24 September 2020

[Resensi Buku] Sutradara itu Menghapus Dialog Kita by Sapardi Djoko Damono

 

resensi buku puisi sapardi djoko damono

Judul Buku : Sutradara itu Menghapus Dialog Kita

Pengarang : Sapardi Djoko Damono

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan Pertama, Maret 2017

Tebal : 73 halaman

ISBN : 978-602-03-3954-2

Genre : Kumpulan Puisi (Sastra)

Rating : 4/5 bintang

Baca via Gramedia Digital

 

 

Blurb Buku Sutradara itu Menghapus Dialog Kita :

 

“Bang, saya ini mau dibawa ke mana?”

Sopir yang sejak tadi menyanyi kecil di jalan yang penuh motor itu tampak tersentak,”Lho, Ibu maunya ke mana?”

Si penumpang sama sekali tidak tersentak,”Ke mana sajalah, Bang.”

Sopir yang gemar baca komik itu segera sadar mereka telah dilukis oleh dua juru gambar yang berbeda.

 

Perempuan dan Sopir Taksi

Sapardi Djoko Damono

 

Resensi Buku Sutradara itu Menghapus Dialog Kita :


Puisi mengajarkan pembacanya bagaimana cara untuk melembutkan hati. Memaknai setiap diksi yang muncul dalam sebuah puisi membuat kita belajar jujur pada diri sendiri. Manusia sering lupa bahwa perjalanan di dunia sangatlah singkat. Ada pembuka kehidupan, ada beraneka kejadian yang mewarnai hidup, hingga kita menuju penutup yaitu perjalanan menuju akhirat.

Buku puisi Sutradara itu Menghapus Dialog Kita ini merupakan buku kumpulan puisi yang ditulis oleh pak Sapardi Djoko Damono. Tema utamanya berkisah seputar bagaimana hidup menghiasi hari-hari kita hingga kematian datang.

Ada 3 bagian dalam buku ini yaitu buku satu, buku dua, dan buku tiga. Buku satu berisi sebuah puisi berjudul “Pembuka Kata”, buku kedua berisi 39 puisi baik puisi pendek maupun puisi panjang, dan buku ketiga adalah penutup yang berisi satu puisi berjudul “Perjalanan ke Akhirat”

Memaknai puisi ternyata jauh lebih sulit bagi saya, karena saya sudah lama tak membaca puisi. Tapi puisi pak Sapardi lebih mudah dimaknai, lebih mudah dicerna. Karena diksinya bukan pakai diksi yang sulit, bahkan terkesan lebih gaul dibanding penulis puisi lainnya. Sesekali saya masih melihat puisi yang bernama sindiran, perenungan maupun puisi berisi keusilan yang tercipta dalam sebuah puisi.

Menurut saya, meski buku puisi ini masih menggunakan beberapa diksi yang sulit diinterpretasikan dengan begitu saja dan membuat pembaca menebak apa yang terjadi dengan tokoh dalam puisi itu, namun saya rasa puisi ini tetaplah menarik untuk dinikmati.

Ada beberapa puisi yang saya suka, antara lain puisi Pesan, Topeng Monyet, Grafitti, Rumah di Ujung Jalan, dan The Rest in Silence. Setiap puisi membawa makna tersendiri. Misalnya puisi berjudul Pesan.  Nah, berikut puisinya ya.

 

PESAN

Ada yang menulis sepucuk surat

Tapi aku tak berumah

Tak dipedulikan alamat

agar pesan tak salah arah

 

Ada lagi puisi Grafitti yang membuat tawa saya tergelak karena ocehan dua anak muda yang mencoret graffiti dengan tanda merah hati. Sang pemilik rumah yang baru selesai dibangun itu marah dan mengomel. Namun, dua anak muda itu justru saling berbisik dan berjanji akan menyelesaikan grafitti anak panah merah jambu tanda lambang cinta saat malam tiba.

 

Sapardi Djoko Damono - Penyair Indonesia


Ada lagi puisi berjudul ‘Topeng Monyet’ yang mengkritik sikap manusia yang lebih sering pakai topeng di hadapan manusia lain. Bahkan monyet pun menertawakan manusia. Ya, sungguh lucu, tapi ini kenyataan. Di dunia manusia ada berbagai topeng yang dikenakan hingga tidak sanggup jujur pada diri sendiri.

 

TOPENG MONYET 

Monyet itu tidak melepaskan topengnya. 

Berdiri, melompat-lompat, kadang-kadang membetulkan letak topengnya, di bawah gerimis di sela-sela kendaraan macet selepas gerbang tol.  

Ia bintang pertunjukan sore hari ketika orang-orang pulang kantor. Pengasuhnya, seorang laki-laki, berjongkok di belakangnya, menadahkan topi (tanpa mengucapkan sepatah kata pun tanpa memperhatikan apa pun) sejak siang mencegat kemacetan.

Ia tidak bertopeng.

Monyet kecil itu tampak bahagia tentu karena ia pakai topeng.

Ia tampaknya gemar melihat topeng-topeng yang capek dalam deretan mobil yang kena macet itu.

 (hlm. 13)

 

Ada juga puisi berjudul “Rumah di Ujung Jalan” yang mengisahkan tentang lelaki yang siap dijemput malaikat maut. Ternyata, ia tak jadi dijemput hari itu. Waktunya belum tiba, namun suara-suara tasbih menggema dalam rumahnya, menentramkan sang malaikat yang mampir lewat.

 

             

RUMAH DI UJUNG JALAN

 

Kemana saja kau selama ini?

Rasanya tak pernah kukenal

Yang membukakan pintu itu –

seorang lelaki tua

bertelekan tongkat

menyambutku. Aku yakin ini alamat

rumah yang kucari-cari selama ini.

Masuklah, aku sudah siap pergi

Kau tinggallah di sini . Tak terdengar apa-apa

Kecuali suara tasbih

Yang teratur, bersahut-sahutan

Dengan loncatan jarum jam

Tutup pintu baik-baik, duduklah tenang

aku pasti datang menjemputmu

suatu saat nanti. Kututup pintu –

tak pernah kubayangkan

ada rumah setentram ini.

(hlm. 18)

 

Ada puisi yang bikin hati saya miris. Puisi ini puisi terpanjang yang pernah saya baca dari karya pak Sapardi Djoko Damono. Puisi ‘The Rest in Silence’ ini berkisah tentang arwah perempuan yang mempertanyakan perihal dalam hidupnya. Sejak ia berniat bunuh diri, bahkan saat seorang lekaki mencari jasadnya di pemakaman. Saya tertegun dengan kata-kata di larik terakhir puisi itu. Kalimat yang mengisyaratkan kematian perempuan itu masih menyisakan tanya.

 

/8/

Aku mencintai perempuan muda

yang mungkin bunuh diri itu-

lebih dari segala rasa

yang dimiliki manusia!

 

/11/

Apakah benar itu umpatan

Ketika terdengar ucapan

Wahai Perempuan,

Kaulah kaum ringkih itu.

 

/12.

Selebihnya, senyap-sunyi semata.

            (hlm. 60)

 

Overall, 4/5 bintang untuk buku puisi Sutradara itu Menghapus Dialog Kita karya Sapardi Djoko Damono. Nah, kalau kamu apa sudah pernah membaca buku puisi ataupun novel karya sastra beliau lainnya? Share dong di kolom komentar. Selamat membaca ya!


Pic by https://www.satulingkar.com/post/2017/03/23/77-tahun-sapardi-djoko-damono

No comments:

Post a comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^