19 September 2020

[Book Review] Tuesdays with Morrie by Mitch Albom

 

resensi buku Tuesdays With Morrie - Mitch Albom

Judul Buku : Selasa Bersama Morrie – Tuesdays with Morrie

Penulis : Mitch Albom

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : Cetakan kesebelas, Agustus 2019

Tebal : 209 halaman

ISBN : 978-602-03-3457-8

Genre : Self Improvement (True Story)

Harga : Rp 55.000

Rating : 4/5 bintang

Baca via Gramedia Digital

 

Resensi Buku Tuesdays with Morrie - Mitch Albom :

Sakit parah membuat seseorang bisa kehilangan semangat hidupnya, namun tidak bagi Morrie. Profesor Sosiologi bertubuh pendek itu tetap menampakkan semangat dan keceriaannya pada lingkungan dan keluarganya. Ia berjuang untuk terus hidup dan bermakna.

 

“Sesungguhnya, ia senang karena penjenguknya banyak. Ia membuat kelompok-kelompok diskusi tentang kematian, apa makna sesungguhnya, mengapa orang selalu takut menghadapinya tanpa merasa perlu memahaminya. Ia berkata kepada teman-temannya, bahwa apabila mereka sungguh ingin menolongnya, simpati saja belum cukup. Yang lebih baik adalah bila mereka mengunjunginya, bertelepon dengannya, berbagi masalah yang mereka hadapi – seperti yang selalu mereka lakukan sebelumnya, karena Morrie tetap seorang pendengar yang baik.” (hlm. 12)

 

Morrie terpaksa berhenti bekerja karena penyakit ALS telah membuatnya kesulitan berjalan. Kakinya lumpuh sehingga ia harus duduk dan berdiri dengan penyangga. Waktu berlalu, penyakit itu mengambil sebagian kekuatannya. Ia tak bisa lagi melakukan aktivitas sendiri, karena itu ia dibantu oleh pengurusnya.

 

“Aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tapi setelah itu, aku memusatkan perhatianku kepada segala hal yang masih baik dalam hidupku. Kepada orang-orang yang datang menjengukku. Kepada kisah-kisah yang akan kudengar. Kepadamu – setiap Selasa. Karena kita manusia Selasa.” (hlm. 61)

 

“Mitch, aku tidak membiarkan diriku hanyut dalam rasa kasihan berlebihan kepada diriku sendiri. Setiap pagi kubiarkan diriku menangis sedikit, tapi hanya itu.” (hlm. 61)

 

Morrie paham bahwa hidupnya takkan lama lagi karena penyakit ALS yang menggerogoti system syaraf tubuhnya. Namun, ia bertekad bahwa sisa hidupnya akan digunakan untuk memaknai hidup dengan banyak kebaikan. Ia ingin membuktikan bahwa sakit tidak sama dengan tidak berguna. (hlm. 12)

               

“Apakah aku akan menyerah dan mati begitu saja, atau akan memanfaatkan sisa waktuku sebaik-baiknya? (hlm. 11)

 

Untuk itulah ia membuat proyek Selasa bersama Morrie, sebuah kuliah diskusi tentang makna kehidupan yang ia lakukan bersama Mitch Albom, mahasiswanya yang dulu telah lulus dari kampusnya.

 

“Belajarlah dari lambat dan perlahannya proses kematianku. Perhatikan apapun yang terjadi padaku. Belajarlah bersamaku.” (hlm. 11)

 

Mitch Albom : Mahasiswa Cemerlang yang Mencintai Kehidupan

Saat musim semi tahun 1979, Mitch Albom lulus wisuda di kampusnya. Ia memberi hadiah untuk profesornya, Morrie, dan mereka berjanji untuk saling kontak satu sama lain meskipun Mitch sudah lulus. Namun, hidup Mitch tak semudah yang dibayangkan olehnya.

Sebelum bertemu Morrie lagi, Mitch telah mengalami banyak hal yang sulit. Ia kehilangan kesempatan untuk menjadi pemusik, mengurus pamannya yang sakit kanker, dan kemudian memutuskan untuk berubah haluan hidup.


Baca juga : Resensi The Five People You Meet in Heaven by Mitch Albom

 

Mitch memilih untuk melanjutkan pendidikannya dengan mengambil jurusan jurnalis. Kemudian ia bekerja sebagai jurnalis yang menulis untuk 5 majalah di Inggris, dan meliput untuk saluran televisi yang menayangkan olahraga.Hidup bagi Mitch adalah kerja, kerja, dan kerja. Kerja kerasnya telah menghasilkan banyak uang dalam hidupnya. Namun ia lupa ajaran Morrie saat kuliah dulu. Tentang ‘bersikap manusiawi’ dan ‘peduli kepada orang lain’.

 

“Begitu banyak orang menjalani hidup mereka tanpa makna sama sekali. Mereka seperti separuh terlelap, bahkan meskipun mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang menurut mereka penting. Ini karena mereka memburu sasaran-sasaran yang salah. Satu-satunya cara agar hidup ini menjadi bermakna adalah mengabdikan diri untuk menyayangi orang lain, mengabdikan diri bagi masyarakat di sekitar kita, dan mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu yang memberi kita tujuan serta makna.” (hlm. 46)

 

Kelas Hari Selasa bersama Morrie Sang Profesor Kehidupan :

Ada 14 kisah yang dihimpun dari keempat belas minggu yang dihabiskan Mitch Albom bersama profesornya, Morrie. Ia ingin menemani Morrie menikmati sisa hidupnya dengan berbagi pengalaman dan kebijakan hidup. Mereka membahas tentang dunia, mengasihanid iri sendiri, penyesalan diri, tentang kematian, tentang keluarga, emosi, menjadi tua, tentang uang, cinta yang tak padam, perkawinan, budaya, maaf, hari yang paling baik, dan kata perpisahan.

Mitch Albom sangat kagum dengan profesornya karena daya juangnya sangat kuat. Lelaki itu tak pernah mengeluh, ia juga membiarkan orang lain datang dalam hidupnya dan memberi mereka cinta. Menjadikan mereka sahabat dan saling berbagi kisah.

Mitch Albom sangat tersentuh saat profesornya memberitahu dirinya bahwa ia sangat senang jika mereka bersahabat. Itu adalah saat di mana Mitch mulai membuka diri dengan dosennya, saling berbagi mimpi dan menghabiskan waktu bersama sejak masa kuliahnya.

 

“Kuharap kau suatu hari dapat menganggapku sebagai sahabatmu.” (hlm. 27)

 

Saat membaca buku Tuesdays With Morrie karya Mitch Albom, saya jadi teringat dengan salah satu dosen yang menjadi kepala jurusan saya. Saya ingat karena beliaulah yang paling sering berbagi kisah di grup whatsapp alumni. Saya pikir, seperti itulah Morrie, mirip dengan dosen saya itu. Beberapa teman masih sering mengunjungi beliau dan bertanya kabar. Saling kontak satu sama lain.

 

Dulu saya pikir, ketika kuliah sudah selesai, ya sudah. Sebagian interaksi dengan orang-orang di kampus sudah selesai seiring dengan selesainya masa perkuliahan. Tapi interaksi Mitch Albom dan Morrie sangat mendalam dan dekat sebagai sahabat. Itu mengingatkan saya untuk menjadi lebih manusiawi. Dosen bukan hanya orang yang dikenal dekat saat di kampus untuk urusan perkuliahan saja, tapi mereka juga manusia yang butuh bercerita juga.

 

Saya pikir banyak juga orang yang telah kehilangan esensi hidup itu sendiri. Berburu kesenangan dunia, berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan satu dengan pekerjaan yang lain. Well ya… hingga lupa menikmati hidup itu sendiri. Saya tertegun saat membaca kisah Morrie yang lebih memilih menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan orang yang dikenalnya, alih-alih menonton televisi atau mengomentari gossip artis yang tidak penting. Morrie menjalani hidup dengan penuh, tanpa meninggalkan esensi hidup itu sendiri. Bahwa hidupnya harus bermakna bagi dirinya dan orang lain.

 

Baca juga : Resensi Buku The Time Keeper : Perjalanan Sang Penjaga Waktu


Morrie juga berkisah, ia hanya menonton acara Oprah Winfrey satu kali saja, selebihnya ia habiskan hidupnya untuk sesuatu yang lebih berguna. Terkoneksi langsung dengan manusia. Ya, Morrie memang dosen sosiologi, tapi lebih dari gelar yang disandangnya sebagai mahaguru, Morrie telah membuktikan bahwa manusia adalah manusia yang butuh saling terhubung.

 

Kisah Inspirasi dari Sang Profesor Menjelang Kematiannya

 

Buku ini bukan hanya berkisah tentang Morrie, tapi juga berbagi tentang apa itu kehidupan. Saat membacanya saya tersadar bahwa hidup itu sendiri sangat berharga. Proses kematian yang dialami oleh Morrie memang tak singkat, ia menjalani 14 pekan yang berharga dengan Mitch. Rekaman demi rekaman masih tersimpan hingga meninggalkan pelajaran berharga. Morrie telah meninggal, tapi hidupnya telah bermanfaat bari orang lain.

 

Saya tertegun saat membaca bab demi bab dalam buku Tuesday With Morrie ini. Mitch Albom telah menemukan kehidupan yang ingin ia perjuangkan.  Agar ia bisa meneruskan nilai-nilai yang telah diajarkan oleh dosennya. Tentang kesederhanaan hidup, tentang perjuangan, tentang keberanian, tentang menjadi bermakna, dan itulah yang ia tuliskan selama ini dalam beberapa buku yang ia tulis.


Baca juga : Resensi Buku : For One More Day - Mitch Albom

 

Sebagian besar buku Mitch Albom yang telah saya baca berkisah tentang memaknai kematian, cinta, waktu, dan tindakan yang kita lakukan untuk kehidupan kita di masa yang akan datang. Waktu tak akan berpindah, tak akan kembali, tapi waktu yang singkat bisa kita manfaatkan untuk hal-hal baik yang bisa kita teruskan ke generasi berikutnya.

 

Buku Tuesdays With Morrie karya Mitch Albom ini akan sangat bermakna dan membekas di hati dan pikiranmu jika kamu membacanya dalam kondisi sedang butuh inspirasi. Buku ini akan memberikan gambaran betapa kita ternyata kadang lupa untuk mensyukuri apa yang kita miliki. Padahal waktu dan kesempatan tak akan berputar kembali, jadi, cintailah apa yang ada di sekitarmu, sebelum semuanya menghilang. Overall, 4 bintang untuk novel ini. Nah, kalau kamu, apa sudah pernah membaca buku ini? Share dong di komentar. ;)

 

Tuesdays With Morrie Quotes :

Berikut ini adalah beberapa quotes dari buku Tuesdays With Morrie yang ditulis oleh Mitch Albom. Simak ya! ;)


“Alangkah baiknya bila orang dapat menahan diri untuk tidak menangisi diri berkepanjangan. Cukup beberapa tetep air mata setiap pagi, kemudian menghadapi hari dengan tegar.” (hlm. 61)

 

“Terima apa pun yang sanggup kau kerjakan dan apa pun yang tak sanggup kaukerjakan.”

“Terimalah masa lalu sebagai masa lalu, tak usah menyangkal dan menyingkirkannya.”

“Belajarlah memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain.”

 

“Tak ada istilah terlambat untuk mulai.” (hlm. 21)

“Yang paling penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita, dan membiarkan cinta itu datang.” (hlm. 55)



No comments:

Post a comment

Silahkan tinggalkan komentar. Terimakasih sudah berkunjung ya. ^_^