuk memandang, menguraikan persoalan dan menjemput penyelesaian. Tokoh merupakan kecamata dari mana pengarang memandang persoalan. (Hlm. 51)


Seorang pengarang harus bisa menciptakan sebuah karya yang autentik, namun pengarang juga bisa saling mempengaruhi, apalagi jika ada karya yang membuatnya sangat terkesan. 


Pengarang bisa saja terpengaruh gaya bahasa atau cara pengarang favoritnya saat ia menuliskan karya. Namun, bukan berarti boleh menjiblak karyanya ya. Karena pengarang harus punya aturan baku bahwa dirinya menulis berdasarkan rasa yang ingin diungkapkannya, bukan untuk membuat orang mengira hasil itu adalah tulisan orang lain. 


"Cobalah mengarang sekarang juga, jangan menunggu dua puluh tahun lagi. Jangan menunggu dua hari lagi. Sekarang juga. Tutup buku ini, mulai."

Tak banyak yang bisa saya sampaikan dari review buku ini, lebih baik baca sendiri ya biar bisa menilai buku ini bagus atau tidak. 


Kalau menurut saya, sebuah kisah akan bermakna karena jiwa seorang penulis ada di dalamnya. Maka pastikan bahwa tulisan itu menjadi cerminan sudut pandang penulis untuk menilai sebuah tema yang dikisahkan dalam cerpen atau novelnya. 


Rating 3/5 ⭐ dari saya untuk buku "Mengarang itu Mudah" karya Arswendo Atmowiloto. 


Nah, selamat membaca!  ❤



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^