11 January 2022

[Resensi Buku] Tokyo dan Perayaan Kesedihan by Ruth Priscilia Angelina




Judul Buku : Tokyo dan Perayaan Kesedihan

Pengarang : Ruth Priscilia Angelina

Penerbit : Gramedia

Terbit : 2020

Tebal : 208 halaman

ISBN : 978-602-06-4084-6

Genre buku : novel

Rating : 5 ⭐

Harga buku : Rp 75.000


Baca ebook di aplikasi Gramedia Digital


🌼🌼🌼


[Sinopsis Buku] Tokyo dan Perayaan Kesedihan - Ruth Priscilia Angelina 

 

Joshua Sakaguchi Widjaja meneruskan perjalanan ke Tokyo untuk sejenak menjadi pecundang dalam hidupnya. 


Dia mengimpikan duduk-duduk santai bersama kopi di dekat taman dan menemukan gadis cantik untuk dijadikan teman menyenangkan. 


Tapi, di Tokyo yang menyambutnya dengan hangat, dia malah dipertemukan dengan Shira yang banyak bersedih dan meninggalkan banyak surat. 


Untuk pertama kali dalam hidupnya, alih-alih menjadi pecundang, Joshua malah sibuk menjawab banyak pertanyaan yang tak pernah dia pertanyakan.


❤️❤️❤️


Shira Hidajat Nagano melarikan diri ke Tokyo untuk menemukan penyelesaian paling terencana dalam hidupnya.


Dia membayangkan terjebak di lautan hutan bersama berbagai penyesalan untuk selama-lamanya ditenggelamkan. Namun, di Tokyo yang menggigilkan hatinya, dia justru bertemu Joshua yang semarak dan mampu memvalidasi keputusasaannya. 


Untuk kali terakhir dalam hidupnya, bukan mengerjakan penyelesaian, Shira dihentikan sejenak oleh jawaban-jawaban yang tak pernah dia kira akan didapatkannya.


❤️❤️❤️


[Review Buku] Tokyo dan Perayaan Kesedihan - Ruth Priscilia Angelina


Shira Hidajat Nagano ingin pergi jauh, kembali ke tempat ia dilahirkan, untuk kembali menemukan dirinya sendiri. Sebenarnya, ia ingin memutuskan untuk mati. Tapi, ia justru bertemu dengan Joshua yang menghangatkan hatinya.


"Jika kau masih hidup hari ini, jadilah hidup."




Novel dengan latar kota Tokyo ini mengisahkan tentang Shira yang jauh-jauh datang ke Jepang demi memenuhi impiannya untuk bebas dari kekangan orang tuanya. 


Selama ini, Shira selalu hidup dalam bayang-bayang orang tuanya yang menikah karena terpaksa. Ia dihinggapi label anak tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri karena saat itu ibunya hamil di luar nikah. 


Saat itu, ibu Shira berniat menggugurkan kandungannya, namun bayi itu tetap bertahan hingga tumbuh dewasa. Hingga lahirlah Shira, anak yang tak diinginkan ayahnya sendiri. 


Di masa dewasa, Shira merasakan kegetiran akibat sikap apatis ayahnya, juga sikap protektif ibunya. Bahkan ia tak tahu untuk apa ia bertahan hidup dengan berbagai macam masalah yang melanda dirinya.


Mamanya membentuk Shira sebagai anak perfeksionis yang harus sempurna dan bisa dibanggakan di hadapan ayahnya. 


Ayahnya tak pernah ada di rumah karena harus berlayar selama 4 bulan. Itu sebabnya, Shira kehilangan sosok ayah yang bisa dijadikan tempat bersandar. 


Di Jepang, Shira tak sengaja bertemu Joshua di bandara. Lelaki asing itu ingin membeli tolak angin milik Shira. Namun ditolak Shira, hingga akhirnya Joshua menawarinya tiket resithal musik yang dimainkan Joshua sdbagai bayarannya. 


Shira langsung mengiyakan ajakan itu, meski bertemu orang asing dan berinteraksi secara intens bukanlah sebuah ide yang bagus untuknya. 


Shira tak mau ada orang lain yang mengenalnya. Ia juga sudah memiliki rencana yang matang untuk bunuh diri di hutan Aokigahara yang terkenal sebagai hutan tempat orang-orang bunuh diri Jepang.  


Jadi, kehadiran Joshua sangat terasa asing dan membuat Shira mempertanyakan makna hidupnya kembali. 


Apalagi mereka berbagi kisah satu sama lain hingga akhirnya Shira meninggalkan Joshua dengan setumpuk surat untuk para sahabatnya. 


Lalu, apa yang akan dilakukan Joshua dengan surat-surat peninggalan Shira itu? 


Akankah Joshua sanggup menemukan jejak Shira dan menggagalkan rencana bunuh dirinya?


Baca saja selengkapnya kisah Shira dan Joshua di sini ya! 


❤️❤️❤️


Menurut saya : 


Novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan yang bertema depresi ini ternyata mampu membuat saya ikut-ikutan patah hati. 


Selama ini, Jepang dikenal dengan orang yag disiplin dan pekerja keras. Namun, bagaimana dengan kehidupan orang-orang di dalamnya? 


Masyarakat Jepang sangat individualis, cuek dan pekerja keras, terlihat dari cara mereka berinteraksi. Bukan hanya dirasakan oleh orang Jepang saja, namun orang asing juga merasakan hal yang sama. Keramahan orang Jepang lebih didasarkan pada sikap sopan karena urusan pekerjaan.


Bagaimana jika orang tuamu memiliki darah setengah Indonesia dan setengah Jepang? Apakah kamu akan bangga dan bahagia?


Dalam novel ini, penulis mengisahkan Shira yang merupakan anak blasteran Indonesia-Jepang. Dari awal digambarkan sikap Shira yang cuek dan semaunya sendiri. Ia tak ingin hidupnya dikekang karena selama ini hidup dalam aturan yang diberikan orang tuanya. 


Tak disangka, dalam hidup Shira yang complicated, ia justru bertemu Joshua yang menghangatkan hatinya. Mereka bertemu di Tokyo, bahkan berbagi kisah dan menjalani hari-hari liburan bersama. 


Awalnya saya kira nggak akan ada cerita bunuh dirinya. Kukira Shira hanya patah hati biasa saja, lalu akan sembuh dengan sendirinya. Tapi ternyata rasa kekecewaan Shira pada hidup jauh lebih dalam. 


Shira depresi dan sudah sampai di tahap tidak peduli dengan sekitarnya. Hanya saja, pertemuannya dengan Joshua yang menyaoabya membuat ia kembaki mempertanyakan apakah hidup layak untuk dijalani sekali lagi? 


Apakah hidup layak untuk diberi kesempatan lagi? Bagaimana jika rasa sedih dan sesal datang kembali, seperti yang dialami oleh Joshua? 


Berbagai pertanyaan datang silih berganti. Penulis mengisahkan kegelisahan Shira dan Joshua dalam bab-bab pendek yang didominasi dengan pertanyaan pada diri sendiri. Juga disertai ilustrasi kisah dalam bentuk foto hitam putih. 


Pembaca akan menemukan refleksi kehidupan Shira dan Joshua dalam dua bagian terpisah. Joshua dengan gaya bahasa formal menggunakan kata sapaan 'saya', sedangkan Shira dengan gaya bahasa santai ala anak gaul Jakarta yang lebih sering pakai  nama panggilan 'Lo Gue'.


Dengan latar kota Tokyo yang indah di musim dingin, penulis justru menyuguhkan kisah yang  sangat depressed. Dingin, tak ada harapan dan sarat dengan keputusasaan. 


Jujur, membaca kisah Shira rasanya seperti melihat wajah orang depresi di depan mata. Bayangan Shira yang sangat kalut dan putus asa itu ikut membayangi saya sebagai pembaca.




"Dari obaasan saya belajar bahwa hidup tidak melulu harus dimenangkan. Baju yang kau beli tidak melulu bisa pas badan. Restoran yang kau kunjungi bisa jadi menyajikan makanan tidak enak. Tempat yang kau datangi belum tentu seindah yang kau bayangkan. Perjalanan yang kau ambil bisa menjadi sebuah kenangan yang sangat buruk. Orang yang kau inginkan tinggal    besok bisa saja sudah menghilang." (Hlm 164)


"Menjadi kalah, salah dan kehilangan akan memberimu ruang untuk menyesal. Menyesal akan membuatmu sedih, tapi itu membuatmu mengingat masa-masa baik yang pernah kau dapatkan. Dari situ kau belajar menghargai hidup." (Hlm. 165)


Joshua yang kenal dengan Shira hanya sebatas orang asing yang saling berbagi kisah pun akhirnya memutuskan untuk mencari jejak Shira. 


Namun, Rio sahabatnya yang hampir bunuh diri memberi kisah yang tak kalah sedihnya. Rio bilang ia dulu hampir mati sebelum sebuah pesan dari Joshua memberinya sinyal untuk tetap hidup. 


Saat itu, Rio menemani Joshua di Jepang saat ia sedang jatuh cinta dengan seorang gadis. 


Pesan Joshua yang antusias di kotak chat Rio, mampu membangkitkan kenangan persahabatan mereka. Inilah yang membuat Rio urung bunuh diri.


Menurut saya, novel ini meskipun bertema depresi, tapi endingnya mampu membuat mata pembaca kembali terbuka; bahwa ada harapan dari setiap keputusasaan hidup. 


Hidup memang sulit, tapi bukan berarti harus menyerah. 


Ya... Seperti yang dikisahkan oleh Obaasan Joshua. Pohon-pohon yang ditanam akan memberi kekuatan pada manusia untuk hidup, melalui oksigen yang dikeluarkan.




"Dia orang pertama yang bilang bahwa saya orang baik. Padahal kami tidak saling mengenal. Tapi Shira membuat saya, untuk pertama kalinya, percaya bahwa saya orang yang baik. Pelukannya terasa familier. Sangat familier. Shira beraroma seperti adik yang ingin saya jaga, seperti kakak yang ingin saya hormati, seperti ibu yang ingin saya buat bangga, seperti teman yang ingin saya sayang." (Hlm. 184)


"Baiklah pada semua orang, sayangku. Seperti pohon-pohon ini, mereka tumbuh besar dan menolong orang sembuh dari sakit hati." (Hlm. 165)


Kurasa, setiap pohon memiliki energi baik yang secara tidak langsung memberikan kebaikan pada orang-orang yang menghirup udaranya. 


Pohon yang semakin tua semakin rindang memberikan kehidupan pada manusia di sekelilingnya. 


Pepohonan seperti kata Obaasan membantu manusia untuk sembuh. 


Waktu baca kisah ini, saya jadi mikir bahwa alam yang tenang memberikan kedamaian yang sulit manusia temukan di kota yang penuh polusi dan hiruk-pihuk kehidupan. Tapi, pohon-pohon memberi ketenangan hati yang dapat membantu manusia meneralisir kepedihan. 


Pohon bukan hanya sekadar tanaman, tapi cara Tuhan untuk menjaga alam dan manusianya. 


Itu sebabnya, waktu penulis membahas keterkaitan antara Shira dan pohon di taman, saya jadi berpikir manusia ternyata dijaga sepenuhnya oleh Tuhan. 


Ya.... entah lewat jalan apapun, misalnya lewat telepon, chat tak penting, pelukan dengan sahabat, udara yang masih bisa dihirup di bawah pohon yang rindang, bahkan pesan tanpa tujuan yang ditulis Shira pun mampu memanggil kebaikan orang lain untuk menolongnya. 


Anyway, saya jadi ingat kisah Hong Banjang (Kim SeonHo) di Hometown Chachacha yang bilang bahwa ia tidak jadi terjun ke sungai saat membaca text chat dari Halmeoni yang penuh typo tapi menghangatkan hati. 


Ya, kita bahkan nggak tahu mungkin pesan kita bisa menembus kekhawatiran. Lalu, melenyapkan kekhawatiran itu selapis demi selapis pada orang yang sedang merasa sunyi dan putus asa. 


Ada kebaikan dalam setiap silaturahim. Meskipun sekecil apapun itu. Itu sebabnya, dalam Islam silaturahim mengalirkan rezeki, salah satunya adalah rezeki kehidupan itu sendiri. 


Saya jadi ingat cerita di buku Outlier yang bilang bahwa orang-orang di suatu daerah yang senang bersilaturahim ternyata memiliki angka hidup yang lebih tinggi, itu karena keajaiban silaturahmi. 


Bayangkan, satu tepukan di bahu atau sapaan hangatmu di pagi hari mampu membuat setiap  orang yang kamu temui menjadi lebih bersemangat menjalani hidup. 


Mungkin kamu akan bilang ini keajaiban, tapi nyatanya Shira dan Rio menemukan hal itu dalam diri Joshua yang sangat riang dan hangat. 


Meskipun novel ini fiksi, tapi saya percaya bahwa setiap emosi yang dirasakan manusia layak untuk mendapatkan validasi dari diri sendiri maupun orang lain sekitar kita. 


Emosi seperti kesedihan, kemarahan, kecewa, patah hati, putus asa, dll akan lebih mudah menemukan solusi dan titik terang, jika kita sudah mampu berdamai dengan diri sendiri. 


Saya rasa pesan yang ditulis oleh penulisnya dalam novel ini akan menemukan pembaca yang tepat. Seperti saat Shira bilang, "hidup tetap berhak untuk dijalani."


Overall, 5 bintang untuk novel Tokyo dan Perayaan Kesedihan. Nah, selamat membaca!



❤️❤️❤️

No comments:

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^