Quote of The Day

“The power of dream makes everything possible to reach” (inspired by Honda Motto)

18 December 2014

Resensi Buku : Phyllis Anak Desa - Marjorie Weatherly


Judul : Phyllis Anak Desa
Pengarang : Marjorie Weatherly
Penerjemah : Kartika Sufyan
Penerbit : Medium
Terbit : Maret 2012
Tebal : 100 halm.
ISBN : 978-602-8144-06-3
Genre : Fiksi Anak/Australia


Di sebuah peternakan, Phyllis sering bermain bersama Kak Eva, anak peternak bernama Pak Connelly. Ayah Phyllis bekerja pada Pak Connelly sebagai pengasuh hewan terutama kuda dan domba. Gadis kecil yang periang itu begitu bahagia hidup bersama keluarganya. Kuda, sapi, kebun dan rerumputan menjadi lingkungan tempatnya belajar memahami kehidupan.

Tingkah Phyllis yang energik dan gemar bertanya sering membuat orang terdekatnya tergelak. Karena pertanyaan yang dilontarkan Phyllis sungguh aneh-aneh. Seperti ini misalnya : Apa itu metode? Apa itu olok-olok? Apa yang membuat orang-orang meninggal? Apa kak Eva akan mewarisi semua hewan ternak ini? Menurutmu, makanan apa yang paling disukai sapi?

Suatu hari ada seorang pengemis datang meminta air teh dan makanan. Namun bertambah lagi permintaannya. Lelaki tua kumal itu bertanya pada Phyllis apa ia punya sepatu boot yang sudah tidak terpakai? Phyllis yang lugu justru meminta lelaki itu menemui ayah kak Eva untuk minta sepatu boot.

Bu Ray, sang ibu terhenyak. Ia semakin sadar, Phyllis berbeda dengan anak lainnya. Rasa ingin tahu anak itu tinggi. Ditambah sikap dermawannya yang tidak pandang bulu. Bu Ray mengingatkan Phyllis tentang sikapnya dengan kata-kata, “Jangan mempermalukan keluargamu.” Padahal Phyllis tidak tahu apa arti mempermalukan. Alih-alih marah, Pak Connelly justru meminta Phyllis datang untuk makan malam bersama ia dan putrinya. Phyllis mendapatkan makan malam yang lezat.

“Mamaku bilang agar aku tidak bicara kecuali Pak Connelly mengajakku bicara lebih dulu. Anak kecil yang terlalu banyak bicara bisa menggangu.” (halm. 42)

Bu Ray juga mengajarinya banyak nilai kehidupan. Seperti ini misalnya :
“Nak, kalau kau mau memakannya dengan tangan, jangan mengelapkannya ke bajumu.” (halm. 58)
“Maaf, mama sayang. Aku tidak sengaja.”
“Ucapkan selamat tinggal, sayang.”
“Maukah kau membantuku? Takut tumpah.” (halm. 43)

Phyllis juga suka membuat cerita dongeng karangannya sendiri. Ia sering bergumam pelan sembari mengoceh panjang tentang anak domba, awan, maupun hewan-hewan. Sampai suatu hari ayah sakit. Apa yang akan dilakukan Phyllis ketika ayah sakit? Temukan jawabannya di buku ini. ;)

Cerita ini sangat menakjubkan untuk anak-anak maupun orangtua yang sedang mengasuh anak. Dari buku ini pembaca bisa belajar bijaksana tentang kehidupan semesta. Belajar mencintai pekerjaan, hubungan yang baik antara anak dan memetik hikmah dari kehidupan sederhana. Selain mengasyikkan juga memberi pelajaran hidup.

2 comments:

  1. jarang nih dakuw baca buku karya penulis aussie, jadi pengen baca..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mba Dedew. Aku juga baru pertama baca hehe. Suka sama tokoh anak kecilnya, criwis abis.
      Bagus bukunya, mba. Baca deh, :D

      Delete

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^