16 September 2020

[Resensi Buku] Diary La Sorbonne - Kualakata : Suka Duka Mengejar Beasiswa Kuliah di Sorbonne Prancis

 

Buku Diary La Sorbonne  - Suka Duka Mengejar Beasiswa Kuliah di Prancis

Judul Buku : Diary La Sorbonne

Penulis : Kualakata

Illustrasi : Annisa Fanya

Penerbit : Bhuana Sastra (Imprint Penerbit BIP)

Terbit :  Cetakan Pertama, 2018

Tebal Buku : 207 halaman

ISBN : 978-602-455-274-9

Genre Buku : Kumpulan Kisah Inspiratif (True Story)

Harga : Rp 85.000

Rating : 4/5 bintang

Bisa dibaca via Gramedia Digital

 

 

Blurb Buku Diary La Sorbonne :

La Sorbonne, begitu mendengar namanya terpatri sebuah universitas tua di Eropa, tempat orang-orang penoreh sejarah mengenyam pendidikan. Lalu, bagaimana jika seorang gadis biasa merasakan kuliah di salah satu universitas bergengsi di dunia? Bermodal buku kecil dan pena, dia menulis buku harian yang menceritakan secara detail kehidupan perkuliahannya di Sorbonne, dan juga yang tak kalah serunya, kehidupan barunya di kota paling romantic : Paris!

 

Resensi Buku Diary La Sorbonne :

Pernahkah kamu ingin berkuliah di luar negeri, terutama di Universitas ternama di Prancis? Jika iya, kamu pasti sudah mempersiapkan dengan baik segala persiapan yang diperlukan. Apa saja persiapannya? Misalnya : kamu sudah menentukan kuliah di Universitas mana, jurusan apa, apa saja syarat masuk Universitas luar negeri favoritmu, selain itu, berapa biaya kuliah jika membayar sendiri, atau biaya lainnya jika kamu mempersiapkan beasiswa luar negeri yang kamu incar saat ini.

 

Nah, kuliah keluar negeri tidak semudah kelihatannya, tapi juga bukan berarti tidak ada jalan ya. Sebaiknya jika kamu ingin mendapatkan beasiswa kuliah S2, cari tahu berbagai informasi dan tips kuliah di luar negeri yang dibutuhkan. Jika sudah tahu akan kuliah di mana, kamu jadi mudah untuk menyelesaikan segala administrasi dan persiapan kuliah keluar negeri.

 

“It doesn’t matter where you come form. All that matters are where you’re going.”

 

Buku berjudul Diary La Sorbonne ini berkisah tentang suka duka penulis saat berkuliah di jurusan Sastra Prancis Universite Paris-Sorbonne IV, sebuah universitas tua di Prancis. Penulis buku ini yaitu Kualakata, ia mendapatkan beasiswa LPDP yang memberikan beasiswa untuk mahasiswa master di Universite Paris-Sorbonne IV.  Sebelumnya ia telah menyelesaikan kuliah S1 jurusan Bahasa dan Sastra Prancis, Universitas Brawijaya.


Baca juga : [Resensi Buku] Kuliah Gratis ke Luar Negeri dengan Beasiswa, Mau? - Dina Mardiana

 

Awal Mula Cita-cita Pengin Kuliah di Sorbonne, Prancis

 

“Semua berawal dari kata ‘jika’. Jika diterima di Sorbonne, aku akan menulis semua aktivitas selama kuliah di sana, kemudian membagikannya kepada semua orang. I want to share the story how little girl come from nowhere reach the impossible dream she could imagine and live her moment. I need to tell everyone that, ‘Hey, the word ‘nothing is impossible’ it is so true!” (hlm. 1)

 

Cita-cita ingin berkuliah di luar negeri terutama Sorbonne sudah ada sejak dulu. Kualakata, penulis buku ini sudah membayangkannya sejak kecil karena keterikatan hati dengan sastra dan arsitektur Eropa. Selain itu, ia terbiasa membaca novel luar negeri, sehingga memudahkannya untuk belajar bahasa asing.

 

Saat di S1, ia bertemu dengan dosen yaitu Monsieur Agoes Soeswanto. Beliau memantik semangat Kualakata untuk mengejar beasiswa keluar negeri dan bekerja di kedutaan Prancis. Itulah prospek kuliah di jurusan sastra Prancis yang ditekuninya saat itu.

 

“Syarat utamanya adalah lulus S1 terlebih dahulu karena untuk mendaftar memerlukan ijazah, serta transkrip nilai. Kedua, aku harus mempertahankan nilai, bahkan meningkatkannya. Dari situ aku memiliki keinginan untuk kuliah di Prancis.” (hlm. 9)

 

Pengalaman Suka Duka Mengejar Beasiswa Kuliah di University La Sorbonne, Prancis

 

Untuk mewujudkan impian kuliah di Paris, saat semester 4, Kualakata melamar menjadi tenaga magang di Institute Francais d’Indonesie di Surabaya. Selain itu, saat semester 6, Kualakata ingin ikut tes DELF. Ia pun mendapat les gratis dari professor Institute Francais d’Indonesie yang bekerjasama dengan jurusan kuliahnya. Ia juga menghubungi Campus France Surabaya untuk cari info tentang proses pendaftaran kuliah di Prancis.

 

Setelah beberapa kali mengirim aplikasi beasiswa, ternyata Kualakata diterima di beasiswa LPDP. Selain itu, ia juga sudah mendapat kejelasan untuk kuliah di Universite Paris-Sorbonne IV. Selain itu, ia harus mempersiapkan dokumen untuk formulir OFII yang sudah dicap kedutaan Prancis, VISA, Paspor, dll.

 

Nah, saat Kualakata mendaftar ulang di Universitas tempat ia kuliah nanti, ia harus mengirim proposal penelitian agar bisa dimasukkan sebagai mahasiswa. Proposal penelitian ini harus menarik agar bisa diterima. Setelah itu, calon mahasiswa baru bisa mendapat kartu mahasiswa. Kartu mahasiswa ini bisa dipakai untuk mengakses berbagai fasilitas kampus tersebut.


Baca juga : Resensi Buku Beasiswa Erasmus Mundus The Stories Behind

 

Selain itu, mahasiswa juga harus membuat akun bank Prancis agar bisa mengurus berbagai administrasi, Selain itu, ada juga kartu yang harus diurus lagi yaitu kartu transportasi yang untuk umum dan khusus mahasiswa. Untuk mahasiswa, kartu transportasinya bernama Imagine-R.

 

“Ada seorang teman yang memberi tahu daripada membeli Carnet karena boros, lebih baik langganan kartu yang per minggu atau per bulan. Ini mengingat aku akan sering menggunakan transportasi umum. Transportasi umum di Paris sangat nyaman sehingga orang-orang lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada mobil pribadi. Hampir setiap tempat di sudut kota dapat dijangkau oleh transportasi umum. Waktu kedatangannya juga tepat.” (hlm. 55)

 

Buku Diary La Sorbonne berkisah tentang perjuangan Kualakata mendapatkan beasiswa impiannya, selain itu juga suka duka dia berkuliah di Prancis. Selama ini kita tahu bahwa Sorbonne adalah kampus ternama yang menghasilkan penyair terkenal Prancis. Di sinilah perjuangannya dimulai. Kuliah di sastra Prancis itu tidak semudah kelihatannya, karena jika bukan bahasa ibu sendiri, bahasa Prancis sangat sulit bagi pendatang.

 

Sejarah University La Sorbonne, Universitas Tua di Prancis yang Berdiri Sejak Abad ke-13!

 

University La Sorbonne sudah dikenal sebagai salah satu tempat intelegensi bernaung. Kampus ini didirikan pada abad ke-13, tepatnya 1253. Tua sekali ya? Hehe. Kampus La Sorbonne memiliki moto, “vivere socialliter et collegaliter et moraliter et scholariter.” Artinya “Hanya memprioritaskan ketajaman intelektual dengan mengesampingkan latar belakang, asal serta harta kekayaan.” Kampus ini pun mendapat dana bantuan dari kerajaan Prancis saat itu.  Hingga saat ini La Sorbonne masih menjadi simbol semua universitas dan akademisi Prancis. (hlm. 77)

 

Sistem kuliah di La Sorbonne ada dua yaitu : TD (Trvaux Dirige) sebuah kelas kecil yang terdiri dari maksimal 20 siswa, dan CM (Cour Magistraux) sebuah kelas besar yang terdiri dari ratusan siswa. Biasanya ada di auditorium atau amphiteathre.

 

Baca juga : [Resensi Buku] Buku Latihan Soal Mantappu Jiwa by Jerome Polin Sijabat


Kelas yang diikutinya sebagian besar dalam bentuk kelas CM. Kelas ini membuat penulis kesulitan mengikuti ritme dosen karena super express. Ia sering menyiasatinya dengan membuat rekaman kuliah, meminjam catatan teman yang mencatat dengan laptop, maupun bertanya pada teman yang lebih paham materi kuliah.

 

“Kalau di kelas kecil, kita akan bertemu dengan orang-orang tertentu setiap harinya. Di kelas ini juga banyak kerja kelompok sehingga bisa kenal banyak teman. Sementara di kelas besar, tugasnya individual dan biasanya membuat mini research.” (hlm.82)

 

Selain itu, ia harus mengejar ketinggalan belajar bahasa Prancis. Termasuk belajar memahami pemikiran nyentrik para filsuf dan sastrawan di Prancis. Which is super hard.

 

“Saat aku masih belajar bahasa mereka, orang Prancis sudah beredar jauh menelisik karya-karya sastra. Aku mengakui bahwa kemampuanku masih buruk dalam memahami sastra Prancis. Selanjutnya usaha lebih giat lagi. Langkah paling mudah adalah menuliskannya, salah satunya di buku harian. Manjur? It depends, but it does work for self reflect.” (hlm. 133)

 
Inilah 10 Kultur Orang Prancis yang Wajib Kamu Ketahui Sebelum Berinteraksi Dengan Mereka

 

Kultur masyarakat di suatu negara sangat berbeda satu sama lain. Nah, di buku ini juga dibahas tentang 10 kultur orang Prancis yang dapat kita pahami lebih dulu sebelum berinteraksi dengan mereka antara lain : mereka sangat suka membaca, belajar di perpustakaan, polite, memiliki gesture khusus, cowok prancis juga sangat fashionable, kebiasaan makan dengan teratur sesuai jam makan, selain itu mereka gemar berolahraga seperti lari, basket, futsal, dll. 


Selain itu, orang Prancis juga mandiri karena mereka tidak membiasakan diri memiliki ART. Semuanya dikerjakan sendiri. Selain itu, baik cewek maupun cowoknya sangat fashionable, selain itu juga berani untuk menegur atau menunjukkan pendapatnya di tempat umum.

 

Baca juga : [Resensi Buku] Jurus Kuliah Ke Luar Negeri


Oh iya, orang Prancis juga suka belajar. Baik pria ataupun wanita, tua ataupun muda senang belajar. Kultur Prancis ini memungkinkan orang tua untuk bisa belajar seperti anak muda, bahkan mereka bisa masuk ke kampus dan belajar bersama di kelas. Padahal bisa saja usia mahasiswa itu adalah 70 tahun. Sudah sangat sepuh, kan? Kalau di sini masih sedikit ya yang semangat belajar di usia yang sudah tidak muda lagi.

 

“Kebanyakan orang yang aku jumpai di kafe biasanya tenggelam dalam buku ditemani secangkir cokelat panas, kopi, dan sepotong kue, atau sibuk mengeluarkan imajinasi ke dalam laptop. Jadi, dengan hadirnya musik akan mengganggu konsentrasi mereka, serta menginterupsi obrolan seru. “ (hlm. 167)

 

“I’am falling in love with library or French call it Bibliotheque. Perpustakaan di sini bikin semangat belajar, mulai dari dekorasinya, pelayanannya, sampai kemudahan untuk mendapat buku. Saking senangnya belajar di perpustakaan, aku sampai jadi anggota tetap di empat perpustakaan berbeda.” (hlm. 167)

 

Tapi ada juga kebiasaan orang Prancis yang sangat mengganggu seperti Bavarde alias cerewet, Raleur alias suka ngeluh, perokok berat, dan ada model pakaian yang tidak bisa ditonton oleh anak-anak (if you know what I mean ya), selain itu juga introvert. Orang Prancis sangat susah didekati oleh orang asing. Mereka sangat individualis. Jadi buat yang mau cari teman, pilih-pilih terlebih dahulu ya, apakah mereka bisa didekati atau tidak. :D

 

Menjelajahi Tempat Wisata Favorit dan Mencicipi Kuliner Lezat di Paris, Why Not?

 

Selain berkisah tentang suka duka kuliah, Kualakata juga cerita tentang pengalamannya menjelajahi keindahan Paris. Kamu pun bisa ikut menikmati keindahan tempat wisata di Prancis dalam buku ini karena penulis sudah menjelaskan dengan detail dan juga memberikan foto yang relevan.

 

“Berfoto di atas jembatan kanal sangat recommended untuk menangkap pemandangan dari atas. Di sekitar kanal banyak restoran dan toko-toko lucu, seperti Lili et Antoine. Waktu yang tepat untuk mengunjungi kanal adalah saat cuaca cerah. Sangat disarankan untuk datang saat musim semi atau musim panas.” (hlm. 179)

 

Well ya… buat kamu yang pengin tahu sejarah, budaya, culture social masyarakat, dan cara kuliah di Universite La Sorbonne Prancis, kamu bisa baca buku ini ya. Menurut saya buku Diary La Sorbonne ini beneran udah lengkap banget. Saya jarang nemu informasi yang ditulis penulis di buku lain yang sejenis, bahkan dilengkapi dengan quotes, foto tempat wisata dan kampus, list syarat beasiswa dan dokumen secara lengkap, juga ada illustrasi gambar yang sangat cantik. Jadi, buat yang penasaran gimana kisah selengkapnya baca aja ya. ;)


Overall, 4 bintang untuk buku Diary La Sorbonne karya Kualakata. Kalau kamu, apa sudah pernah baca buku ini? Atau punya keinginan buat kuliah di luar negeri juga? Share dong di kolom komentar ya. See you next post! ;)

1 comment:

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^